Strategi Investasi di Tengah Badai Rupiah

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tekanan hebat hingga tembus Rp 17.300. Ini terjadi saat fiskal tertekan akibat gejolak harga minyak dunia dan ketidakpastian geopolitik di Selat Hormuz di Timur Tengah. Situasi ini berdampak langsung ke arus modal asing di pasar investasi.

Pelemahan rupiah yang melampaui ekspektasi setelah beberapa hari di atas Rp 17.000 per dolar AS, menurut Senior Currency Analyst MUFG, Lloyd Chan, merupakan bentuk kejutan kepercayaan pasar (confidence shock ) atas kondisi domestik.

Faktor domestik dinilai lebih kuat dibandingkan tekanan dolar AS, yang semakin perkasa hingga menuju level 99 didorong oleh kenaikan imbal hasil (yield) obligasi dan permintaan aset aman (safe haven), serta harga minyak dunia yang masih bertengger di kisaran 100 dolar AS per barel.

Pada Kamis (23/4/2026), mata uang di negara lainnya di Asia juga mengalami depresiasi terhadap dolar AS. Selain rupiah yang melemah sebesar -0,7 persen dalam sehari, mata uang Bath Thailand dan Peso Filipina juga terdepresiasi kurang dari satu persen. Alasan pelemahannya adalah akibat dampak lonjakan harga minyak pada akun fiskal mereka.

Di Indonesia, Chan menyampaikan, pasar mulai menuntut premi risiko yang lebih tinggi seiring dengan ketidakpastian arah kebijakan anggaran pemerintah Indonesia.

"Laju pelemahan ini menunjukkan pasar bereaksi terhadap ketidakpastian fiskal yang meningkat. Namun, di sisi lain, secara valuasi rupiah sudah sangat murah (undervalued) dan indikator teknis menunjukkan dollar AS sudah masuk area jenuh beli (overbought)," ujar Chan dalam laporan Jumat (24/4/2026).

Dalam kondisi ini, Vice President Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, mengatakan, berbagai pasar investasi dapat terimbas langsung karena pelaku pasar akan mengevaluasi dan memilih aset investasi yang lebih menguntungkan di tengah efek pelemahan nilai tukar.

Baca JugaSaatnya Ubah Strategi dari ”Cash is King” ke ”Cash is Opportunity”

Pada Kamis (23/4/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah hingga 2,16 persen ke level 7.378 dengan asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) senilai Rp 1,36 triliun. Pada Jumat (24/4/2025) sampai dengan pukul 10.30 WIB, IHSG kembali melanjutkan pelemahan hingga 2,32 persen ke level 7.207 poin.

Dalam kondisi rupiah yang terdepresiasi tajam, Wawan mengatakan, akan terjadi fragmentasi kinerja yang kontras antara saham dari bisnis yang diuntungkan dan dirugikan pelemahan rupiah.

Pelemahan rupiah akan menguntungkan saham perusahaan berorientasi ekspor karena pendapatan mereka dapat berupa dolar AS. Sebaliknya, saham dari industri yang banyak melakukan impor akan tertekan.

Wawan menyarankan investor untuk mencermati emiten yang berorientasi ekspor, seperti di sektor komoditas dan energi. "Sektor yang mendapatkan penghasilan dalam dolar AS justru akan mendapatkan katalis positif dari pelemahan rupiah ini. Pendapatan mereka akan terkonversi lebih besar ke dalam laporan keuangan," ujar Wawan.

​Sebaliknya, investor disarankan untuk mulai mengurangi investasi pada saham-saham yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor atau memiliki utang dalam mata uang asing yang besar. Pelemahan rupiah berisiko menggerus laba bersih dan menekan volume penjualan akibat potensi kenaikan harga jual ke konsumen.

Adapun untuk investasi surat utang, Wawan meminta investor agar berhati-hati. Pelemahan rupiah bisa berimbas pada kenaikan harga barang yang berlanjut menjadi inflasi.

"Ini akan menekan yield (imbal hasil) obligasi atau akan menurunkan harga mengantisipasi risiko suku bunga yang bisa naik bila inflasi tidak terkendali," tuturnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun Indonesia pada Kamis naik 9 basis poin ke angka 6,7 persen (naik 63 basis poin sejak awal 2026). Mengutip BRI Danareksa Sekuritas, volume perdagangan surat utang ini kemarin turun menjadi Rp 23 triliun, didorong transaksi obligasi jangka pendek di bawah lima tahun.

​Wawan mengatakan, diversifikasi ke instrumen berbasis pasar uang dan dolar AS, termasuk deposito dan reksadana, dinilai bisa menjadi upaya lindung nilai aset dalam jangka pendek. Namun, Wawan mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap risiko pembalikan arah kurs.

"Harap diingat bahwa belum tentu rupiah akan terus melemah. Berinvestasi pada mata uang asing selalu memiliki risiko kurs jika terjadi intervensi kuat dari otoritas moneter," katanya.

Faktor domestik

​Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia, menyoroti profil risiko investasi saat ini yang dipengaruhi banyak faktor.

Pelemahan rupiah, menurut dia, menjadi ujian bagi daya tahan ekonomi Indonesia. Ujian ini perlu segera direspons dengan intervensi kebijakan yang lebih tegas.

"Pelemahan ini tidak sepenuhnya karena indeks dollar AS (DXY) yang menguat, sebab DXY relatif stabil. Ini adalah refleksi faktor domestik. Perlu evaluasi terhadap bauran kebijakan, terutama bagaimana memprioritaskan anggaran antara program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan subsidi energi," kata Liza dalam keterangannya.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak adalah pedang bermata dua. Di satu sisi menguntungkan eksportir komoditas. Di sisi lain, ini memberi beban berat pada APBN karena subsidi bahan bakar minyak (BBM) akan menggelembung.

Hingga saat ini, Liza melanjutkan, pemerintah belum memberikan sinyal penyesuaian harga BBM bersubsidi. Sementara pasokan alternatif, seperti minyak dari Rusia, belum memberikan kepastian volume dan waktu kedatangan.

Baca JugaRupiah Tembus Rp 17.300, Dompet Rumah Tangga dan UMKM Bisa Kempes

Di pasar keuangan, kekhawatiran pelaku pasar kian bertambah setelah lembaga pemeringkat kredit Fitch Ratings mengonfirmasi prospek negatif pada sektor perbankan Indonesia.

Ditambah, isu mengenai evaluasi indeks oleh lembaga penyedia indeks global MSCI dan potensi penurunan peringkat utang (sovereign downgrade). Hal ini membuat pasar saham dan obligasi negara menjadi kurang atraktif bagi investor asing di saat kebutuhan pembiayaan negara sedang tinggi.

​"Investor perlu melihat sejauh mana ketahanan fiskal pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara subsidi energi dan program strategis. Ketahanan fiskal yang terjaga akan menjadi jangkar bagi pasar obligasi untuk kembali stabil," kata Liza.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Foto: Warga Teheran Gelar Aksi Duka untuk Korban Serangan Sekolah di Minab
• 8 menit lalukumparan.com
thumb
Kekasih Divonis 7 Tahun Penjara, Dokter Kamelia Yakin Ammar Zoni Tak Akan Dipindah ke Nusakambangan, Ini Alasannya!
• 20 jam lalugrid.id
thumb
Jisoo Rela Rogoh Ratusan Juta Demi Hapus Nama Kakak di Kredit ‘Boyfriend on Demand’
• 9 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Momen Heroik SAR Bali Evakuasi 2 WN Rusia yang Terjebak di Bawah Tebing Uluwatu
• 6 jam laludisway.id
thumb
Kiandra Ramadhipa Ikuti Jejak Veda Ega, Siap Bersaing dengan 25 Pembalap dalam Red Bull Rookies Cup 2026 di Jerez
• 6 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.