Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia dan Inggris meluncurkan program kerja sama di bidang maritim dengan tajuk Maritime Partnership Programme (MPP).
Peluncuran ini dilakukan oleh Babcock International Group (Babcock), bersama dengan Kedutaan Besar Inggris di Indonesia, Kamar Dagang Inggris (Britcham), serta para mitra dari Indonesia pada Kamis (23/4/2026).
Program ini menjadi bagian dari penguatan kemitraan strategis Indonesia dan Inggris yang mencakup sektor sipil dan pertahanan, sekaligus diarahkan untuk mendorong ketahanan pangan dan transformasi industri maritim nasional.
Menteri Inggris untuk Aviasi, Maritim, dan Dekarbonisasi Keir Mather menyampaikan bahwa kemitraan ini membuka babak baru hubungan kedua negara dalam memperkuat stabilitas kawasan Indo-Pasifik melalui sektor maritim.
Dia menekankan bahwa kerja sama ini didukung oleh pembiayaan dari UK Export Finance mencapai 4–5 miliar poundsterling, dengan fokus pada proyek prioritas termasuk penguatan armada perikanan.
Program ini ditargetkan menghadirkan lebih dari 1.000 kapal bagi Indonesia, sekaligus menciptakan sekitar 1.000 lapangan kerja di galangan kapal Inggris.
Baca Juga
- Klaim Trump Hingga Tanggapan Prancis, Inggris Cs saat Iran Buka Selat Hormuz
- Imbas Konflik Iran-AS, Inggris Peringatkan Lonjakan Serangan Siber ke Korporasi
- Prancis, Jerman, dan Inggris Siap Ambil Langkah Defensif Terhadap Iran
“Program ini akan membuka jalan bagi kerja sama yang lebih erat di sektor maritim, serta mendorong pertumbuhan dan peluang bagi kedua negara,” ungkap Mather di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Sementara itu, CEO Babcock David Lockwood menegaskan bahwa proyek ini dirancang sebagai kerja sama jangka panjang yang tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga penguatan hubungan geopolitik.
Menurutnya, kolaborasi ini mencakup pengembangan kapasitas industri di kedua negara serta membuka peluang bagi usaha kecil dan menengah untuk masuk ke pasar global.
“Jadi, ini bukanlah usaha yang kecil, tetapi juga membuka peluang bagi usaha kecil dan menengah di kedua negara,” kata Lockwood.
Dia juga menyebut proyek ini sebagai hubungan lintas sektor yang melibatkan pemerintah, industri, dan akademisi secara bersamaan.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan program ini merupakan bagian dari percepatan modernisasi sektor perikanan nasional, yang mencakup pembangunan sistem terintegrasi mulai dari armada tangkap modern, logistik, hingga penguatan sumber daya manusia.
“Program ini dirancang sebagai sistem terintegrasi yang menggabungkan teknologi, logistik efisien, dan tenaga kerja tersertifikasi,” ujarnya.
Dalam implementasinya, pemerintah menyiapkan pembangunan sekitar 1.582 kapal perikanan dengan berbagai ukuran, mulai dari 30 GT hingga 500 GT.
Kapal-kapal tersebut akan dilengkapi teknologi modern seperti fish finder dan sistem monitoring, serta dibangun oleh galangan kapal dalam negeri setelah melalui evaluasi bersama mitra Inggris.
Dia menegaskan bahwa modernisasi ini bertujuan meningkatkan produktivitas nelayan sekaligus memperbaiki kualitas hasil tangkapan agar mampu bersaing di pasar global.
Proyek ini juga ditargetkan mulai terealisasi dalam waktu cepat. Babcock menyebut kapal pertama diharapkan sudah beroperasi dalam 12 bulan ke depan dengan desain yang disesuaikan untuk karakter perairan Indonesia.
Selain sektor perikanan, kerja sama ini juga mencakup pembangunan kapal militer, termasuk fregat yang tengah dikerjakan di dalam negeri, sebagai bagian dari penguatan perlindungan wilayah maritim Indonesia.
Selain pembangunan kapal perikanan, kerja sama ini juga diperluas ke pengembangan sumber daya manusia dan kapasitas industri. Babcock menandatangani empat nota kesepahaman strategis dengan universitas, mitra industri, dan pemangku kepentingan utama.
Dalam bidang pendidikan, Babcock berkomitmen mendanai 30 beasiswa Chevening bagi mahasiswa Indonesia yang akan disalurkan selama tiga tahun untuk mendukung pengembangan kepemimpinan di sektor maritim.
Di sisi akademik, Babcock juga membentuk konsorsium dengan enam universitas, yakni Newcastle University, University of Strathclyde, University of Edinburgh, University of Glasgow, Universitas Indonesia, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, guna memperkuat pendidikan, riset, dan inovasi maritim.
Sementara itu, kerja sama industri mencakup kolaborasi dengan PT Len Industri dalam pengembangan teknologi angkatan laut dan maritim, termasuk potensi pemanfaatan fasilitas DEFEND ID.
Babcock juga menjajaki kemitraan dengan PT Citra Shipyard untuk pengembangan pembuatan kapal, peningkatan keterampilan, transfer teknologi, dan penguatan rantai pasok.





