JAKARTA, KOMPAS.TV - Guru Besar Politik Timur Tengah UIN Jakarta Ali Munhanif menjelaskan sejumlah faktor yang menghambat perundingan kedua antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Diketahui kedua negara tersebut sudah melakukan perundingan pertama di Islamabad, Pakistan, pada 11-12 April 2026 lalu dan gagal mencapai kesepakatan.
"Jadi sebagaimana kita bisa prediksi bahwa perundingan yang awal itu, yang jeda atau katanya gencatan senjata selama dua minggu, itu sebenarnya sudah bisa diprediksi akan gagal," kata Ali dalam program Sapa Indonesia Pagi KompasTV, Kamis (23/4/2026).
Ia menyebut perundingan pertama gagal mencapai kesepakatan karena 10 poin tuntutan Iran yang mesti dinegosiasikan, dianggap terlalu merugikan pihak AS.
Sebaliknya, kata Ali, pihak AS juga merasa peperangan ini dimenangi Presiden AS Donald Trump dan pasukan militernya.
Baca Juga: Blokade AS Bikin Iran Enggan ke Meja Perundingan, Pengamat Khawatir Dampak Ini ke Indonesia
Menurutnya, kedua negara ingin menarik garis bahwa perundingan tersebut adalah untuk menentukan siapa yang menang, bukan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah atau penutupan Selat Hormuz.
"10 poin (tuntutan Iran) tadi itu sebenarnya ingin menunjukkan bahwa peperangan dimenangkan oleh Iran. Sementara Amerika juga, Trump terutama, ingin mendeklarasikan di dalam negerinya bahwa peperangan ini dimenangkan oleh Amerika," jelas Ali.
Oleh karena itu, menurutnya, kondisi tersebut membuat perundingan putaran kedua sulit terjadi. Ia menyebut kedua pihak sama-sama tidak ingin dikalahkan ataupun dikhianati.
Namun, Ali menilai apa yang terjadi sejauh ini merupakan kesalahan Donald Trump dalam membaca peperangan terhadap Iran sejak awal.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV
- timur tengah
- iran
- amerika serikat
- perundingan as iran
- perang iran
- donald trump





