JAKARTA, KOMPAS - Hasil uji laboratorium terbaru menguatkan status ikan sapu-sapu dari sungai di Jakarta yang tidak layak konsumsi karena kandungan timbal melebihi ambang batas aman. Spesies invasif itu juga positif bakteri E-coli dan Salmonella sehingga pemanfaatannya lebih cocok untuk pupuk tanaman nonpangan.
Pemprov Jakarta hingga Kamis (23/4/2026) ini sudah menangkap 10,18 ton ikan sapu-sapu dari saluran air dan sungai. Sebagian besar hasil tangkapan dikubur dalam kondisi mati dan sisanya dibawa ke Balai Riset Budidaya Ikan Hias Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk bahan penelitian pengembangan media kultur budidaya maggot.
Berdasarkan uji laboratorium terungkap bahwa kandungan timbal mencapai 0,365 miligram per kilogram (mg/kg). Artinya, ikan asli Amerika Selatan itu tidak layak konsumsi berdasarkan Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 9 Tahun 2022 tentang Persyaratan Cemaran Logam Berat dalam Pangan Olahan.
"Aturan baku mutunya jelas, timbal harus di bawah 0,3 mg/kg serta wajib negatif E-coli dan Salmonella," ujar Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta, Eny Suparyani.
Sampel penelitian tersebut diambil dari empat lokasi, yakni Jagakarsa, Pancoran, Pintu Air Manggarai, dan Kamal. Kualitas air Sungai Ciliwung pun menunjukkan kandungan timbal, merkuri, dan kadmium lebih dari ambang batas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2025 tentang Baku Mutu Air Limbah dan Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah untuk Air Limbah Domestik.
Kandungan timbal berkisar 0,069–0,102 miligram per liter (mg/L) atau melebihi baku mutu 0,03 mg/L. Demikian pula kandungan merkuri 0,006–0,101 mg/L yang melampaui standar 0,002 mg/L.
Sementara kandungan kadmiumnya 0,031–0,05 mg/L. Ini di atas baku mutu 0,01 mg/L.
"Kami sudah laporkan ke Gubernur Jakarta. Sedang dicari penanganan jangka menengah dan panjang. Kemudian, untuk masyarakat diberikan edukasi agar bijak memilih bahan makanan karena menentukan kesehatan di masa depan," tutur Eny.
Dinas KPKP melalui kanal media sosialnya menyampaikan bahwa kandungan logam berat pada air umumnya berasal dari limbah industri dan domestik, aktivitas perkotaan, serta sedimen sungai yang tercemar. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi biota dan ekosistem hingga logam berat terakumulasi dalam tubuh ikan.
Risiko kesehatan dari konsumsi ikan sapu-sapu yang mengandung logam dan bakteri ialah diare, mual, muntah, sakit perut, demam, dehidrasi, dan risiko lebih serius. Risiko itu bisa berupa gangguan sistem saraf dan otak, penurunan fungsi ginjal, anemia dan gangguan darah, serta penyakit degeneratif jangka panjang.
Ikan sapu-sapu bukan akar masalah rusaknya ekosistem perairan. Spesies ini ujung atau berkembang akibat akumulasi masalah.
Pakar ikan dan konservasi ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Charles PH Simanjuntak menyebut, riset dari hulu di Puncak, Jawa Barat, hingga muara Sungai Ciliwung di utara Jakarta menunjukkan dominasi sebaran ikan sapu-sapu. Ikan tersebut beradaptasi di segala kondisi, mulai dari air yang sangat jernih sampai sangat kotor.
"Memang ada baiknya ikan ini dimatikan dulu sebelum dikubur karena punya daya tahan yang sangat kuat hingga 30 jam di luar air. Namun, ikan ini bisa dimanfaatkan. Diolah menjadi pupuk organik cair khusus tanaman non-pangan," ucap Charles, Kamis.
Memang ada kandungan asam amino dan protein yang tinggi dalam sapu-sapu sehingga sangat potensial untuk dijadikan pupuk. Akan tetapi, sungai di Jakarta tercemar logam berat sehingga berisiko terhadap keamanan tanaman pangan.
Pemprov Jakarta, lanjut Charles, juga bisa mempertimbangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai pengolah pupuk atau penyalur. Ini penting agar tidak timbul masalah baru menyangkut hajat hidup warga.
"Kita bisa memanfaatkan sekaligus mengembangkan ekonomi melalui UMKM pupuk organik. Tetapi, tetap menata sungai harus terintegrasi dari hulu ke hilir. Jangan sampai Jakarta saja yang menangkap ikannya, hulu (Bogor) tidak dijaga," kata Charles.
Penangkapan ikan sapu-sapu secara massal tidak otomatis memulihkan ekosistem perairan di Jakarta. Hal itu merupakan langkah awal dalam perbaikan ekosistem yang rusak sejak lama.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan Jakarta, Hasudungan Sidabalok menyebut, dampak langsung dari penangkapan ikan sapu-sapu antara lain mengurangi jumlahnya sekaligus mengurangi tekanan terhadap ikan lokal.
"Ruang hidup ikan lokal mulai terbuka kembali karena telur tidak lagi dimakan ikan sapu-sapu," ujar Hasudungan.
Selain ikan sapu-sapu, spesies invasif lainnya yang terdeteksi adalah ikan nila dan lele dumbo. Adapun ikan lokal yang jumlahnya nyaris nol adalah tawes, nilem, betok, baung, wader, dan betok.
Hasudungan mengatakan, penangkapan saja tidak cukup tanpa perbaikan kualitas air. Potensi keanekaragaman hayati juga pulih apabila kualitas air diperbaiki. Untuk itu disiapkan langkah jangka panjang pascapenangkapan.
"Pengolahan limbah, normalisasi sungai, pengendalian sampah jangka panjang jadi pemulihan kualitas perairan Jakarta. Ini memerlukan waktu yang panjang dan tidak mudah," ucap Hasudungan.
Charles mengutarakan hal serupa. Penangkapan merupakan upaya penyingkiran secara fisik dengan tujuan pemusnahan. Namun, harus ada restorasi sungai.
"Sungai harus kita jaga. Masyarakat jangan lagi membuang limbah ke sungai. Bukan cuma logam berat yang ada di Ciliwung, tapi juga E-coli dari kotoran manusia. Ini mencerminkan kenyataan sanitasi kita buruk," ujar Charles.
Dinas Lingkungan Hidup Jakarta pada 2025 lalu melaporkan kondisi dua jenis air limbah domestik, yakni black water atau air limbah dari toilet yang mengandung tinja, urine, dan bahan organik; serta grey water yang berasal dari aktivitas mencuci, mandi, dan memasak.
Pengelolaan black water sudah lebih baik daripada grey water berdasarkan inventarisasi beban pencemar di Kali Ciliwung, Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Cideng, dan Kali Grogol. Inventarisasi dilakukan bersama Lembaga Teknologi Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Hasil inventarisasi menunjukkan pengelolaan black water sudah berkisar 95-98 persen. Sementara limbah grey water yang belum terolah masih sangat tinggi, yaitu 95 persen di Kali Ciliwung, 91 persen di Kali Cipinang, 87 persen di Kali Sunter, 62 persen di Kali Cideng, dan 80 persen di Kali Grogol.
"Penyelesaiannya harus terintegrasi dari hulu ke hilir. Harus ada kerja sama lintas wilayah. Kita harus punya roadmap (peta jalan) yang jelas untuk merestorasi fungsi sungai secara bersama-sama," kata Charles.





