Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman optimistis ketahanan pangan nasional, khususnya beras, tetap aman meski Indonesia diprediksi menghadapi fenomena El Nino ekstrem yang dijuluki "Godzilla".
Amran menyebut, kekuatan stok dan produksi dalam negeri saat ini mampu menahan dampak musim kering berkepanjangan yang diperkirakan berlangsung hingga enam bulan.
"Sekarang kita akan menghadapi El Nino Godzilla, yaitu 6 bulan," ujar Amran kepada wartawan saat meninjau beras di gudang JDP Karawang 1 Logistic Park, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026).
Ia memaparkan, cadangan beras pemerintah (CBP) saat ini mencapai 5 juta ton, yang disebut sebagai level tertinggi sepanjang sejarah. Selain itu, stok di sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka), pedagang dan rumah tangga mencapai 12,5 juta ton, serta standing crop atau potensi panen sebesar 11 juta ton.
"Stok kita (CBP) 5 juta ton. Terbesar sepanjang sejarah. Kemudian di Horeka, pedagang dan rumah tangga 12,5 juta ton, standing crop 11 juta ton. Total kalau tidak salah ini 28 juta ton. 28 juta itu setara 11 bulan. Sedangkan kekeringan itu 6 bulan. Artinya aman. Jadi aman kan?" jelasnya.
Menurut Amran, perbandingan antara durasi kekeringan dan daya tahan stok menunjukkan kondisi yang masih terkendali.
Tak hanya mengandalkan stok, pemerintah juga tetap menjaga produksi selama musim kemarau melalui dukungan infrastruktur pertanian, seperti irigasi dan pompanisasi.
"Nah, sekarang pada saat musim kering, kita masih berproduksi 2 juta ton per bulan. Karena ada irigasi. Ada sawah irigasi, pompanisasi jalan, irigasi jalan. Nah, itu berarti 6-12 juta ton. 12 juta ton itu katakan ya bisa untuk stok 4 bulan atau 5 bulan. Berarti bisa sampai April tahun depan kekuatan pangan beras kita. Jadi aman. Karena 11 bulan tambah 4 bulan, ya 15 bulan," terang dia.
Dengan kombinasi stok dan tambahan produksi tersebut, Amran menegaskan Indonesia memiliki bantalan ketahanan beras hingga sekitar 15 bulan ke depan.
Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi Indonesia akan menghadapi fenomena El Nino dengan intensitas kuat atau yang kerap dijuluki "Godzilla" pada tahun ini. Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering, terutama di wilayah barat dan selatan Indonesia.
El Nino sendiri merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator yang berdampak pada penurunan curah hujan di Indonesia. Dalam fase kuat, fenomena ini disebut "Godzilla" karena mampu memicu anomali iklim yang signifikan.
"El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Fenomena El Nino, termasuk potensi variasi kuat 'Godzilla', menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering," tulis Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin, dikutip dari unggahan Instagram resmi @/brin_indonesia, dikutip Selasa (21/4/2026).
(dce) Add as a preferred
source on Google




