Dunia sedang menghadapi risiko darurat pupuk akibat penutupan Selat Hormuz. Di tengah situasi itu, Indonesia justru berencana mengeskpor sekitar 1 juta ton pupuk urea ke lima negara. Mampukah?
Perang antara Amerika-Serikat-Israel versus Iran yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 berimplikasi pada penutupan Selat Hormuz. Padahal, selat di kawasan Timur Tengah itu menjadi tumpuan sekitar 33 persen atau 3 juta-4 juta ton pupuk dan bahan baku pupuk dunia.
Pemblokiran selat itu juga menghambat perdagangan sekitar 20-25 persen gas alam dunia. Padahal, gas alam merupakan salah satu bahan baku pupuk sekaligus sumber energi sebagian besar pabrik pupuk dunia.
Senior Vice President (SVP) Strategi Pemasaran PT Pupuk Indonesia (Persero), Junianto Simaremare, Rabu (22/4/2026), mengatakan, sejumlah negara di Timur Tengah merupakan produsen dan eksportir sejumlah pupuk dan bahan baku pupuk dunia. Iran dan Saudi Arabia, misalnya, berkontribusi terhadap pupuk urea dunia masing-masing sekitar 16 persen dan 11 persen.
Iran menyumbang sekitar 26 persen pupuk batuan fosfat alam (rock phosphate) dunia. Sementara Saudi Arabia dan Qatar merupakan produsen sulfur dunia dengan kontrbusi masing-masing sekitar 14 persen dan 11 persen.
“Maka tidak mengherankan jika penutupan Selat Hormuz menghambat suplai pupuk dan bahan baku pupuk dunia. Harga pupuk dunia juga naik,” ujarnya dalam webinar “Dampak Geopolitik Global terhadap Sektor Pertanian dan Pupuk Nasional” yang digelar SINTA TV di Jakarta.
Merujuk Data Harga Komoditas Bank Dunia (The Pink Sheet) yang dirilis pada 1 April 2026, harga pupuk urea naik dari 472 dolar AS per ton pada Februari 2026 menjadi 725,6 dolar AS per ton pada Maret 2026. Dalam perbandingan yang sama, harga pupuk fosfor (DAP) juga naik dari 626,5 dolar AS per ton menjadi 658,3 dolar AS per ton.
Hal ini menyebabkan indeks harga pupuk dunia meningkat secara signifikan. Indeks harga pupuk dunia yang pada Februari 2026 sebesar 145 telah meningkat menjadi 183 pada 2026.
Di tengah situasi itu, Indonesia berencana mengekspor sekitar 1 juta ton pupuk urea ke lima negara. Pertimbangan utamanya adalah produksi urea nasional melebihi kebutuhan nasional pupuk berbahan baku gas alam (metana), amoniak, dan karbon dioksida tersebut.
Selain Australia, Indonesia juga tengah memperluas jangkauan pasar ekspor pupuk dengan menjajaki pengiriman ke sejumlah negara lain, seperti India, Filipina, Thailand, dan Brasil.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menuturkan, Indonesia akan memulai mengekspor 250.000 ton urea ke Australia. Pada Selasa (21/4/2026) sore, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengapresiasi Presiden RI Prabowo Subianto atas persetujuan ekspor pupuk itu melalui telepon.
Selain Australia, Indonesia juga tengah memperluas jangkauan pasar ekspor pupuk dengan menjajaki pengiriman ke sejumlah negara lain, seperti India, Filipina, Thailand, dan Brasil. Total komitmen ekspor urea ke lima negara tersebut sebesar 1 juta ton.
Menurut Teddy, komitmen pemerintah itu merupakan bagian dari penguatan peran Indonesia dalam rantai pasok pupuk dunia. Kebijakan ekspor urea itu dilakukan secara terukur dengan tetap menjaga keseimbangan pasokan dalam negeri seiring kapasitas produksi nasional yang memadai.
“Saat ini, jumlah produksi urea nasional berada di atas kebutuhan dalam negeri. Sesuai data Menteri Pertanian, total produksi urea nasional sebesar 7,8 juta ton dan kebutuhan dalam negeri sekitar 6,3 juta ton,” tuturnya melalui siaran pers.
Sebenarnya, ekspor pupuk bukanlah hal baru bagi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada 2025, Indonesia mengekspor pupuk sebesar 2,148 juta ton, melonjak dari 2024 yang sebanyak 1,704 juta ton. Pada Januari-Februari 2026, total volume ekspornya mencapai 63.234 ton.
Ekspor pupuk tersebut juga menyasar Australia, India, Filipina, dan Thailand. Pada 2025, misalnya, ekspor pupukI Indonesia ke Australia sebanyak 381.084 ton, India 406.571 ton, Filipina 67.186 ton, dan Thailand 32.695 ton. Pada tahun tersebut, Indonesia tidak mengekspor pupuk ke Brasil.
Di samping ekspor, Indonesia juga mengimpor pupuk. Berdasarkan data BPS, total volume impor pupuk Indonesia pada 2025 sebesar 8,355 juta ton. Jumlah itu meningkat cukup signifikan dibandingkan impor pupuk pada 2024 yang sebanyak 7,576 juta ton.
Ketahanan pupuk nasional
PT Pupuk Indonesia mendukung rencana ekspor pupuk urea tersebut di tengah risiko darurat pupuk dunia. Ini mengingatproduksi urea telah melebihi kebutuhan urea nasional dan tidak mengalami kendala bahan baku.
Junianto mengatakan, pada 2026, Pupuk Indonesia menargetkan memproduksi pupuk urea sebanyak 7,9 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 6,4 juta ton digunakan untuk memenuhi kebutuhan pupuk urea nasional. Kebutuhan itu sudah termasuk 4,5 juta ton pupuk urea bersubsidi.
Ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan net importer (pengimpor bersih) urea. Dengan kelebihan produksi urea, Indonesia berpeluang memperkuat perannya sebagai pemasok pupuk tersebut di level internasional.
“Kami juga tidak mengalami kendala pasokan gas alam untuk bahan baku urea dan kebutuhan energi, karena sudah tersedia di dalam negeri,” katanya.
Pada 2026, Pupuk Indonesia menargetkan memproduksi pupuk urea sebanyak 7,9 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 6,4 juta ton digunakan untuk memenuhi kebutuhan pupuk urea nasional, termasuk 4,5 juta ton pupuk urea bersubsidi.
Junianto juga mengungkapkan, suplai bahan baku pupuk lain, seperti kalium (KCL), juga tidak terdampak penutupan Selat Hormuz. Selama ini, Pupuk Indonesia mengimpor kalium dari Rusia, Kanada, dan Belarus.
Untuk rock phosphate, perseroan mendatangkannya dari Yordania, Maroko, dan Mesir. Pasokan bahan baku pupuk itu dari Yordania akan sedikit terpengaruh. Namun, suplai dari Maroko dan Mesir masih sangat mumpuni untuk menutup kebutuhan bahan baku tersebut.
“Adapun sulfur, kami mengimpornya dari Kuwait, Qatar, dan Taiwan dengan kontrak jangka panjang. Suplai bahan baku pupuk NPK dan SP-36 itu tengah terkendala. Kendati begitu, kami telah mencari-cari sumber-sumber baru penggantinya, seperti Kazakhstan dan Uzbekistan,” ungkapnya.
Junianto juga menegaskan, di tengah rencana ekspor urea ke lima negara dan risiko darurat pupuk dunia, Pupuk Indonesia tetap menjamin ketersediaan pupuk di dalam negeri. Hal itu menjadi prioritas perseroan demi tercapainya target swasembada pangan nasional.
Serial Artikel
Awas, ”Badai Sempurna” Pangan Global
”Badai sempurna” berpotensi terjadi jika situasi saat ini juga diperburuk oleh El Niño yang kuat. Dampaknya bakal menyaingi atau melampaui krisis akibat pandemi.
Sementara itu, anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Herman Khaeron mengingatkan, Indonesia tidak bisa tenang-tenang saja menghadapi dampak konflik di Timur Tengah terhadap pasokan pupuk dan bahan baku pupuk. Meskipun mampu memproduksi pupuk sendiri, Indonesia masih mengimpor sebagian besar bahan baku pupuk.
Saat ini, harga bahan baku pupuk dunia naik akibat kendala pasokan dan lonjakan biaya logistik. Hal ini perlu dicermati dan diantisipasi agar kenaikan harga bahan baku pupuk tersebut tidak membebani industri pupuk nasional.
Selain itu, lanjut Khaeron, konflik di Timur Tengah juga menyebabkan harga gas dunia naik. Padahal, gas tersebut dibutuhkan sebagai bahan baku sekaligus sumber energi industri pupuk. Sekitar 60 persen bahan baku pupuk urea adalah gas alam (metana).
“Jika harga gas industri naik, industri pupuk nasional dan industri pengguna lainnya akan semakin tertekan,” katanya.
Khaeron juga yakin pemerintah dan PT Pupuk Indonesia mampu menjaga ketersediaan berbagai jenis pupuk bersubsidi di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Namun, ia berharap ketersediaan berbagai jenis pupuk nonsubsidi atau komersial juga perlu dijaga. Salah satunya dengan menyediakan cadangan pupuk dari surplus pupuk nasional.





