Grid.ID - Inilah deretan amalan utama di 10 hari awal Dzulhijjah jelang Idul Adha. Dilengkapi dengan keutamaannya.
Idul Adha merupakan hari besar umat Islam yang sarat makna pengorbanan, ketaatan, serta kepedulian terhadap sesama, yang berawal dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Makna utamanya bukan hanya pada penyembelihan hewan kurban, melainkan juga sebagai bentuk ketulusan dan kedekatan diri kepada Allah SWT.
Bagi umat Islam, terdapat berbagai amalan yang dapat dilakukan dalam menyambut Idul Adha. Amalan-amalan tersebut bertujuan untuk menambah pahala dalam kehidupan.
Berbeda dengan Idul Fitri, pada Idul Adha umat Islam dianjurkan untuk tidak makan sebelum melaksanakan salat Id, dan disunnahkan makan setelah penyembelihan hewan kurban. Menjelang Idul Adha 2026, umat Muslim di seluruh dunia mulai bersiap menyambut momen penuh makna ini.
Selain dikenal dengan ibadah kurban, Idul Adha juga menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak amalan sunnah, terutama sejak awal bulan Dzulhijjah. Dalam Islam, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah memiliki keistimewaan tersendiri karena pahala yang dijanjikan sangat besar.
Hal ini berdasarkan hadis riwayat Ibnu Abbas, di mana Nabi Muhammad SAW menyampaikan bahwa tidak ada hari yang lebih dicintai Allah untuk melakukan amal saleh dibandingkan hari-hari tersebut. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah selama periode ini.
Salah satu amalan yang dianjurkan adalah memperbanyak dzikir, seperti takbir, tahmid, dan tahlil. Aktivitas ini bisa dilakukan kapan saja, baik siang maupun malam, sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT, khususnya menjelang hari raya.
Selain dzikir, puasa sunnah juga sangat dianjurkan selama bulan Dzulhijjah. Beberapa di antaranya adalah puasa di awal Dzulhijjah, puasa Tarwiyah, dan puasa Arafah.
Puasa Arafah memiliki keutamaan besar karena diyakini dapat menghapus dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun yang akan datang, sehingga banyak umat Muslim berusaha melaksanakannya. Menjelang malam Idul Adha, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan malam takbiran.
Malam tersebut biasanya diisi dengan lantunan takbir, doa, serta berbagai ibadah lainnya sebagai wujud rasa syukur dan pengagungan kepada Allah SWT. Kalimat takbir seperti Allahu Akbar, Allahu Akbar, la ilaha illallah, wallahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd pun berkumandang di berbagai tempat.
Saat hari raya tiba, terdapat sejumlah amalan sunnah sebelum melaksanakan salat Id, seperti mandi, memakai wewangian, serta mengenakan pakaian terbaik sebagai bentuk penghormatan terhadap hari besar tersebut. Menjaga kebersihan dan kerapian juga menjadi bagian penting dari ajaran Islam dalam menyambut hari raya.
Umat Muslim juga dianjurkan berjalan kaki menuju lokasi salat Id jika memungkinkan. Rasulullah SAW bahkan dicontohkan melalui kebiasaan mengambil rute berbeda saat berangkat dan pulang dari tempat salat.
“Rasulullah SAW biasa pergi dan pulang salat ‘ied dengan berjalan kaki,” sebagaimana diriwayatkan para sahabat.
Seperti disebutkan sebelumnya, pada Idul Adha umat Islam disunnahkan untuk tidak makan sebelum salat Id, dan makan setelah penyembelihan kurban. Hal ini melambangkan bahwa umat Islam menikmati hasil dari ibadah kurban yang telah dilaksanakan, sekaligus sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.
Tidak hanya menitikberatkan pada ibadah individu, Idul Adha juga mengajarkan pentingnya hubungan sosial. Umat Muslim dianjurkan untuk mempererat silaturahmi serta berbagi kebahagiaan dengan sesama.
Dengan menjalankan berbagai amalan sunnah tersebut, diharapkan umat Islam dapat memaksimalkan ibadah di momen Idul Adha, sekaligus meningkatkan ketakwaan dan memperkuat hubungan antar sesama. (*)
Artikel Asli




