Bisnis.com,JAKARTA — Porsi surat utang atau obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan Badan Usaha Milik Negara atau BUMN tercatat turun menjadi sekitar 30% pada akhir 2025, dari sekitar 55% selama lima tahun sebelumnya.
Direktur Corporate Ratings APAC Fitch Ratings Indonesia Felita mengatakan penurunan ini tak lepas dari meredupnya aktivitas penerbitan obligasi oleh BUMN konstruksi atau yang dikenal sebagai BUMN Karya. Selama bertahun-tahun, sektor ini menjadi salah satu penerbit paling aktif, baik melalui obligasi konvensional maupun sukuk.
“Ke depan, dengan sentimen investor yang masih cenderung negatif terhadap sektor ini, aktivitas penerbitan obligasi dari BUMN Karya diperkirakan tetap terbatas,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Adapun, dalam beberapa tahun terakhir, BUMN Karya menghadapi tekanan berat, mulai dari kasus gagal bayar hingga proses restrukturisasi utang. Kondisi tersebut membuat penerbitan obligasi dari sektor ini nyaris berhenti pada tahun lalu.
Menurut Felita, sentimen investor masih cenderung negatif terhadap sektor konstruksi pelat merah. Alhasil, pemulihan emisi obligasi dari BUMN ke depannya masih diperkirakan terbatas.
Di sisi lain, sambungnya, BUMN kini memiliki alternatif sumber pendanaan yang lebih fleksibel, terutama melalui pembiayaan dari bank-bank milik negara. Akses ini membuat ketergantungan terhadap pasar obligasi menjadi berkurang.
Seiring dengan itu, peran sektor swasta mulai menguat sebagai motor utama penerbitan obligasi domestik. Dalam jangka menengah, industri pulp dan kertas, telekomunikasi, serta perusahaan menara telekomunikasi diperkirakan akan menjadi pendorong utama pertumbuhan pasar.
Tak kalah penting, sektor komoditas juga semakin dominan. Industri pertambangan logam dan batu bara tercatat menyumbang sekitar 75% dari total penerbitan obligasi domestik sepanjang tahun lalu, mencerminkan tingginya minat investor terhadap sektor berbasis sumber daya alam.
Managing Director Finance Danantara Asset Management Sahala Situmorang juga membenarkan memang ada sedikit penurunan BUMN yang masuk ke pasar untuk mencari pendanaan. Namun, menurutnya, masalah utama BUMN saat ini sebenarnya bukan soal pendanaan, terutama bagi perusahaan yang kinerjanya belum optimal.
Untuk BUMN yang sudah berkinerja baik, dia mencontohkan seperti sektor perbankan atau beberapa perusahaan tambang, model bisnisnya sudah matang. Mereka sudah tahu arah bisnisnya dan bagaimana mendapatkan pendanaan, sehingga cenderung lebih aktif di pasar.
Sebaliknya, untuk BUMN yang belum berkinerja baik, yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah memperbaiki model bisnisnya. Setelah model bisnis jelas, barulah fokus ke peningkatan operasional agar lebih efisien dan unggul. Setelah itu, strategi pendanaan akan mengikuti arah bisnis tersebut.
“Jadi pendekatannya harus sistematis, bukan reaktif. Bukan berarti setiap ada masalah langsung diselesaikan dengan mencari pendanaan. Kami tidak melihat pendanaan sebagai solusi utama. Yang paling penting adalah memperbaiki fondasi bisnis terlebih dahulu,” jelasnya,
Dia menegaskan jika arah utama bisnis perusahaan pelat merah sudah jelas, maka pendanaan akan lebih mudah mengikuti.
“Selain itu, kami di Danantara Asset Management juga memiliki fleksibilitas untuk membantu dari sisi pendanaan jika diperlukan. Harapannya, hal ini bisa mendorong peningkatan kinerja BUMN,” imbuhnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





