Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menyatakan dukungan terhadap program B50 sebagai bagian dari komitmen industri otomotif dalam mendukung kebijakan pemerintah, khususnya dalam efisiensi energi dan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
“B50 kita mendukung program pemerintah dan itu sudah dilakukan. Sejauh ini hasil sementara yang menunjukkan hal yang cukup bagus. Dan mudah-mudahan ini juga menjadi alternatif tersendiri, karena mungkin B50 ini yang pertama kali di dunia. Dan dengan hasil yang bagus, ini menjadi salah satu trademark tersendiri buat Indonesia,” ujar Kukuh dikutip dari Antara.
Ia menilai, di tengah ketidakpastian global akibat dinamika geopolitik, industri otomotif nasional memiliki pengalaman dalam menghadapi berbagai krisis, mulai dari krisis ekonomi 1998 hingga pandemi COVID-19 pada 2020. Baca Juga:
Daftar Motor yang Disarankan Pakai BBM RON 98
Menurut Kukuh, tantangan seperti gangguan pasokan bahan baku, kenaikan biaya logistik, dan fluktuasi nilai tukar tetap menjadi perhatian. Namun, kolaborasi antar pemangku kepentingan diyakini mampu menjaga ketahanan industri.
Selain itu, pengembangan teknologi kendaraan yang lebih efisien juga menjadi fokus. Tidak hanya elektrifikasi penuh, teknologi hybrid dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) dinilai masih relevan sebagai solusi transisi menuju kendaraan ramah lingkungan.
“PHEV punya potensi untuk terus ditingkatkan, karena itu juga punya peluang untuk menghemat bahan bakar. Jadi sebenarnya, kalau itu kemudian juga dikombinasikan dengan adanya biofuel, itu juga semakin meningkat,” jelasnya.
Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan hasil uji jalan B50 di sektor otomotif berjalan dengan baik. Bahan bakar nabati (BBN) tersebut dinilai telah memenuhi spesifikasi teknis yang dipersyaratkan. Baca Juga:
Berapa Lama Baterai Mobil Listrik Awet Dipakai?
"Kalau performa mesin, tadi dari laporannya tim teknis itu sesuai spesifikasi," ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi saat ditemui di Lembang, Jawa Barat, Selasa (21/4).
Eniya menjelaskan, hasil tersebut juga didukung oleh laporan dari perusahaan otomotif yang terlibat dalam uji coba B50.
Secara teknis, kualitas B50 memenuhi standar dengan kandungan FAME sebesar 49-50 persen. Selain itu, parameter penting seperti kadar air, monogliserida, dan stabilitas oksidasi berada dalam batas yang ditentukan.
Kadar air pada B50 tercatat maksimal 300 ppm, lebih rendah dibandingkan standar B40 yang mencapai 320 ppm. Hal ini menunjukkan peningkatan kualitas bahan bakar sesuai rekomendasi Komite Teknis Bioenergi Cair.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)





