Bisnis.com, JAKARTA – Manajer investasi asal Kanada, Manulife Investment Management, mengapresiasi reformasi yang sedang berjalan di pasar modal RI.
Sejumlah kebijakan seperti menaikkan porsi saham free float menjadi 15% hingga pengungkapan data saham berkonsentrasi tinggi disebut akan membuat praktik di pasar modal lebih sehat.
Paul Lorentz, President & CEO Global Wealth and Asset Management Manulife Investment Management, menjelaskan langkah-langkah yang diambil regulator di pasar saham RI terkait dengan transparansi saham merupakan hal yang tepat untuk membangun kepercayaan investor asing.
"Bagi kami, peringkat yang kuat dalam jangka panjang itu penting karena dapat meningkatkan kepercayaan investor asing," kata Lorentz dalam wawancara terbatas di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Dia memaparkan investor asing pada dasarnya menginginkan tiga hal. Pertama, kejelasan aturan dan struktur pasar. Kedua, pasar yang didorong oleh pertumbuhan fundamental, bukan stimulus jangka pendek. Ketiga, kerangka pasar modal yang transparan sehingga investor yakin dengan likuiditas dan mekanisme pasar.
Adapun, Lorentz mengakui salah satu kekhawatiran investor asing di Indonesia adalah soal likuiditas saham. Hal itu terlihat ketika saham terlihat likuid namun ternyata sulit ditransaksikan karena kepemilikan yang terkonsentrasi dan memiliki free float rendah.
Bursa Efek Indonesia (BEI) baru-baru ini menerapkan aturan baru untuk saham yang beredar di publik atau free float ditetapkan minimal 15%. Selain itu, regulator juga mengungkapkan data kepemilikan saham dengan konsentrasi tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) di atas 1%.
Dengan kebijakan anyar itu, Lorentz menyebut likuiditas di pasar akan semakin tinggi dan akhirnya akan meningkatkan kepercayaan investor asing untuk kembali ke pasar Indonesia.
Untuk pengelolaan investasi di Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Lorentz mengakui akan ada dampak dari reformasi pasar modal terhadap produk reksa dana besutan perseroan. Namun demikian, tekanan itu diharapkan tidak terlalu besar karena basis investor MAMI yang kuat dari domestik.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





