Rupiah Lanjut Melemah, BI Tingkatkan Intervensi, Airlangga: Kita Monitor

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali dibuka lesu pada awal perdagangan hari ini akibat meningkatnya ketidakpastian perdamaian di Timur Tengah. Bank Indonesia (BI) menegaskan telah meningkatkan intensitas intervensi di pasar, sementara pemerintah menyatakan terus memantau situasi.

Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures pada pukul 09.05, mata uang Garuda dibuka melemah 74 poin atau 0,43% ke level Rp17.255 per dolar AS. Tren depresiasi ini sejalan dengan pelemahan yang melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia.

Tercatat, pelemahan juga dialami oleh dolar Singapura yang turun 0,02%, ringgit Malaysia terkoreksi 0,09%, peso Filipina susut 0,27%, rupee India turun 0,30%, serta baht Thailand dan dolar Taiwan yang masing-masing melemah 0,08% dan 0,02%. Di sisi lain, beberapa mata uang Asia seperti yen Jepang, dolar Hong Kong, won Korea Selatan, dan yuan China masih mampu mencatatkan penguatan tipis.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengakui bahwa tekanan terhadap rupiah sangat dipengaruhi oleh eskalasi ketidakpastian global yang secara merata menekan mata uang regional.

“Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year to date sebesar 3,54%,” ungkap Destry melalui keterangan resmi Departemen Komunikasi BI, Kamis (23/4/2026).

Sebagai respons, dia menyatakan bahwa otoritas moneter terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya dampak konflik Timur Tengah.

Baca Juga

  • Rupiah Dinilai Undervalued, BI Habis-habisan Intervensi hingga Kerek Yield SRBI
  • Proyeksi Hasil RDG April 2026: BI Rate Ditahan Demi Jaga Rupiah?
  • Rupiah Dibuka Melemah Sentuh Rp17.255 per Dolar AS Hari Ini (23/4)

Langkah stabilisasi tersebut dieksekusi melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Destry juga memastikan amunisi bank sentral masih sangat memadai dengan posisi cadangan devisa yang kuat sebesar US$148,2 miliar pada akhir Maret 2026.

"Bank Indonesia senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," tegasnya.

Secara terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons dengan tenang terkait tren pelemahan nilai tukar rupiah. Menurutnya, pemerintah terus memantau pergerakan pasar uang yang saat ini memang tengah dilanda sentimen negatif global.

“Ya kita monitor saja, karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak. Kan itu lihat gejolak global juga, jadi ya kita monitor saja,” ujar Airlangga saat ditanya mengenai penyebab pelemahan rupiah di Kantor BKPM, Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Terkait langkah antisipasi dari sisi pemerintah, mantan menteri perindustrian itu mengaku bahwa pemerintah tidak bisa bersikap reaktif setiap saat dalam menyikapi fluktuasi harian nilai tukar. Dia menyerahkan sepenuhnya mandat stabilisasi rupiah kepada otoritas moneter.

“Kita monitor saja, dan itu BI tugasnya menjaga [stabilitas],” tutupnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Realisasi Investasi RI Kuartal I 2026 Capai Rp 498 Triliun, 24% dari Target
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Harga Energi Naik, Pemerintah Diingatkan Risiko Penyelewengan BBM dan Elpiji Subsidi
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Cara Pemerintah Thailand Rayu Rakyatnya Beralih ke Mobil Listrik, Ada Skema Insentif Tukar Tambah
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Total Nilai Aset Barang yang Dilelang Kejagung BPA Fair 2026 Capai Rp100 Miliar
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
Siapkan 80 Ribu Kilo Liter Avtur untuk Penerbangan Haji 2026, Pertamina Patra Niaga Jamin Pasokan di 14 Embarkasi
• 19 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.