Free Float 15% jadi Katalis Dorong Konsolidasi BUMN, IPO Jumbo, dan Likuiditas Pasar

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kebijakan menaikkan porsi saham beredar di publik atau free float minimal 15% dinilai tidak menjadi hambatan bagi aksi korporasi Badan Usaha Milik Negara atau BUMN di pasar modal. Malahan, aturan tersebut justru membuka peluang besar, terutama ketika dikombinasikan dengan langkah konsolidasi.

Direktur Utama Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana menilai kewajiban melepas minimal 15% saham ke publik atau mempertahankan porsi tersebut bagi perusahaan yang sudah tercatat, sebagai peluang ketimbang halangan.

“Menurut saya kebijakan free float 15% ini sangat positif. Ditambah dengan konsolidasi BUMN yang sedang berjalan, serta peningkatan porsi saham publik, hal ini akan membantu memperdalam pasar dan meningkatkan likuiditas, yang sangat baik bagi perkembangan pasar modal kita,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).

Baca Juga : MSCI Akui Reformasi Pasar Modal RI, OJK Genjot Transparansi & Free Float

Adapun, kebijakan free float minimal 15% dari BEI dipandang sebagai katalis positif. Untuk perusahaan BUMN besar, sebut Oki, porsi 15% tersebut berpotensi menghasilkan nilai penghimpunan dana yang signifikan ketika belum melantai di bursa atau pada saat melakukan penawaran perdana saham publik.

Menurutnya investor institusi, baik domestik maupun global, cenderung lebih tertarik pada penawaran saham dengan nilai besar karena dinilai lebih likuid dan stabil. Kebijakan ini juga dinilai mampu memperluas basis investor institusi yang selama ini masih terbatas, sekaligus meningkatkan kedalaman dan likuiditas pasar.

Sisi lain dia menambahkan dengan konsolidasi BUMN membawa dampak signifikan terhadap peningkatan kualitas emiten. Perusahaan pelat merah yang semakin besar dan tidak terfragmentasi dinilai memiliki profil kredit yang lebih kuat, pendapatan lebih tinggi, serta diversifikasi bisnis yang lebih baik.

“Dari sisi pasar obligasi, kondisi ini juga berpotensi mempersempit spread, sehingga biaya pendanaan menjadi lebih efisien. Dukungan negara menjadi nilai tambah tersendiri,” imbuhnya.

Meski demikian, keberhasilan aksi korporasi seperti penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) tidak hanya ditentukan oleh fundamental. Faktor timing atau momentum pasar tetap menjadi kunci utama.

Hal ini, kata dia, tercermin dari pengalaman rencana IPO salah satu anak usaha Pertamina yang sempat tertunda. Padahal, perusahaan tersebut memiliki fundamental kuat dengan laba bersih sekitar US$4 miliar dan potensi valuasi besar. Penundaan dilakukan bukan karena kinerja, melainkan kondisi pasar yang dinilai belum mendukung.

Timing sangat krusial. Perusahaan bagus sekalipun bisa gagal melantai jika momentum pasar tidak tepat,” jelasnya.

Baca Juga : MSCI Tahan Rebalancing Saham Indonesia, Evaluasi Free Float Masih Berjalan

Konsolidasi, lanjutnya juga membuka peluang baru bagi BUMN berukuran kecil yang sebelumnya kurang menarik bagi investor. Setelah digabung, entitas menjadi lebih besar dan layak masuk ke pasar modal. Dalam konteks ini, ukuran perusahaan, prospek pertumbuhan, serta visibilitas pendapatan menjadi faktor penting dalam menarik minat investor.

Namun demikian, dari perspektif lembaga pemeringkat, ukuran besar tidak serta-merta menjamin kualitas kredit yang lebih baik atau menghilangkan risiko sistemik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polda Sumsel Sikat Mafia BBM Subsidi di Musi Rawas, 12 Pelaku Diringkus
• 8 jam laludetik.com
thumb
OJK Dorong Layanan Perbankan Terjangkau Bagi Penyandang Disabilitas
• 55 menit lalutvrinews.com
thumb
KPU Ingatkan Waktu Jadi Kunci Revisi UU Pemilu
• 14 jam lalupantau.com
thumb
Degradasi Menyakitkan! Ini Janji Besar Wolves untuk Musim Depan
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
6 Bantahan Syekh Ahmad Al Misry Soal Dugaan Pelecehan Seksual ke Santri, Singgung Fitnah Kejam
• 18 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.