Warisan tersebut pun membentuk cara berpikir, merespons, bahkan sikap defensif seseorang. Anggapan masyarakat bahwa bercerita merupakan hal tabu membuat para penyintas trauma terpuruk karena tak memiliki ruang untuk berkeluh kesah.
Melalui “Nafas”, Hindia dan Dipha Barus mencoba menyoroti hal tersebut. Mereka mencari sesuatu yang dekat dengan keseharian banyak orang sehingga lagu ini berkembang menjadi suatu refleksi bagaimana setiap manusia tetap melanjutkan hidup di tengah pikiran yang kalut. Kolaborasi Komposisi EDM dengan Lirik Indie Dipha Barus pun mengungkap proses kreatif di balik penciptaan single kolaborasi ini. Gambaran awalnya tercetus lewat komposisi musik yang divisualisasikan sebagai sesuatu repetitif bagai lingkar yang terus berulang. Ketika mendengar demo lagunya untuk pertama kali, Hindia pun menyamakan nada repetitif itu dengan joging.
“Dari situ jadi terpikir untuk menulis sesuatu yang juga berulang, tentang keseharian, tentang siklus yang terus terjadi. Bahkan di hari yang terasa baik-baik saja, selalu ada sesuatu yang tetap muncul di belakang, sesuatu yang looming dan tidak pernah benar-benar hilang,” ujarnya, dikutip dari rilis yang diterima Medcom.id.
Baca Juga :
Kolaborasi Pamungkas dan Dipha Barus di Lagu "Sambung, Ajakan untuk Menyatukan HatiMusisi dengan nama asli Baskara turut menerjemahkan perasaan tersebut menjadi lirik. Sebagaimana karakter penulisannya, “Nafas” menghadirkan pesan-pesan yang kuat tanpa kesan menggurui. Ia pun mendeskripsikan lagu itu tentang kesulitan sehari-hari yang mengganggu hidup tapi harus tetap dijalani.
“Selalu ada hal-hal yang mengganggu, tapi tetap carry on saja. Struggle, tapi tetap lanjut,” tambah penyanyi single tersebut. Memutus Sebuah Siklus Lewat Lagu “Nafas” Baskara juga melihat “Nafas” sebagai ruang untuk memahami sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keseharian. Baginya, ini merupakan proses untuk memutus sebuah siklus yang diturunkan oleh orang tuanya serta para pendahulu mereka.
“Tapi itu hanya bisa berhenti kalau saya mengakui hal tersebut dan tidak menyimpan dendam. Itu yang kemudian membuat saya melihat banyak hal dalam hidup saya dengan cara yang berbeda,” tutur pria berusia 32 tahun itu.
Tak hanya Hindia, Dipha Barus juga memiliki pengalaman pribadi yang selaras dengan tema generational trauma. Ia menyadari ini merupakan sesuatu yang datang secara organik dalam hidupnya dan tidak dirancang, terutama ketika sudah menjadi seorang ayah.
“Menjadi ayah bikin gue mulai lihat pola-pola yang gue bawa dari keluarga dan generasi sebelumnya, pola yang baru bener-bener gue proses setelah dewasa. Gue tumbuh di era di mana diam adalah bentuk bertahan hidup. Generasi orang tua gue hidup di bawah rezim yang ngajarin untuk nggak banyak bicara, untuk menelan,” ungkap sang komposer.
Baca Juga :
WAMI Distribusikan Royalti Rp36,9 M, Hindia dan Fiersa Besari Masuk Daftar TerbanyakSambungnya, “Dan warisan itu bukan cuma politik, tapi emosional, dia ngendap di cara kita mencintai, marah, menahan, sampai ke core memory gue.”
Dipha memahami bahwa penderitaan personal sering kali berakar pada masalah struktural. Ia menyebutnya sebagai “luka kolektif yang diindividualisasi.” Inspirasi di Balik “Nafas” “Nafas” tidak berhenti pada potret lingkar yang repetitif. Lapisan musikal justru menjadi cara lain bagi Dipha Barus untuk membaca dan merasakan isu tersebut. Alih-alih menghadirkan komposisi yang sepenuhnya gelap, ia membangun kontras antara gerak dan refleksi.
Salah satu inspirasi terbesarnya adalah olahraga lari yang ia lakukan ketika merasa terpuruk. Melalui lari, ia mengaku bisa memproses semua hal yang ada di kepalanya dan mengurai ketakutan hari itu satu per satu.
“Tubuh bergerak maju, tapi justru kontemplasi. ‘Nafas’ sebenernya mimik proses itu,” kata Dipha.
Dipha Barus menjelaskan bahwa suara Baskara Putra memiliki karakter yang sangat spesifik dan intim, layaknya seseorang yang sedang bercerita, bukan sekadar bernyanyi secara performatif.
Ia pun mengakui tantangan terbesar dalam penggarapan lagu ini adalah menjaga agar vokal tersebut tetap menjadi pusat, seperti tuan rumah di dalam “rumah” yang ia bangun. Menurutnya, produksi musik di sekelilingnya boleh terdengar megah dan dinamis, tetapi suara Baskara harus tetap menjadi fokus utama.
Baca Juga :
Whisnu Santika, Dipha Barus, dan Ramengvrl Angkat Satir Kehidupan di Single "IyaIya"Di akhir kata, Baskara mengungkap bahwa musik selalu memiliki ruang untuk menyampaikan hal-hal yang sulit diutarakan dalam percakapan sehari-hari. “Nafas” menjadi titik ketika ia berhenti menahan diri untuk membicarakan hal tersebut. Justru, karena ia masih berada di tengah proses itu dan memilih untuk tidak lagi diam.
“Nafas” siap dirilis pada 24 April 2026 dan tersedia di seluruh platform musik digital.
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)





