Bisnis.com, JAKARTA — Insentif kendaraan hybrid di Indonesia masih tergolong minim, hanya sekitar 3% melalui skema Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) Ditanggung Pemerintah (DTP) pada 2025. Padahal, di saat yang sama, saat ini Jepang justru menjadikan teknologi hybrid sebagai fokus pengembangan.
Menanggapi kondisi tersebut, Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia Myochin Mitsuru menegaskan bahwa perusahaan otomotif Jepang tetap berkomitmen mengembangkan industri di Indonesia. Namun, ekspansi dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kebijakan dan kondisi pasar domestik.
“Perusahaan otomotif Jepang, terutama Toyota, Honda, Suzuki, sudah lama berkontribusi untuk ekonomi Indonesia, dan kita telah memberikan teknologi terbaik untuk perusahaan Indonesia sehingga mereka dapat berkembang dan memberikan lebih banyak sumber daya manusia untuk perkembangan,” ujar Myochin dalam diskusi bersama di Kantor Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia, Kamis (23/4/2026).
Myochin juga mengatakan bahwa kerja sama yang terjalin antara Jepang dan Indonesia telah terjadi sejak lama, bahkan sejak tahun 1970-an. Menurutnya, sejak awal perusahaan-perusahaan tersebut tidak hanya berinvestasi, tetapi juga menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah Indonesia serta berkontribusi dalam pengembangan industri lokal.
Selain itu, dia menyatakan bahwa perusahaan Jepang juga turut mentransfer teknologi dan menguatkan industri lokal. Myochin menjelaskan bahwa produksi kendaraan berbahan bakar bensin membutuhkan banyak komponen, sehingga perusahaan Jepang mendorong perusahaan lokal Indonesia untuk ikut memproduksi berbagai suku cadang tersebut.
Untuk itu, sambungnya, perusahaan Jepang melakukan transfer teknologi dan memberikan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan teknis tenaga kerja Indonesia. Alhasil, saat ini banyak perusahaan lokal yang sudah mampu memproduksi komponen otomotif berkualitas tinggi dan menjadi mitra dalam industri otomotif Jepang.
Baca Juga
- Jepang Lirik Proyek Waste to Energy Danantara, Tiga Perusahaan Nyatakan Minat
- Prospek Cerah Mobil Hybrid di Tengah Transisi Elektrifikasi
- Kalla Toyota Bidik Penjualan 20.500 Mobil Tahun ini, Veloz Hybrid Jadi Andalan
“Jadi sekarang banyak perusahaan Indonesia, perusahaan otomotif, sudah mampu memproduksi bagian berkualitas tinggi untuk otomotif Jepang. Jadi hal ini adalah hal baik,” katanya.
Lebih lanjut, terkait dengan kendaraan hybrid, perusahaan otomotif Jepang sebenarnya tidak hanya berfokus pada satu jenis teknologi, tetapi menyesuaikan strategi dengan kondisi masing-masing negara.
Dia menekankan adanya risiko jika terlalu bergantung pada satu jenis sumber energi saja. Oleh karena itu, pendekatan yang diambil adalah memberikan berbagai alternatif teknologi agar negara seperti Indonesia memiliki fleksibilitas dalam menentukan arah pengembangan energi dan transportasi. Hal ini disebut sebagai konsep “multi-pathway”, yaitu strategi untuk menyediakan berbagai pilihan teknologi kendaraan.
Myochin berpendapat bahwa selain hybrid, perusahaan otomotif Jepang juga mengembangkan berbagai opsi lain seperti plug-in hybrid, kendaraan listrik berbasis baterai, kendaraan berbasis hidrogen (fuel cell), hingga biofuel. Menurutnya, pendekatan ini memungkinkan Indonesia untuk tidak terpaku pada satu solusi saja, melainkan memilih kombinasi teknologi yang paling sesuai dengan kondisi sumber daya dan kebutuhannya.
“Jadi kita sekarang memberikan multi-pathway untuk Indonesia. Jadi inilah apa yang kita lakukan,” pungkasnya. (Putri Astrian Surahman)





