Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyampaikan apresiasi mendalam kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, atas komitmen ekspor 250.000 ton pupuk urea ke Australia. Komitmen strategis ini dinilai sebagai langkah krusial dalam menjaga stabilitas sektor pertanian di Negeri Kanguru tersebut.
Apresiasi tersebut disampaikan langsung oleh Albanese melalui sambungan telepon yang kemudian diunggah di akun media sosial resminya. Dalam percakapan tersebut, kedua pemimpin menekankan bahwa di tengah dinamika geopolitik global yang semakin tidak menentu, hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia di kawasan menjadi jauh lebih penting dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Bahas Stabilitas Kawasan dan Rantai Pasok Global
Selain membahas pasokan pupuk, Presiden Prabowo dan PM Albanese juga bertukar pikiran mengenai eskalasi konflik di Timur Tengah serta dampak sistemiknya terhadap kawasan Indo-Pasifik. Keduanya sepakat untuk bekerja sama dalam memastikan kelancaran arus barang kebutuhan pokok dan memperkuat ketahanan rantai pasok energi demi masa depan yang lebih stabil.
Baca juga:
Daftar 10 Negara Paling Tahan Hadapi Krisis Energi, Indonesia Termasuk
"Malam ini, saya berbicara dengan Presiden Prabowo dari Indonesia. Kami membahas konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap kawasan kita. Australia dan Indonesia bekerja sama untuk mendukung aliran barang-barang esensial, serta membuat rantai pasok energi kita lebih tangguh untuk masa depan. Saya berterima kasih kepada Presiden Prabowo karena telah membantu mengamankan lebih banyak pupuk untuk Australia. Hubungan kuat di kawasan kita lebih penting dari sebelumnya, dan kedua negara kita adalah sahabat terdekat," tulis Anthony Albanese melalui akun X pribadinya.
Komitmen Ketahanan Domestik
Sementara itu, Sekretariat Kabinet melalui saluran resminya turut mengunggah momen Presiden Prabowo saat melakukan pembicaraan tersebut. Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjaga stabilitas dalam negeri, tetapi juga berperan aktif dalam memastikan kebutuhan pokok di kawasan tetap aman melalui kolaborasi strategis.
Langkah pengiriman ratusan ribu ton pupuk urea ini diharapkan menjadi fondasi yang lebih kokoh bagi penguatan kerja sama ekonomi kedua negara, terutama dalam menghadapi tantangan krisis pangan global yang membayangi tahun 2026.




