Saat Hitungan Jam Menuju Perang: 970 Pon Uranium Iran Picu Ancaman ‘Zaman Batu’ dari Trump!

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam menjelang berakhirnya masa gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua minggu terakhir. Alih-alih mereda, situasi justru menunjukkan eskalasi signifikan, baik di jalur diplomatik maupun militer.

Tenggat Gencatan Senjata Kian Dekat, Ancaman Terbuka dari Trump

Presiden Donald Trump menegaskan bahwa peluang untuk memperpanjang gencatan senjata hampir tidak ada apabila tidak tercapai kesepakatan sebelum tenggat waktu berakhir pada 22 April 2026. Ia juga memastikan bahwa kebijakan blokade terhadap Selat Hormuz akan tetap diberlakukan.

Dalam sejumlah pernyataan publiknya, Trump kembali menekankan sikap keras Washington terhadap program nuklir Iran. Ia menyatakan bahwa Iran “tidak boleh dan tidak akan pernah” memiliki senjata nuklir. Bahkan, ia kembali mengkritik kesepakatan nuklir era Barack Obama sebagai “kesepakatan terburuk”.

Lebih jauh, Trump mengklaim bahwa blokade yang dilakukan AS telah menyebabkan kerugian ekonomi Iran hingga 500 juta dolar AS per hari. Ia juga mengeluarkan peringatan tegas: jika gencatan senjata runtuh, maka infrastruktur vital Iran seperti pembangkit listrik dan jembatan dapat menjadi target serangan militer.

Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa Trump mulai menunjukkan tanda-tanda frustrasi terhadap kebuntuan yang terjadi. Namun, ia tetap siap untuk melanjutkan operasi militer jika situasi menuntut.

Iran Menolak Tekanan: “Bukan Meja Negosiasi, Tapi Meja Penyerahan”

Di pihak lain, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan kritik keras terhadap pendekatan Washington. Melalui pernyataan publik, ia menuduh Amerika Serikat berupaya mengubah meja perundingan menjadi “meja penyerahan diri”.

Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tidak akan menerima negosiasi yang dilakukan di bawah tekanan militer maupun ekonomi. Ia juga mengungkapkan bahwa dalam dua minggu terakhir, Iran telah mempersiapkan langkah-langkah strategis baru di medan konflik.

Pernyataan ini mencerminkan sikap tegas Teheran yang menolak kompromi dalam kondisi yang dianggap merugikan kedaulatan nasional.

Pergeseran Kekuasaan di Iran: Garda Revolusi Ambil Alih

Analis militer Zhou Ziding menilai bahwa saat ini tengah terjadi perubahan signifikan dalam struktur kekuasaan Iran. Menurutnya, Garda Revolusi Iran secara bertahap mengambil alih kendali atas kebijakan militer dan negosiasi.

Kelompok moderat, termasuk Menteri Luar Negeri Iran, disebut semakin tersisih dari proses pengambilan keputusan. Dalam kondisi ini, keputusan strategis utama berada di tangan lingkaran kekuasaan tertinggi.

Zhou juga menekankan bahwa sejumlah isu krusial—seperti program nuklir, klausul “sunset”, serta konflik proksi di Timur Tengah—masih belum menemukan titik temu. Hal ini membuat peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat semakin kecil.

Skenario Serangan Iran: Target Energi dan Jalur Pelayaran

Pengamat politik Shi Tao mengungkapkan bahwa pernyataan keras Ghalibaf bukan sekadar retorika eksternal, melainkan juga bentuk tekanan internal.

Ia menyebut bahwa Garda Revolusi telah menyiapkan tiga skenario target strategis, yaitu:

Langkah ini dinilai sebagai kartu tawar militer yang dapat digunakan Iran untuk meningkatkan posisi dalam negosiasi.

Peran Misterius JD Vance: Diplomasi atau Strategi Militer?

Ketidakjelasan posisi Wakil Presiden AS, JD Vance, turut menambah ketidakpastian. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa ia masih berada di Washington, menunggu perkembangan dari pihak Iran.

Namun, menurut Shi Tao, ada kemungkinan bahwa Vance sebenarnya telah berada di lokasi strategis, seperti pangkalan militer AS di sekitar Pakistan, untuk menunggu momentum tertentu.

Ia menilai bahwa kebuntuan yang terjadi saat ini bukanlah stagnasi, melainkan sebuah adu kekuatan penuh tekanan, di mana kedua pihak berusaha menunjukkan dominasi sebelum mencapai titik kompromi.

Insiden Kapal “Tosca”: Konflik Meluas ke Laut

Di tengah ketegangan tersebut, insiden militer kembali terjadi di laut. Militer AS mencegat kapal kargo Iran bernama “Tosca”, yang dilaporkan berangkat dari Tiongkok.

Kapal tersebut menolak mematuhi perintah blokade dan akhirnya dihentikan dengan tembakan. Amerika Serikat mencurigai bahwa kapal tersebut membawa material dual-use, termasuk komponen rudal dan bahan baku propelan roket.

Analis Li Muyang mengungkapkan bahwa kapal tersebut sebelumnya sempat berlabuh di Zhuhai dan diduga mematikan sistem pelacakan otomatis (AIS) untuk menyamarkan aktivitas pengangkutan bahan kimia seperti perklorat—komponen penting dalam bahan bakar rudal.

Iran merespons dengan ancaman balasan. Bahkan, media setempat mengklaim bahwa drone telah digunakan untuk menyerang kapal perang AS, meskipun klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Dampak Global: Bayang-Bayang Tekanan terhadap Tiongkok

Jika dugaan keterlibatan rantai pasokan dari Tiongkok terbukti, maka situasi ini berpotensi memperluas konflik ke ranah geopolitik global.

Amerika Serikat dapat menggunakan temuan tersebut sebagai dasar untuk meningkatkan tekanan terhadap Tiongkok, terutama dalam konteks perdagangan, keamanan, dan hubungan internasional.

Kesimpulan: Menuju Perdamaian atau Eskalasi Besar?

Menjelang berakhirnya gencatan senjata pada 22 April 2026, situasi antara Amerika Serikat dan Iran justru semakin tidak menentu.

Diplomasi yang mandek, ancaman militer terbuka, serta insiden di lapangan menunjukkan bahwa konflik ini telah memasuki fase kritis.

Alih-alih menuju perdamaian, dunia kini menyaksikan pertarungan tekanan antara dua kekuatan besar, yang hasil akhirnya masih sulit diprediksi—apakah akan berujung pada kesepakatan, atau justru membuka babak baru konflik yang lebih luas. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Keluarkan Perpres Pembangunan PSEL, Permudah Investasi, Proyek Energi Sampah Dikebut
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Pemerintah Bidik Pembangunan 2.772 Km Jalur Kereta Api di Kalimantan
• 8 jam lalumatamata.com
thumb
Polda Sumsel Sikat Mafia BBM Subsidi di Musi Rawas, 12 Pelaku Diringkus
• 2 jam laludetik.com
thumb
Perempuan di Profesi Maskulin, Kini Tak Lagi Ragu Jadi Kurir dan Berani Lawan Stigma
• 2 jam laluherstory.co.id
thumb
Klarifikasi Juri Hafiz Quran yang Dilaporkan Kasus Pelecehan 5 Santri
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.