Penulis: Doni Moni
TVRINews, Nagekeo
Sudah lebih dari satu dekade, warga Desa Labolewa, Kabupaten Nagekeo, hidup dalam keterbatasan akses air bersih. Sejak 2009, sekitar 80 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Lambo 1 Boazea terpaksa mengandalkan air keruh dari mata air Ngode Ringo untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru menyimpan kekhawatiran. Kondisinya yang keruh dan tidak layak pakai membuat warga dihantui rasa takut setiap kali menggunakannya, terutama untuk diminum.
Obet, salah satu warga, mengungkapkan bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain. Satu-satunya sumber air yang tersedia hanya berasal dari mata air tersebut, meskipun kualitasnya sangat memprihatinkan. Ia juga menyebut, hingga kini belum ada pemeriksaan resmi dari dinas terkait terkait kelayakan air tersebut.
“Kami ini sebenarnya takut. Air yang kami minum setiap hari tidak pernah jelas apakah aman atau tidak. Kami khawatir dengan kesehatan kami sendiri, apalagi anak-anak dan ibu hamil,” ujarnya.
Kondisi ini mendorong warga untuk meminta perhatian serius dari pemerintah. Mereka berharap ada langkah konkret, mulai dari pemeriksaan kualitas air hingga penyediaan solusi jangka panjang.
“Kami mohon pemerintah datang lihat langsung kondisi air ini dan beri kami kepastian,” pinta Dia.
Hal senada disampaikan Krispin, warga lainnya. Ia mengatakan, kebutuhan air bersih menjadi persoalan mendasar yang belum terselesaikan hingga kini. Meski sadar akan risiko kesehatan, warga tetap menggunakan air tersebut karena tidak ada alternatif lain.
“Setiap hari kami pakai air ini, tapi selalu ada rasa takut. Kami hanya ingin ada solusi supaya bisa hidup lebih sehat,” katanya.
Warga Labolewa kini hanya bisa berharap pada perhatian dan aksi nyata dari pemerintah. Bagi mereka, air bersih bukan sekadar kebutuhan, tetapi hak dasar yang hingga hari ini belum sepenuhnya terpenuhi.
Editor: Redaktur TVRINews





