Kapal kontainer “Touska” yang berbendera Iran dan berlayar dari Tiongkok menuju pelabuhan Iran, pada 19 April dicegat dan ditembaki oleh kapal perusak Angkatan Laut AS setelah menolak mematuhi perintah blokade. Sumber keamanan maritim menyebutkan bahwa kapal tersebut kemungkinan membawa barang “dual-use” (sipil-militer) yang oleh Washington dianggap dapat digunakan untuk keperluan militer.
EtIndonesia. United States Central Command (CENTCOM) pada 19 April menyatakan bahwa kapal perusak rudal USS Spruance (DDG-111) mencegat kapal “Touska” di Laut Arab bagian utara.
Hingga kini, militer AS belum mengungkap apakah ditemukan muatan tertentu di kapal tersebut. Namun, menurut laporan Reuters pada Senin (20 April) yang mengutip sumber keamanan maritim, “Touska” kemungkinan membawa barang yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan militer.
“Sejak awal, kapal Touska mematikan sistem identifikasi dan berusaha menghindari kapal perang AS, ini menunjukkan besar kemungkinan muatannya bermasalah. Dalam kondisi Iran diblokade, ekspor minyaknya terhambat, sementara mereka membutuhkan banyak komponen dan bahan baku untuk memperkuat produksi rudal atau drone,” ujar peneliti dari Institute for National Defense and Security Research, Shen Mingshi.
Penasihat senior organisasi United Against Nuclear Iran dan mantan perwira Angkatan Laut AS, Charlie Brown, mengatakan bahwa upaya kapal tersebut menerobos blokade menunjukkan bahwa muatannya “bernilai tinggi bagi Iran” dan “layak dipertaruhkan”.
Peneliti lain, Hsieh Pei-hsueh, menambahkan bahwa muatan kapal kemungkinan bersifat sangat sensitif dan tidak mudah digantikan, sehingga Iran bersedia mengambil risiko besar. Ia juga menilai tindakan militer AS akan menimbulkan efek jera dan meningkatkan biaya bagi Iran untuk memperoleh material penting.
Militer Iran menyatakan bahwa kapal tersebut berangkat dari Tiongkok. Berdasarkan data pelayaran, “Touska” pernah singgah di Pelabuhan Gaolan, Zhuhai, untuk memuat barang. Pelabuhan ini dikenal sebagai pusat bongkar muat bahan kimia, termasuk natrium perklorat—prekursor penting untuk bahan bakar roket padat yang dibutuhkan dalam program rudal Iran.
Menurut laporan The Wall Street Journal, kapal “Touska” dimiliki oleh anak perusahaan dari perusahaan pelayaran milik negara Iran Islamic Republic of Iran Shipping Lines, yaitu ROD (Rahbaran Omid Darya), yang rutin berlayar antara Tiongkok dan Iran. Dua kapal lain dari perusahaan yang sama pada 2025 juga pernah mengangkut sekitar 1.000 ton bahan untuk propelan rudal jarak menengah Iran dari Tiongkok.
Seluruh armada perusahaan tersebut diketahui berupaya menghindari sanksi AS dan Uni Eropa untuk mempertahankan perdagangan antara Iran dan negara lain.
Laporan The Washington Post juga menyebut bahwa pada Maret lalu, dua kapal IRISL lainnya, “Shabdis” dan “Barzin”, berangkat dari Pelabuhan Gaolan menuju Iran dengan muatan penuh. Sejak awal tahun ini, lebih dari sepuluh kapal IRISL telah mengunjungi pelabuhan tersebut.
Hsieh Pei-hsueh menilai bahwa frekuensi kunjungan tersebut sudah melampaui skala kasus individual, dan mencerminkan peran Tiongkok dalam konflik AS–Iran. Ia menyebut bahwa karena pelabuhan tersebut berada di bawah yurisdiksi Tiongkok, pihak berwenang sebenarnya memiliki kemampuan untuk menghentikan pengiriman, namun tidak melakukannya.
Setelah kapal “Touska” disita oleh militer AS, pemimpin Tiongkok Xi Jinping melakukan percakapan dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, menyatakan bahwa Tiongkok mendukung gencatan senjata segera dan jalur pelayaran di Selat Hormuz harus tetap terbuka.
Shen Mingshi menilai bahwa komunikasi tersebut juga terkait kepentingan energi, karena jika Iran terus diblokade, Tiongkok perlu mencari pasokan minyak dari negara lain. Selain itu, Arab Saudi merupakan salah satu negara penting dalam upaya diplomasi kawasan.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri PKT, Guo Jiakun, pada 20 April menyatakan keprihatinan atas tindakan AS yang mencegat kapal tersebut. Namun ketika ditanya mengenai muatan kapal, ia tidak memberikan jawaban. (hui)
Disunting oleh Shang Yan – NTDTV.com; Wawancara oleh Chang Chun; Pasca-produksi oleh Gao Yu





