Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) terus mendorong penguatan ekosistem industri film nasional melalui penerapan tata kelola produksi yang lebih profesional. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar menjadikan sektor ekonomi kreatif sebagai motor pertumbuhan baru.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekraf, Irene Umar, menegaskan bahwa penguatan industri harus dimulai dari fondasi paling mendasar, yakni pengelolaan keuangan dan sistem kerja yang tertata.
"Permasalahan mendasar pelaku kreatif hari ini adalah bagaimana memisahkan keuangan pribadi dan proyek. Ini menjadi fondasi sebelum kita bicara akses pembiayaan dan penguatan industri secara lebih luas," ujar Irene dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Kamis, 23 April 2026.
Irene menyampaikan hal itu dalam audiensi. Audiensi tersebut merupakan tindak lanjut dari program SCENE yang berfokus pada pengembangan talenta perfilman hingga tahap implementasi. Pemerintah menilai pentingnya memastikan pelatihan yang diberikan selaras dengan kebutuhan industri di lapangan.
Dalam diskusi, pihak Wahana Edukasi menyoroti sejumlah tantangan, terutama belum optimalnya manajemen produksi. Peran strategis seperti line producer dan location manager dinilai masih perlu diperkuat, baik dari sisi pengelolaan anggaran, sistem kerja, hingga pemanfaatan teknologi.
Menanggapi hal tersebut, Irene menekankan pentingnya pendekatan adaptif yang sesuai dengan kondisi industri saat ini. Salah satunya melalui pengembangan basis data lokasi syuting yang terkurasi.
"Kalau kita punya data lokasi yang terkurasi, itu bisa langsung dimanfaatkan untuk produksi sekaligus menggerakkan ekonomi di sekitarnya. Saat ini kita bahkan belum memiliki basis data terpusat yang bisa digunakan bersama," jelasnya.
Lebih lanjut, pemerintah juga mendorong pengembangan program berkelanjutan melalui skema hybrid learning berbasis digital yang diperkuat dengan mentorship. Model ini dinilai dapat membuka peluang pembiayaan jangka panjang, termasuk melalui skema subscription.
Tidak hanya itu, kolaborasi dengan perguruan tinggi melalui pendekatan vokasi juga menjadi perhatian. Integrasi antara teori dan praktik industri dinilai penting untuk mencetak talenta yang siap terjun ke dunia kerja.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Kementerian Ekraf membuka peluang pembangunan platform terpusat berbasis data untuk pemetaan lokasi syuting di Indonesia. Platform ini diharapkan menjadi one-stop system yang memudahkan pelaku industri sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia sebagai destinasi produksi film.
Sementara itu, Pembina Wahana Edukasi, Sigit Pratama, menilai bahwa penguatan aspek manajemen produksi akan memberikan dampak signifikan terhadap kualitas proyek dan keberlanjutan ekosistem ekonomi kreatif.
"Ketika production management diperkuat, dampaknya tidak hanya pada produksi, tetapi juga pada ekosistem ekonomi kreatif secara keseluruhan," kata Sigit.
Audiensi ini menjadi langkah awal dalam pengembangan kurikulum berbasis praktik industri untuk peran line producer dan location manager, penjajakan kolaborasi dengan perguruan tinggi, serta inisiasi basis data lokasi syuting terintegrasi guna memperkuat industri film nasional.
Editor: Redaktur TVRINews





