JAKARTA, KOMPAS — Dua pekerja rumah tangga meloncat dari sebuah rumah indekos di kawasan Bendungan Hilir atau Benhil, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (23/4/2026) malam. Akibatnya, satu orang tewas dan satu lainnya mengalami patah tulang tangan. Keduanya diduga nekat meloncat karena tak betah lantaran majikan terbilang kejam.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Pusat Ajun Komisaris Besar Roby Saputra mengatakan, kedua pekerja rumah tangga (ART) itu adalah R (18) dan D (30). Mereka melompat dari lantai empat tempat indekos pada Rabu malam.
R ditemukan dalam kondisi tewas di tempat, sementara D dalam kondisi terluka. ”Korban luka mengalami patah tulang di tangan,” kata Roby, Jumat (24/4/2026).
Dari pemeriksaan sementara, ujar Robby, alasan kedua ART ini loncat dari lantai empat rumah indekos adalah tidak betah dengan perlakuan sang majikan. ”Dugaannya karena majikan galak, jadi mereka tidak betah,” ujarnya.
Namun, belum diketahui apakah ada perlakuan kekerasan fisik kepada kedua korban atau hanya berupa kekerasan verbal. ”Saat ini, majikan sudah dalam pemeriksaan. Kemungkinan kasus ini akan ditarik ke Polda Metro Jaya,” ujar Roby.
Kasus pekerja jatuh dari bangunan tinggi pernah terjadi di Pejaten, Jakarta Selatan. Seorang perempuan, RTA (14), ditemukan tewas pada Kamis, 2 Oktober 2025. RTA adalah terapis di sebuah tempat usaha spa di Jakarta Selatan. Dia tewas setelah melompat dari lantai lima ruko di sekitar lokasi kejadian.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Selatan saat itu, Ajun Komisaris Besar Ardian Satrio Utomo, mengungkapkan bahwa tim identifikasi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) setelah mendapatkan laporan dari warga terkait penemuan jenazah di kawasan Pejaten Barat, Pasar Minggu.
Untuk menggali informasi tentang korban, pihaknya lantas memeriksa tujuh saksi, yakni orang di sekitar lokasi penemuan jenazah dan pihak keluarga yang telah membuat laporan. ”Dari hasil pemeriksaan itu, korban adalah RTA, seorang perempuan yang masih di bawah umur,” ujarnya.
Dari hasil olah TKP, termasuk memeriksa rekaman kamera pemantau (CCTV), RTA terekam bolak-balik kamar mandi dan berusaha untuk menghindari CCTV. Ardian mengungkap, sebelum dipindah ke Jakarta Selatan, RTA bekerja selama delapan bulan di Bali. ”Sejak mutasi itu, RTA kerap menyendiri,” ujarnya.
Sementara dari penuturan saudaranya, yakni F, RTA tidak betah bekerja di sana dan ingin keluar dari tempat spa itu. ”Namun, untuk keluar harus membayar denda sekitar Rp 50 juta, sementara gajinya hanya Rp 1 juta per bulan,” ujar F.
Sebelumnya, psikolog klinis dari Lembaga Psikologi Terapan UI, Rini Hapsari Santosa, menyatakan, masalah kesehatan mental dapat terjadi pada semua orang, baik masyarakat perdesaan maupun perkotaan.
Menurut dia, bagi masyarakat kota, problem kesehatan mental bisa muncul karena berbagai aspek, mulai dari tekanan pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, atau masalah lain yang membekap. ”Pola hidup yang cepat tentu berisiko (mengganggu) kesehatan mental,” katanya.
Berbeda dengan masyarakat perdesaan, tekanan bisa muncul karena akses yang terbatas. Namun, setiap orang memiliki masalah yang berbeda. Oleh karena itu, setiap kasus tidak bisa digeneralisasi dan penting untuk menyelisik latar belakangnya. Untuk mengatasi masalah ini, pendampingan dari psikolog, lingkungan, dan keluarga sangatlah penting.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/3329478/original/079413400_1608530245-20201221-Ribuan-Personel-Gabungan-Akan-Dikerahkan-Amankan-Natal-dan-Tahun-Baru-6.jpg)
