JAKARTA, DISWAY.ID -- Di tengah peringatan Hari Kartini pada 21 April, kisah Prof. Dr. Nyayu Khodijah hadir sebagai cermin perempuan Indonesia masa kini yang teguh menapaki karier di dunia akademisi dan birokrasi tanpa menanggalkan peran sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya.
Baginya, keberhasilan dalam karier bukan semata soal jabatan tinggi di lembaga pendidikan mapun di kementerian, tetapi tentang bagaimana tetap pulang dengan utuh kepada keluarga, tanpa membawa beban pekerjaan ke ruang-ruang hangat di dalam rumah.
Sejak dipercaya menjabat sebagai Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Ditjen Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama pada Desember 2024, Nyayu Khodijah memikul tanggung jawab besar dalam mengawal mutu pendidikan madrasah di Indonesia.
BACA JUGA:Edukasi 'Zen on Wheels', Tenang Berkendara ala Kartini Masa Kini
Namun jauh sebelum itu, ia telah ditempa sebagai akademisi dan pemimpin saat menjabat Rektor UIN Raden Fatah Palembang periode 2020–2024. Di dua dunia itu, kampus dan birokrasi, ia dikenal sebagai sosok yang tegas sekaligus hangat, rasional sekaligus penuh empati.
Di balik kesibukan tersebut, ada prinsip sederhana yang ia pegang teguh yakni, waktu harus punya batas yang jelas. Pekerjaan adalah amanah yang harus dituntaskan secara profesional, tetapi keluarga adalah ruang yang tidak boleh diganggu.
Karena itu, perempuan kelahiran Palembang 25 Agustus 1970 ini lebih memilih menyelesaikan tugas kantor hingga tuntas sebelum pulang, meski harus meninggalkan kantor lebih larut. “Saat saya di rumah, itu adalah hak keluarga,” begitu prinsip yang ia jalani. Tidak ada rapat, tidak ada berkas, apalagi urusan kantor yang dibawa pulang.
Baginya, rumah adalah tempat kembali sepenuhnya menjadi ibu yang hadir, istri yang mendampingi, bukan sekadar sosok yang fisiknya ada tetapi pikirannya tertinggal di meja kerja. Bahkan, ia dengan tegas menolak jika ada urusan pekerjaan yang dibawa ke rumah. Semua harus selesai di kantor, agar tidak mengurangi kualitas kebersamaan dengan keluarga.
BACA JUGA:Semarak Kartini, FIFGROUP Hadirkan Aktivasi Seru di MRT Blok M untuk Perempuan
Sebagai istri, ia tak menempatkan dirinya sebagai sosok sempurna. Ibu tiga anak dan 2 cucu ini mengakui tidak memiliki keterampilan memasak seperti kebanyakan perempuan Palembang. Namun, baginya, esensi menjadi istri bukan pada kesempurnaan teknis, melainkan pada komitmen, penghormatan, dan komunikasi yang sehat.
Ia tetap menyampaikan pendapat dengan argumentasi logis, namun tetap menempatkan suami sebagai pemimpin dalam keluarga. Dalam hal-hal sederhana pun, seperti memilih pakaian, ia lebih percaya pada pandangan suaminya—sebuah bentuk kepercayaan yang dibangun dari relasi yang saling menghargai.
Peran sebagai ibu dijalaninya dengan kesadaran penuh. Ia percaya bahwa lima tahun pertama kehidupan anak adalah fase krusial dalam pembentukan nilai dan akhlak. Karena itu, ia tidak pernah sepenuhnya menyerahkan pengasuhan kepada orang lain.
Baginya, anak adalah amanah yang tak ternilai, jauh melampaui harta apa pun. Pendidikan tinggi yang ia miliki, menurutnya, harus pertama-tama memberi manfaat bagi keluarganya sendiri.
BACA JUGA:Dari Dapur ke Digital: Kartini Masa Kini Didorong Platform Jasa Rumah Tangga
- 1
- 2
- 3
- »





