Grid.ID - Kontroversi tren “halo kaka” sempat menyeret nama Tasya Farasya hingga menuai hujatan publik. Tren tersebut awalnya berkaitan dengan permintaan spill atau bocoran produk skincare dari para kreator.
Namun, Tasya memilih untuk tidak mengikuti pola endorsement yang dianggapnya kurang sesuai. Keputusan itu justru memicu kesalahpahaman di kalangan warganet.
Dalam perbincangannya bersama Denny Sumargo, Tasya menjelaskan awal mula polemik tersebut. Ia mengaku hanya menuliskan pendapat pribadinya di media sosial tanpa bermaksud merendahkan pihak lain.
“Sebenernya aku nggak ada tujuan ke sana (menjatuhkan) sama sekali,” ungkap Tasya Farasya dikutip Grid.ID melalui Podcast Curhat Bang Denny Sumaro, Kamis (23/4/2026).
Konten yang diunggahnya di platform Threads kemudian menyebar luas dan ditafsirkan berbeda oleh publik. Narasi yang berkembang membuat Tasya seolah-olah meremehkan pekerjaan kreator lain.
Akibatnya, reaksi negatif pun bermunculan dari berbagai arah. Bahkan, situasi semakin memanas hingga menyeret kreator tren “halo kaka”.
“Yang aku tangkap, orang jadi mengira aku menghilangkan rezeki orang,” katanya.
Kontroversi tersebut berdampak besar, hingga kreator yang mempopulerkan tren “halo kaka” memilih untuk mengundurkan diri. Kondisi ini membuat Tasya merasa bersalah meskipun ia tidak memiliki niat seperti yang dituduhkan.
Hujatan yang diterima pun tidak main-main. Ia mengaku mendapat berbagai komentar kasar yang menyerang secara personal.
“Aku disumpahin mandul, disumpahin ini, disumpahin itu,” jelas Tasya.
Serangan tersebut menjadi salah satu tekanan mental terbesar yang pernah ia alami selama berkarier sebagai influencer. Tasya bahkan menyebut kejadian ini sebagai yang paling berat dan berlangsung cukup lama.
Ia pun menyadari bahwa cara penyampaiannya saat itu kurang tepat. Tasya mengakui kesalahan tersebut dan telah meminta maaf kepada publik.
“Aku salah sih, aku nggak boleh ngomong kayak gitu,” ujarnya.
Meski telah mengakui kesalahan, Tasya tetap pada prinsipnya terkait sistem endorsement. Ia menegaskan tidak akan melakukan promosi yang tidak sesuai dengan standar pribadinya.
Menurutnya, setiap konten yang dibuat memiliki dampak besar terhadap banyak pihak. Hal inilah yang kemudian membuatnya lebih berhati-hati dalam berkomunikasi di ruang publik.
Tasya juga mengaku terkejut dengan besarnya pengaruh yang ia miliki. Ia baru benar-benar menyadari dampak tersebut setelah kontroversi “halo kaka” terjadi.
Kini, ia memilih untuk lebih selektif dalam membagikan opini di media sosial. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting dalam perjalanan kariernya.
Di tengah tekanan yang datang, Tasya berusaha untuk tetap fokus pada hal-hal positif. Ia juga membatasi apa yang perlu dibagikan ke publik dan apa yang cukup disimpan untuk diri sendiri.
Kontroversi ini menjadi pengingat bahwa media sosial bisa dengan cepat membentuk opini. Tasya pun berharap ke depannya bisa lebih bijak dalam menyampaikan pendapat agar tidak kembali disalahartikan. (*)
Artikel Asli




