Reza Pahlavi Tuntut Eropa Ikut Perang Iran-Amerika Serikat

wartaekonomi.co.id
5 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Putra Mantan Shah Iran, Reza Pahlavi mendesak negara-negara barat dari kawasan euro untuk ikut terlibat dalam perang melawan Iran. Hal ini disuarakannya dalam kunjungannya di Jerman.

Pahlavi menuding negara-negara kawasan euro hanya menjadi penonton saat adanya penindasan terhadap demonstran di Iran. Ia merujuk pada gelombang protes yang menewaskan ribuan orang dalam beberapa waktu terakhir.

Baca Juga: Patahkan Klaim Amerika Serikat, Taktik Kapal Cepat Iran Jadi Ancaman Baru di Selat Hormuz

"Pertanyaannya bukan apakah perubahan akan datang. Perubahan sedang menuju ke sana. Pertanyaan sebenarnya adalah berapa banyak warga yang harus kehilangan nyawa sementara negara demokrasi hanya menonton," katanya.

Kunjungan Pahlavi memicu aksi demonstrasi dari pendukung dan penentangnya di Berlin. Dalam insiden tersebut, satu orang diamankan setelah melemparkan cairan berwarna merah ke Pahlavi.

Pahlavi sendiri hidup dalam pengasingan sejak revolusi 1979. Ia muncul sebagai salah satu tokoh oposisi setelah gelombang protes anti-pemerintah di Iran.

Namun, gerakan oposisi negara tersebut masih terpecah dan tak ada kejelasan mengenai dukungan terhadap Pahlavi di Iran. Hal ini membuat negara dunia berhati-hati dalam memberikan dukungan terbuka.

Adapun Amerika Serikat sebelumnya memberikan sinyal bahwa terdapat perpecahan dalam internal dari Iran. Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt mengatakan masih ada instabilitas dalam internal kabinet dari Iran. Menurutnya, hal tersebut membuat kesepakatan damai sulit untuk dicapai karena adanya perbedaan pendapat dari internal di Teheran.

"Ini adalah pertempuran antara kaum pragmatis dan garis keras dalam wilayah mereka saat ini, dan kami menginginkan respons yang bersatu," kata Leavitt.

Sebelumnya, dunia dikecewakan oleh gagalnya negosiasi damai dari Iran dan Amerika Serikat di Islamabad, Pakistan. Hal tersebut menambah panjang ketidakpastian soal perang keduanya di Timur Tengah.

Menurut Washington, Teheran menolak sejumlah tuntutan utama antara lain menghentikan seluruh pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklir utama dan menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.

Amerika Serikat diketahui juga meminta mereka untuk menghentikan dukungan terhadap kelompok seperti Hamas, Hezbollah dan Houthi. Ia juga menuntut adanya pembukaan penuh akses dari Selat Hormuz.

Iran di sisi lain melaporkan tuntutan yang berlebihan dari Amerika Serikat. Hal tersebut menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan. Neberapa isu sebenarnya telah mencapai titik temu, namun dua hal utama masih menjadi ganjalan yakni program nuklir hingga kontrol dan akses dari Selat Hormuz.

Baca Juga: Paus Leo Soroti Gagalnya Diplomasi Iran-Amerika Serikat: Semua Menderita

Teheran mengatakan bahwa pihaknya meragukan komitmen damai dari Amerika Serikat. Pihaknya telah menawarkan berbagai inisiatif “berpandangan ke depan”, namun hal tersebut malah direspons dengan agenda berbeda yang menghambat kesepakatan dari Washington.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Panglima IRGC Tegaskan Solidaritas Nasional Iran
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
Pemerintah Garap Perbaikan 15.000 Rumah Tak Layak Huni di Wilayah 3T
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Soal Gedung Sate Jadi Lokasi Perayaan Persib, Gubernur Dedi Mulyadi Tak Muluk-muluk Minta Maung Bandung Juara Dulu
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Usut Kasus Pekerja Rumah Tangga Lompat dari Lantai 4 di Benhil, Begini Langkah Polisi
• 3 jam laluliputan6.com
thumb
Kementerian P2MI Gagalkan 51 Calon Pekerja Migran Nonprosedural ke Malaysia
• 9 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.