Lebih dari Tempat Makan, Warteg Jadi Ruang Sosial yang Menyatukan Perantau

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah kota-kota besar yang bergerak cepat dan cenderung terkotak-kotak, warteg hadir sebagai ruang yang tidak pernah benar-benar formal, tetapi justru bekerja kuat dalam kehidupan sosial warganya.

Dari sudut pandang antropologi, warteg bukan sekadar tempat makan murah, melainkan ruang sosial yang hidup, cair, dan penuh interaksi yang sering kali tidak disadari.

Imam Setyobudi, Ketua Jurusan Antropologi Budaya Fakultas Budaya dan Media ISBI Bandung, melihat warteg sebagai fenomena sosial yang kompleks di tengah kota modern.

Ia menekankan bahwa warteg tidak bisa dipahami hanya sebagai aktivitas ekonomi, tetapi sebagai ruang pertemuan manusia dengan latar sosial yang beragam.

“Dalam perspektif antropologi, Warteg bukan sekadar tempat transaksi ekonomi (membeli makanan), melainkan sebuah ruang sosial yang sangat kompleks,” ujar Imam saat dihubungi, Selasa (22/4/2026).

Baca juga: Warteg Kian Menjamur di Jakarta, Ojol hingga Pegawai Kantor Duduk Semeja

Kompleksitas itu terlihat dari bagaimana warteg mampu menghadirkan ruang yang egaliter di tengah kota yang semakin mahal dan tersegmentasi.

Di satu bangku panjang yang sama, orang-orang dengan latar pekerjaan berbeda duduk berdampingan tanpa sekat yang berarti.

“Warteg adalah salah satu dari sedikit tempat di kota besar di mana sekat kelas sosial runtuh. Di bangku panjang yang sama, Anda bisa melihat kuli bangunan, sopir ojek online, mahasiswa, hingga pegawai kantoran berdasi duduk berdampingan,” kata Imam.

KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Seorang pramusaji tengah menyiapkan pesanan pelanggan di tengah kesibukan jam operasional Warteg Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).

Di ruang yang sempit itu, kedekatan fisik menjadi sesuatu yang tak terhindarkan.

Bahu bersentuhan, tangan saling berpapasan, dan jarak antarmanusia menjadi sangat dekat. Namun justru dari situ, batas sosial perlahan mencair.

“Karena ruangnya sempit, terjadi kontak fisik (bersentuhan bahu) yang memaksa adanya pengakuan atas eksistensi orang lain tanpa memandang status ekonomi,” ujar dia.

Dari situ pula interaksi kecil sering muncul tanpa rencana.

Baca juga: Omzet Tembus Rp 2,5 Juta, Begini Cara Warteg Jakarta Bertahan Saat Harga Bahan Naik

Orang yang awalnya tidak saling kenal bisa terlibat dalam percakapan ringan, lalu berkembang menjadi obrolan yang lebih cair tentang kehidupan sehari-hari, pekerjaan, hingga isu-isu yang lebih luas.

Dalam keseharian warteg, tidak ada perlakuan istimewa berdasarkan status sosial.

Kompas.com/Krisda Tiofani Warteg Kharisma Bahari di Perum Bukit Dago, Gunung Sindur, Rabu (22/4/2026).

Semua pelanggan dilayani dengan cara yang sama, tanpa pembeda antara pekerja kantoran, pengemudi ojek online, atau buruh harian.

“Karyawan warteg juga tidak memandang perbedaan status sosial ekonomi dan kelas sosial ekonomi. Semua dilayani sama,” ujar dia.

Di titik ini, warteg bekerja sebagai ruang yang netral, di mana identitas formal seseorang seolah ditanggalkan begitu mereka masuk dan memilih lauk di etalase kaca.

Lebih jauh, Imam menyebut warteg sebagai “ruang ketiga” atau third space, ruang di luar rumah dan tempat kerja.

Di ruang ini, seseorang tidak lagi terikat oleh peran formalnya sehari-hari.

Warteg menjadi tempat singgah sementara dari tekanan hidup kota, dari pekerjaan yang menuntut, hingga ruang tinggal yang sempit.

Baca juga: Alasan Warteg Tetap Jadi Andalan Pekerja Kota: Murah, Cepat, dan Mengenyangkan

Di sana, orang bisa duduk tanpa harus menjadi siapa pun selain dirinya sendiri.

“Warteg menjadi tempat pelarian sementara dari tekanan pekerjaan atau kesempitan kamar kos. Di sini, orang bisa melepaskan atribut formalnya,” tutur dia.

Percakapan yang terjadi di dalamnya pun tidak memiliki pola yang kaku.

Topik bisa berpindah dari harga bahan pokok, keluhan kerja, hingga humor ringan yang muncul di sela-sela makan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Obrolan mengalir santai, mulai dari keluhan harga barang, isu politik terkini, hingga sekadar basa-basi cuaca,” ujar Imam.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kejagung Tegaskan Kasus Videografer Toni Aji Beda dengan Amsal Sitepu
• 9 jam lalukompas.com
thumb
DOKU Ubah Sampah Kantor Jadi Kompos, Target Pangkas Limbah hingga 65 Persen
• 13 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Prediksi PSM Vs Persik di BRI Super League: Bentrokan 2 Tim Angin-anginan
• 12 jam lalubola.com
thumb
Mulai dari Rumah, Ini Gerakan Sederhana Selamatkan Lingkungan
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Harga Minyak di Semarang Merangkak Naik, Pedagang Keluhkan Stok
• 19 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.