JAKARTA, KOMPAS.TV - Dosen Ilmu Hubungan Internasional (HI) Binus University, Tia Mariatul Kibtiah menilai posisi Amerika Serikat (AS) sudah tidak bagus dalam konteks perang dengan Iran.
Ia menyebut saat ini kondisi domestik AS, ditambah dunia internasional, sudah tidak menunjukkan dukungan kepada pemerintah Donald Trump tersebut.
"Saat ini posisi Amerika Serikat juga sudah tidak bagus dalam berbagai perspektif, dari kondisi domestik di Amerika, dari dukungan internasional, dari negara-negara aliansi," katanya dalam program Sapa Indonesia Pagi KompasTV, Kamis (23/4/2026).
Ia menilai saat ini yang tersisa di sisi AS hanyalah Israel, sementara aliansi AS yang lain sudah tidak menunjukkan dukungan.
Bahkan, Tia menyebut negara-negara teluk atau Gulf Countries yang menjadi harapan terakhir AS untuk ikut dalam perang dengan Iran juga sudah memilih diam.
Baca Juga: Iran Tembaki Tiga Kapal di Selat Hormuz Ketika AS Memperpanjang Gencatan Senjata
Menurutnya, sejak Tiongkok masuk ke area kawasan, pernyataan-pernyataan pimpinan negara Teluk mulai berubah. Dari yang awalnya cukup mendukung AS, kemudian memilih diam atau meminta perang diakhiri segera.
"Artinya memang sudah tidak ada pilihan untuk Amerika Serikat. Ketika Iran tidak mau kembali ke meja perundingan, maka tekanan yang dilakukan adalah dengan menyatakan ceasefire (gencatan senjata) yang tidak ada batas waktu," ucapnya.
Namun, ia menyebut Iran perlu berhati-hati walaupun AS menyatakan gencatan senjata. Ia menilai Presiden AS Donald Trump tidak bisa diprediksi dan tidak bisa dipegang janjinya. Begitu pula Israel yang merupakan sekutu AS.
Jadi, menurutnya bukan hal mustahil pada saat gencatan senjata yang sudah diumumkan tersebut, AS bisa tiba-tiba menyerang Iran kembali.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV, Al Jazeera
- as
- amerika serikat
- iran
- perang
- perang iran
- trump





