REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketegangan geopolitik global dan pesatnya perkembangan teknologi dinilai telah melahirkan tantangan baru bagi peradaban manusia. Selain membawa kemajuan, teknologi juga dianggap memunculkan risiko serius, mulai dari dehumanisasi hingga ancaman eksistensial terhadap umat manusia.
Dalam konteks tersebut, berbagai pihak menilai dunia membutuhkan pendekatan baru untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Upaya ini dinilai penting di tengah meningkatnya konflik global dan kompetisi antarnegara.
- Threads Perkenalkan Fitur Live Chats Dorong Interaksi Real-Time
- Blok Nuklir NATO Terbongkar, Rusia Peringatkan Prancis: Senjata Kalian Bisa Jadi Bumerang
- Gatot, Andika, Dudung, Hingga Yudo Datangi Kemenhan
Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) bersama Kuil Miidera di Kyoto, Jepang, serta Sakuranesia menggelar dialog perdamaian internasional pada 20 April 2026. Forum tersebut menjadi ruang diskusi lintas agama dan lintas negara untuk mencari solusi atas krisis global.
Kegiatan ini juga diikuti dengan penandatanganan kerja sama dengan Tenma Hospital Group. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan rumah sakit, riset stem cell, serta layanan kesehatan berbasis pendekatan spiritual dan natural medicine.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Ketua Umum LPOI, Said Aqil Siroj, menyatakan bahwa dunia saat ini memasuki fase baru yang ditandai kompleksitas tinggi. Ia menilai konflik antarblok peradaban telah berdampak serius terhadap masa depan kemanusiaan.
“Dunia tengah memasuki babak baru dengan berbagai dinamika dan kompleksitasnya. Kompetisi global dan konflik kepentingan telah memicu peperangan dan merugikan masa depan perdamaian,” ujarnya dalam keterangan pers.
Ia menekankan perlunya rekalibrasi spiritual untuk membangun tatanan dunia yang lebih baik. Menurutnya, pendekatan baru diperlukan untuk menyelaraskan kembali nilai, orientasi, dan arah peradaban global.
LPOI menawarkan pendekatan “Spiritual and Natural Lifestyle” sebagai solusi alternatif. Konsep ini menekankan pentingnya kembali pada nilai spiritual dan keseimbangan dengan alam.
Said Aqil menjelaskan bahwa pendekatan tersebut dapat membangun kesadaran bahwa seluruh manusia memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga dunia. Kesadaran ini dinilai penting untuk menciptakan perdamaian global.
Ia juga menyoroti pentingnya pelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaan. Menurutnya, bumi harus dijaga sebagai rumah bersama seluruh umat manusia.
Nilai-nilai tersebut, lanjut dia, perlu ditanamkan sejak dini. Pendidikan dan pembentukan karakter dinilai menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan misi kemanusiaan.
Said Aqil menegaskan bahwa peran tokoh agama sangat penting dalam situasi global saat ini. Ia mengingatkan agar kaum agamawan tidak tinggal diam menghadapi krisis dunia.
“Ini saatnya bergerak. Tidak boleh terlambat untuk menata kembali dunia yang berada di ambang perpecahan,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal LPOI, Gus Imam Pituduh, menjelaskan bahwa pendekatan spiritual dan natural dapat menjadi jembatan antarperadaban. Pendekatan ini diharapkan mampu meredam konflik yang selama ini dipicu perbedaan kepentingan.
Ia menilai konsep tersebut tidak hanya bersifat teoritis. Pendekatan ini telah berkembang dalam praktik kehidupan masyarakat, khususnya di Asia.




