Pantau - Studi besar yang dipublikasikan dalam jurnal medis Neurology mengungkap pola makan berbasis tumbuhan berkualitas dapat menurunkan risiko demensia, gangguan yang memengaruhi ingatan dan kemampuan berpikir.
Hasil Studi dan Temuan UtamaPenelitian ini menganalisis lebih dari 92.000 peserta berusia 45 hingga 75 tahun melalui Studi Kohort Multietnis dengan memantau pola makan mereka selama periode hingga 10 tahun.
Hasilnya menunjukkan bahwa individu yang mengonsumsi makanan nabati dalam jumlah tertinggi memiliki risiko demensia 12 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang mengonsumsi paling sedikit.
Peserta yang menerapkan pola makan nabati sehat seperti biji-bijian utuh, buah, sayur, kacang, dan minyak nabati mengalami penurunan risiko hingga 7 persen.
Sebaliknya, konsumsi makanan nabati tidak sehat seperti makanan olahan, gula tambahan, dan minuman manis justru meningkatkan risiko demensia sebesar 6 persen.
Perubahan Pola Makan Berpengaruh BesarPenelitian juga menemukan perubahan pola makan dalam jangka panjang berdampak signifikan terhadap kesehatan otak.
Peserta yang menurunkan konsumsi makanan nabati sehat mengalami peningkatan risiko demensia hingga 17 persen.
Sementara itu, peningkatan konsumsi makanan nabati tidak sehat dikaitkan dengan lonjakan risiko hingga 25 persen.
Penurunan konsumsi biji-bijian utuh, kacang, minyak nabati, serta teh atau kopi turut meningkatkan risiko antara 11 hingga 15 persen.
Selain itu, konsumsi gula tambahan berlebih meningkatkan risiko sebesar 12 persen, dan penurunan konsumsi telur berkaitan dengan kenaikan risiko hingga 12 persen.
Meski demikian, peneliti mencatat keterbatasan studi karena penggunaan data klaim Medicare dan kuesioner yang bergantung pada ingatan responden.
Temuan ini menegaskan bahwa tidak semua makanan nabati berdampak baik, sehingga kualitas dan kandungan nutrisi tetap menjadi faktor utama dalam menjaga kesehatan otak.




