Saham emiten minyak dan gas (migas) melesat pada perdagangan Kamis (23/4/2026), seiring lonjakan harga minyak dunia.
IDXChannel – Saham emiten minyak dan gas (migas) melesat pada perdagangan Kamis (23/4/2026), seiring lonjakan harga minyak dunia, di tengah tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun 1,13 persen ke level 7.454 pada sesi siang.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 11.26 WIB, saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) memimpin kenaikan 10,66 persen ke Rp218 per unit, dengan nilai transaksi Rp26,9 miliar.
Di posisi kedua, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melompat 7,94 persen ke Rp2.040 per unit, diikuti PT Elnusa Tbk (ELSA) yang melambung 7,54 persen.
Selanjutnya, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) naik 3,53 persen, PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) 5,26 persen dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) 2,03 persen.
Berbeda, dua emiten milik Happy Hapsoro, RAJA dan RATU kompak melemah 1,03 persen dan 0,72 persen, cenderung terserut koreksi tajam saham-saham big cap konglomerat.
Di pasar global, harga minyak dunia melanjutkan penguatan untuk hari keempat berturut-turut, ditopang meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar.
Kontrak berjangka (futures) minyak Brent tercatat naik 1,3 persen ke level USD103,18 per barel pada Kamis, setelah melonjak 3,5 persen pada sesi sebelumnya dan kembali menembus level psikologis USD100.
Melansir dari Reuters, kenaikan harga terjadi di tengah situasi gencatan senjata yang rapuh di kawasan tersebut. Iran dilaporkan menyita dua kapal kontainer yang hendak keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz, memperketat kontrol atas jalur pelayaran strategis dunia.
Kepala Strategi Pasar ATFX Global Nick Twidale menilai meningkatnya ketegangan mulai mengganggu sentimen investor, seiring aksi penahanan kapal yang meredupkan harapan terhadap kelanjutan pembicaraan damai.
“Pasar sempat melonjak mengikuti kinerja Wall Street, tetapi kemudian terkoreksi sebagai bentuk penyesuaian terhadap realitas yang terjadi di Timur Tengah,” ujarnya.
Sementara itu, Global Investment Strategist Nuveen Laura Cooper menilai pasar selama ini cenderung mengabaikan berbagai risiko. Namun, ia mengingatkan bahwa akumulasi risiko tersebut pada akhirnya dapat menjadi faktor dominan.
“Pasar memang cukup efektif dalam mengabaikan risiko, tetapi daftar risiko terus bertambah. Ketika solusi tak kunjung muncul, tekanan itu bisa menjadi faktor utama yang tak lagi bisa diabaikan,” kata dia. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





