Sapu-sapu Menguji Kedaulatan Pangan Akuatik Indonesia

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

MENYEPELEKAN persoalan yang dianggap kecil merupakan suatu hal yang biasa di Indonesia. Hal ini terus berulang sampai akhirnya persoalan itu menjadi masif, terstruktur, berdampak besar, dan diributkan masyarakat.

Persoalan ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp.) merupakan salah satunya. Menyebut ikan sapu-sapu tidak lebih dari persoalan “ikan invasif,” berarti melakukan simplifikasi dan terlalu sopan.

Ikan sapu-sapu telah mengambil ruang dan mengubah aturan main ekosistem di sungai, danau, dan waduk. Ikan ini merusak tepian dan dasar sungai serta menyebabkan sedimentasi.

Ikan ini juga bersaing dengan ikan asli untuk mendapatkan ruang dan pangan untuk hidup. Mereka membentuk ulang perairan yang menopang perairan darat (inland fisheries) dan pola makan masyarakat lokal.

Baca juga: Kemenangan Suster Natalia, Saat Integritas Mengetuk Pintu Kekuasaan

Sehingga, persoalan ikan sapu-sapu tidak boleh hanya dilihat sebagai persoalan ekologis saja.

Hal ini harus dilihat sebagai ancaman kedaulatan pangan akuatik Indonesia (Indonesia aquatic food sovereignty).

Kedaulatan pangan akuatik tidak hanya bicara terkait jumlah produksi pangan atau ikan. Ia berbicara mengenai siapa yang mengendalikan sistem pangan akuatik serta spesies apa saja yang masih tinggal dan berperan.

Selain itu, ia mempertanyakan apakah masyarakat lokal masih bisa mengendalikan perairan atau sumber pangan akuatik mereka sendiri.

Oleh sebab itu, kedaulatan pangan akuatik tidak bisa dipisahkan dari ancaman ikan invasif sapu-sapu terhadap perikanan darat di Indonesia.

Sapu-Sapu, Perikanan Darat, dan Kedaulatan Pangan

Perikanan darat sangat krusial bagi ketahanan pangan, pemenuhan gizi, dan mata pencaharian masyarakat lokal.

Namun perikanan darat—menurut Food and Agriculture Organization (FAO)—sangat rentan terhadap berbagai tekanan.

Tekanan tersebut khususnya berupa degradasi lingkungan dan spesies ikan invasif.

Jika spesies ikan invasif tersebar dengan mudahnya dan mampu bertahan di perairan darat, fondasi ekologis yang menjadi tumpuan masyarakat lokal akan melemah.

Hal ini terutama merugikan nelayan kecil yang menggantungkan hidupnya dari menangkap ikan.

Jadi, memahami karakteristik spesies ikan sapu-sapu yang mengancam perikanan darat sangat krusial.

Menurut J. Patoka dan koleganya (2020), ikan sapu-sapu merupakan satu dari dua spesies ilegal asli Amerika Selatan yang keberadaannya telah mapan di perairan darat Indonesia.

Ikan sejenis lele (catfish sirip layar) ini mudah tersebar karena kemampuan reproduksinya tinggi dan sangat toleran dengan kondisi lingkungan yang buruk.

Ikan sapu-sapu mampu bereproduksi sangat efektif karena sekali bertelur bisa memproduksi 18.000 telur.

Mereka juga mampu bertahan hidup di saat spesies ikan lain mati karena ketiadaan air dengan cara mengubur tubuhnya dalam lubang atau sarang lumpur.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Memaknai 49 Kali Kunjungan Luar Negeri Prabowo


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Krisis Energi Landa Eropa, Lufthansa Pangkas 20.000 Penerbangan Imbas Harga Avtur Melonjak
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Kisah Penjual Es Keliling di Jombang Naik Haji, Nabung di Kaleng Biskuit 23 Tahun
• 9 jam lalurctiplus.com
thumb
Kemenimipas Jamin Lelancaran Layanan Selama Penyelenggaraan Haji 2026
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Khofifah Bagikan Bantuan Sembako dan BBM kepada Ratusan Ojol yang Mayoritas Perempuan
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Rupiah Tembus Rp 17.286 per Dolar AS
• 4 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.