Penulis: Fityan
TVRINews - Jakarta
Saham Perbankan Ramai, Investor Kembali Optimis
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil memutus tren negatif tiga hari beruntun dengan dibuka di zona hijau pada perdagangan Kamis pagi 23 April 2026.
Berdasarkan data bursa, indeks naik 0,30% atau bertambah 22,80 poin ke posisi 7.564,41.
Aktivitas pasar menunjukkan optimisme awal dengan 291 saham bergerak menguat, sementara 58 saham terkoreksi dan 297 lainnya stagnan.
Nilai kapitalisasi pasar melonjak ke angka Rp13.565 triliun, didorong oleh volume transaksi yang mencapai 493,93 juta lembar saham pada menit-menit awal pembukaan.
Sektor perbankan kembali menjadi motor penggerak utama. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) tercatat sebagai instrumen yang paling aktif diperdagangkan, bersanding dengan emiten pelayaran PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL).
Katalis Regional dan Intervensi Kebijakan
Sentimen positif mengalir dari bursa regional yang merilis data, Indeks Nikkei 225 Jepang mencetak sejarah dengan menembus angka 60.013,98, sementara Kospi Korea Selatan melesat 1,75%. Penguatan ini mengekor performa Wall Street semalam, di mana Nasdaq dan S&P 500 mencapai rekor tertinggi baru menyusul perkembangan diplomasi di Timur Tengah.
Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah antisipatif guna meredam volatilitas pasar.
Dalam pengumumannya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan konsistensi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75%.
"Keputusan ini konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat eskalasi ketegangan di Timur Tengah," ujar Perry dalam konferensi pers daring, Rabu 22 April 2026.
Ancaman dari Sisi Komoditas dan Dolar
Meski IHSG menguat, pelaku pasar tetap mewaspadai tekanan dari pasar komoditas. Harga minyak mentah jenis Brent kembali melampaui ambang batas psikologis di level US$ 101,91 per barel menyusul laporan blokade di Selat Hormuz oleh Iran.
Kenaikan harga energi ini secara linear memicu penguatan indeks dolar AS ke posisi 98,59. Fenomena safe haven ini berisiko memicu keluarnya arus modal (outflow) dari pasar berkembang (emerging markets), yang berpotensi menekan stabilitas Rupiah di tengah reli bursa saham.
Kondisi geopolitik tetap menjadi variabel yang sulit diprediksi. Di satu sisi, perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan Presiden AS Donald Trump memberikan nafas bagi investor teknologi di Asia.
Namun, di sisi lain, ketidakhadiran negosiator Teheran dalam pembicaraan damai dan penyitaan kapal kontainer di jalur maritim strategis masih membayangi prospek pemulihan ekonomi global secara berkelanjutan.
Editor: Redaksi TVRINews





