Oleh Nur Hasan Murtiaji, penulis adalah Pemerhati Lingkungan dan Ekoteologi, serta Ketua Muslim for Shared Action on Climate Impact (MOSAIC)
Ketergantungan Indonesia pada minyak mentah membawa risiko yang sangat besar. Konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran yang berdampak salah satunya pada penutupan akses di Selat Hormuz menjadi bukti akan hal ini. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan stabilitas ekonomi nasional menghadang di depan mata masyarakat Indonesia.
Kita perlu menyadari bahwa Selat Hormuz merupakan urat nadi bagi bahan baku beragam produk turunan. Dampaknya tidak semata-mata berhenti pada tangki BBM kendaraan.
Kenaikan harga plastik dan bahan kimia belakangan ini misalnya, adalah dampak nyata dari terhambatnya pasokan energi global tersebut
Kenaikan harga bahan baku ini kemudian menciptakan efek domino yang memukul para pelaku usaha, bahkan hingga tingkat mikro. Kondisi ini membuktikan bahwa ketergantungan pada energi fosil yang dikendalikan pasar global sangatlah riskan. Sudah saatnya kita menoleh pada potensi energi bersih yang berlimpah di atas kita sinar matahari.
Baca Juga: Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Dibuka Meski Gencatan Senjata Diperpanjang, Sebut Gegara AS-Israel
Modal Besar Garis Khatulistiwa
Kita melupakan satu modal besar yang dimiliki Indonesia ini. Sebagai negara tropis yang berada di bawah garis khatulistiwa, Indonesia memiliki curahan sinar matahari sepanjang tahun yang konsisten. Setiap hari, selama setidaknya 12 jam sinar matahari melimpah di Indonesia.
Baik di musim hujan maupun kemarau, atap-atap bangunan di Indonesia terpapar sinar matahari secara terus-menerus. Hal ini tentu sangat berbeda dengan negara empat musim, yang harus mengalami kekurangan sinar matahari di waktu tertentu.
Potensi ini menjadi semakin nyata jika kita menengok data Dewan Masjid Indonesia yang mencatat ada sekitar 900.000 masjid dan musala tersebar hingga ke pelosok Nusantara.
Bayangkan betapa luasnya hamparan atap yang tersedia untuk menangkap energi bersih tersebut. Belum lagi ditambah dengan ribuan atap pesantren serta sekolah-sekolah Islam yang memiliki kapasitas serupa.
Jika seluruh atap ini dimanfaatkan, masjid-masjid kita tidak lagi sekadar menjadi konsumen energi yang membebani biaya operasional rutin. Melalui instalasi panel surya, rumah ibadah bertransformasi menjadi produsen energi mandiri. Dana yang selama ini habis untuk membayar tagihan listrik pun dapat dialihkan untuk program pemberdayaan umat dan pendidikan yang jauh lebih berdampak luas.
Melampaui Filantropi Tradisional
Permasalahan dalam transisi energi bukan pada teknologi, tetapi pembiayaan. Data menunjukkan bahwa untuk mencapai target energi bersih, Indonesia membutuhkan investasi yang besar, dengan angka yang mustahil jika hanya mengandalkan APBN.
Penulis : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- selat hormuz
- perang iran as
- panel surya
- masjid
- energi bersih indonesia
- transisi energi rumah ibadah





