Ciptakan Perangkat Deteksi ADHD, Siswa SMA Boyong Medali Emas di Malaysia

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Tim gabungan siswa SMA dari Yogyakarta, Surakarta, dan Sukoharjo meraih medali emas dalam ajang Malaysia Technology Expo 2026 yang diselenggarakan pada awal April lalu. Tim tersebut membuat perangkat lunak untuk mendeteksi gangguan kesehatan mental ADHD dan terapinya.

Tim terdiri atas tujuh siswa kelas X-XI yang berasal dari empat sekolah. Mereka adalah Maheswara Nala Wisadewa (17), Farek Ibrahimiya Whisnuwardana (16), Amelia Fahima Atlatar (17), dan Jordan Oliver Adhiwinara (15) dari SMAN 5 Yogyakarta.

Selain itu, Jiwa Pertama Nugroho (16) dari SMAN 6 Yogyakarta, Clara Letitia Olivia Gunawan (15) dari SMAN 1 Kartasura (Sukoharjo), dan Raina Pio Aurelia Santosa (16) dari SMA Regina Pacis Surakarta. Mereka dibimbing seorang mentor, yakni Anggi Susanti.

Maheswara, ketua tim, mengatakan, ini pertama kalinya para anggota tim mengikuti ajang perlombaan inovasi teknologi di luar negeri. Sebelumnya, sejumlah anggota tim kerap mengikuti ajang bertema serupa di dalam negeri, termasuk Indonesia Inventors Day.

Malaysia Technology Expo (MTE) adalah ajang internasional tahunan riset dan inovasi teknologi yang diikuti peneliti, pelajar, mahasiswa, ilmuwan, dan dunia usaha. Ajang ini telah berjalan selama 25 tahun terakhir di Kuala Lumpur dan tahun ini digelar pada 9-11 April 2026.

Tim mengikuti lomba Asia Youth Innovation Awards (AYIA) kategori yunior (pelajar tingkat SMP-SMA). ”Kategori itu diikuti sekitar 150 tim dari berbagai negara,” ujar Maheswara saat ditemui bersama tim di Yogyakarta, Senin (20/4/2026).

Karena itu, kami berupaya membantu memberikan solusi dengan teknologi ini.

Dalam perlombaan ini, tim menciptakan perangkat bernama Olyra. Perangkat itu menggabungkan kerja perangkat keras (hardware) pabrikan berupa headband pembaca aktivitas otak dengan perangkat lunak (software) ciptaan sendiri.

Perangkat itu digunakan untuk mendeteksi gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas atau populer disebut ADHD (attention deficit/hyperactivity disorder). Gejalanya biasanya meliputi sulit fokus, sukar mengatur prioritas, hiperaktivitas, sering lupa, hingga berat menahan emosi.

Amelia menjelaskan, sebelum membuat Olyra, tim melakukan riset di jurnal-jurnal ilmiah, baik dalam maupun luar negeri. Persoalan kesehatan mental ini pun dirasakan sangat dekat dengan generasi muda yang banyak mengalami kondisi tersebut.

Dari riset itu, ditemukan data bahwa sekitar 20 persen anak muda di Indonesia memiliki ADHD. ”Karena itu, kami berupaya membantu memberikan solusi dengan teknologi ini,” kata Amelia.

Baca JugaMengenali dan Menggali Potensi pada ADHD Dewasa

Lantas, bagaimana cara kerjanya?

Farek menjelaskan, headband yang dipasang di kepala akan membaca gelombang otak mikro melalui sensor elektroensefalografi (EEG). Headband itu juga memiliki sensor untuk membaca detak jantung pengguna.

Hasil bacaan headband kemudian dihubungkan dengan perangkat lunak Olyra melalui bluetooth. Perangkat lunak itu berbasis situs dan aplikasi yang bisa diakses melalui laptop, ponsel, atau gawai telekomunikasi lainnya.

Gambaran aktivitas otak tersebut pun muncul di layar aplikasi secara real-time. Olyra menganalisis data yang diterimanya itu dengan bantuan akal imitasi (AI), lalu menampilkan hasilnya dalam tiga kategori warna grafik.

Baca JugaADHD dan Tantangan Penanganan yang Masih Terbatas

Warna hijau berarti normal, sedangkan oranye berarti pengguna sedang stres/panik/lelah atau berpikir keras. Adapun merah masuk kategori memiliki potensi ADHD. ”Namun, kategori merah ini tidak mutlak. Artinya, tetap harus dikonsultasikan lebih lanjut ke dokter ahlinya,” ucap Farek.

Setelah mendapat kepastian diagnosis secara medis, Olyra juga dapat dipakai sebagai salah satu metode terapi ADHD. Olyra menggunakan bantuan musik atau latar suara tertentu untuk membantu fokus otak.

”Kami juga sedang mengembangkan gim untuk anak-anak dalam membantu fokus,” ujar Jordan, anggota tim lainnya.

Maheswara mengatakan, perencanaan dan pembuatan alat ini dilakukan sejak Desember 2025 hingga April 2026. Setiap anggota tim mendanai pembuatan alat itu dari kocek sendiri, termasuk biaya mengikuti lomba.

Baca JugaADHD di Sekitar Kita, Ini Cara Mendukungnya

Dia menambahkan, Olyra sangat memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut secara komersial agar bisa diakses masyarakat umum. Kerja sama pun tengah digodok dengan sejumlah kampus dan kalangan industri teknologi.

Harapannya, inovasi ini tak berhenti di kompetisi, tetapi bisa berkontribusi terhadap penyelesaian masalah riil yang dihadapi orang banyak.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Awal Mula Ruben Onsu Diduga Jadi Korban Penipuan Bisnis Mukena Rp5,5 Miliar
• 22 jam laluintipseleb.com
thumb
Siap Kembali Berperang, Iran Tegaskan akan Beri Pelajaran Lebih Keras kepada Amerika-Israel
• 18 jam laluharianfajar
thumb
Hakim Mendadak Percepat Jadwal Sidang, Kubu Nadiem Makarim Surati MA hingga DPR RI
• 20 jam laluokezone.com
thumb
Produksi Tebu Cirebon Naik di Tengah Lonjakan Harga Gula Pasir
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Bertambah, Pasukan Perdamaian dari Prancis Tewas di Lebanon
• 20 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.