JAKARTA, KOMPAS – Imunostimulasi dan vaksinasi kini menjadi aspek penting dalam akuakultur modern karena membantu meningkatkan daya tahan ikan dan udang, sehingga pencegahan penyakit lebih diutamakan daripada pengobatan. Vaksinasi pada udang juga terbukti secara ilmiah aman dan berpotensi besar untuk digunakan.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University Sri Nuryati mengemukakan, akuakultur yang merupakan kegiatan budidaya, pemeliharaan, dan pemanenan organisme air berkaitan dengan aspek seperti keamanan pangan, kesehatan ikan atau udang, pengelolaan lingkungan, manajemen budidaya, traceability, dan kepatuhan.
“Dalam kondisi itu, penyakit muncul sebagai hasil interaksi tiga faktor utama, yaitu antara inang, lingkungan, dan patogen. Ketidakseimbangan antara ketiga faktor ini menjadi penyebab utama timbulnya penyakit dalam sistem budidaya,” ujarnya dalam konferensi pers pra orasi ilmiah guru besar IPB University secara daring, pada Kamis (23/4/2026).
Menurut Sri, penyakit dalam praktik akuakultur disebabkan bakteri, virus, fungi (jamur), dan parasit. Penyakit dalam akuakultur ini menjadi penyebab utama kerugian, baik secara biologis maupun ekonomi secara global. Bahkan, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperkirakan kerugian ini mencapai rata-rata 6 miliar dolar AS per tahun.
Selama ini pengendalian penyakit umumnya dilakukan dengan penggunaan antibiotik. Namun pendekatan ini memiliki berbagai efek samping, seperti residu pada hewan dan lingkungan, resistensi mikroorganisme, isu keamanan pangan, serta kerugian ekonomi.
“Oleh karena itu, paradigma ini perlu ditinggalkan dan digantikan dengan pendekatan baru, seperti penggunaan imunostimulan dan vaksinasi,” kata Sri menambahkan.
Penyakit muncul sebagai hasil interaksi tiga faktor utama, yaitu antara inang, lingkungan, dan patogen. Ketidakseimbangan antara ketiga faktor ini menjadi penyebab utama timbulnya penyakit dalam sistem budidaya.
Imunostimulan merupakan substansi yang berasal dari bahan alami maupun sintetis yang berfungsi merangsang sistem imun nonspesifik. Sementara vaksin merupakan sediaan biologis yang berasal dari patogen, yang berfungsi merangsang sistem imun. Dua pendekatan ini relatif aman serta mampu meningkatkan kesehatan ikan dan udang.
Salah satu upaya inovatif yang dilakukan Sri dan peneliti lainnya dari Departemen Budidaya Perairan IPB University yakni mengembangkan Imuno FS. Produk ini dapat dikategorikan sebagai fitobiotik karena berasal dari bahan tanaman yang tidak terpakai.
Berdasarkan uji laboratorium, Imuno FS Plus mampu meningkatkan imunitas terhadap Vibrio parahaemolyticus, penyebab penyakit AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease) yang banyak menyerang budidaya udang. Produk ini juga berpotensi melindungi terhadap infeksi IMNV (Infectious Myonecrosis Virus) yang jadi ancaman budidaya udang.
Selain itu, vaksin GP25 dikembangkan sebagai pendekatan lebih spesifik untuk meningkatkan daya tahan ikan dan udang. Vaksinasi juga mulai diterapkan pada udang, yang sebelumnya dianggap tidak dapat divaksin karena hanya memiliki sistem imun nonspesifik.
“Imunostimulasi dan vaksinasi merupakan fondasi penting akuakultur modern. Ini merupakan bentuk inovasi bioteknologi yang penting. Vaksinasi pada udang, meski masih menimbulkan perdebatan, kini mulai menunjukkan bukti ilmiah yang kuat bahwa pendekatan ini layak dan potensial untuk diterapkan,” ungkap Sri.
Selain Sri, dalam acara pra orasi ilmiah tersebut tiga guru besar IPB University lainnya juga memaparkan secara singkat terkait bidang keilmuannya masing-masing. Mereka ialah Kustiariyah dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Hendrayanto dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, serta Dwi Rachmina dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen.
Saat orasi ilmiah pada Sabtu (25/4) di kampus IPB Darmaga, Bogor, Jawa Barat, Kustiariyah akan memaparkan orasi bertajuk “Peran Bioteknologi Kelautan Dalam Mendukung Pembangunan Agromaritim Berkelanjutan”. Kemudian orasi ilmiah yang disampaikan Hendrayanto berjudul “Sawit-Kebun Sawit: Tinjauan Hidrologi Hutan-Daerah Aliran Sungai.”
Sementara Dwi Rachmina akan memaparkan orasi ilmiah dengan judul “Transformasi Pembiayaan Usaha Tani Berbasis Rantai Nilai Menuju Agribisnis yang Efisien, Inklusif, dan Berkelanjutan.” Ia membahas tentang masalah minimnya akses pembiayaan di sektor pertanian karena berbagai faktor hingga sistem yang belum terorganisir.
Menurut Dwi, keterbatasan pendekatan pembiayaan konvensional menjadi salah satu penyebab rendahnya akses pendanaan di sektor pertanian. Skala usaha kecil, tingkat risiko tinggi, dan minimnya informasi harga membuat pembiayaan menjadi mahal, terbatas, serta kerap tidak berkelanjutan.
Oleh karena itu, perubahan mendasar diperlukan dalam sistem pembiayaan. Mengingat masalah ini bersifat struktural, solusi yang ditempuh tak bisa parsial, melainkan harus komprehensif, sehingga upaya seperti menambah alokasi kredit atau sekadar menurunkan suku bunga saja dinilai belum cukup efektif.
“Kami mengusulkan kerangka transformasi pembiayaan usaha tani berbasis rantai nilai. Transformasi ini melibatkan interaksi empat sistem utama, yaitu sistem pembiayaan, sistem rantai nilai, sistem kelembagaan, dan infrastruktur digital,” kata Dwi.
Meski demikian, kerangka ini tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan kebijakan yang memadai. Sejumlah agenda yang diperlukan antara lain memperkuat kelembagaan ekonomi petani, mengembangkan agregator penghubung petani dan pasar, mendorong inovasi instrumen pembiayaan, mempercepat digitalisasi ekosistem agribisnis, serta memperkuat sinergi kelembagaan dalam mitigasi risiko.





