REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG — Bulog memprioritaskan penambahan kapasitas gudang di tiga provinsi utama untuk menampung lonjakan produksi beras. Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat menjadi fokus utama perluasan penyimpanan.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, penambahan kapasitas dilakukan untuk mengejar kebutuhan yang terus meningkat. Langkah ini ditempuh melalui skema sewa gudang sambil menunggu pembangunan permanen.
- Bulog Sumut Intensifkan Koordinasi untuk Jaga Ketersediaan MinyaKita
- Mentan Amran Bersama Mahasiswa Tinjau Gudang Bulog Jawa Timur: Hasilnya Luar Biasa!
- Bulog Buka Kesempatan Masyarakat Cek Stok Beras di Gudang
“Sedang proses. Untuk gudang-gudang besar seperti di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat sudah mulai berjalan untuk mengejar tambahan kapasitas sekitar 1 juta ton,” kata Rizal.
Menurut dia, kebutuhan gudang meningkat seiring produksi beras yang tumbuh cepat. Kapasitas simpan yang tersedia dinilai tidak lagi mencukupi.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Bulog sebelumnya mencadangkan kapasitas sekitar 2 juta ton. Namun, peningkatan produksi mendorong tambahan kebutuhan sekitar 1 juta ton melalui sewa gudang.
“Kalau sewa gudang ini terus bertambah. Kami sebelumnya mencadangkan 2 juta ton. Karena produksi meningkat cepat, kami tambah lagi sekitar 1 juta ton untuk sewa gudang,” kata Rizal.
Pemerintah mencatat stok beras nasional telah melampaui 5 juta ton. Lonjakan ini dipicu peningkatan produksi, termasuk dari program pompanisasi saat musim kemarau.
Di sisi lain, pemerintah menyiapkan pembangunan 100 gudang baru dengan teknologi penyimpanan modern. Teknologi ini dikembangkan untuk memperpanjang daya simpan beras.
“Gudang ini akan mengikuti perkembangan teknologi. Kepala BRIN menyampaikan beras bisa bertahan sampai dua tahun dengan teknologi yang diterapkan di gudang,” kata Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan.
Rizal mengatakan, penerapan teknologi dilakukan bertahap sesuai kesiapan biaya dan infrastruktur. Bulog menyesuaikan implementasi di setiap lokasi.
“Implementasinya bertahap. Harapannya seluruh gudang baru bisa menggunakan teknologi tersebut, tetapi kami menyesuaikan dengan kebutuhan biaya dan kesiapan teknis di lapangan,” kata Rizal.
Pembangunan gudang akan tersebar di 26 kantor wilayah dan 92 kabupaten atau kota. Lokasi diprioritaskan untuk daerah 3T dan sentra produksi pangan.
Selain gudang, proyek ini juga mencakup fasilitas pascapanen seperti dryer, rice milling unit, dan pengemasan. Infrastruktur ini ditujukan untuk mendukung rantai pasok beras.
Total tambahan kapasitas dari 100 gudang diperkirakan mencapai 900.000 ton. Proyek ini telah siap masuk tahap konstruksi dengan melibatkan BUMN karya.




