Grid.ID - Tasya Farasya mengungkapkan bahwa salah satu titik terendah dalam hidupnya terjadi saat dirinya bercerai dengan Ahmad Assegaf. Momen tersebut menjadi pengalaman yang sangat berat setelah perjalanan panjang hubungan yang telah dijalani bersama.
Diketahui, Tasya resmi bercerai pada November 2025 lalu. Perceraian tersebut dipicu oleh masalah kepercayaan, termasuk dugaan penggelapan dana perusahaan yang dilakukan oleh Ahmad.
Peristiwa itu meninggalkan luka mendalam bagi Tasya. Ia mengaku kehilangan arah setelah kepercayaan yang selama ini ia pegang runtuh begitu saja.
“Titik terendah mungkin waktu perceraian itu salah satu titik terendah sih,“ ujarnya dikutip dari YouTube Denny Sumargo pada Jumat (24/4/2026),
“Karena gimana ya, 14 tahun aku ngelajanin sama satu orang yang paling aku percaya gitu,” lanjutnya.
Namun, kepercayaan itu justru menjadi hal yang paling menyakitkan saat hilang. Ibu dua anak ini merasa kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi fondasi utama dalam hidupnya.
“Terus tiba-tiba terjadi kayak ibarat kata kehilangan rasa kepercayaan sama orang yang paling aku percaya, tiba-tiba aku kehilangan arah gitu loh,“ ungkapnya. Kondisi itu membuatnya merasa kebingungan dan sulit menemukan pegangan.
Ia bahkan sempat mempertanyakan arti dari kepercayaan itu sendiri. Pengalaman tersebut membuatnya berada dalam fase penuh keraguan.
“Jadi kayak kepercayaan tuh apa? Sempat ngerasa lost kayak gitu tuh ada,” katanya.
Menurutnya, kepercayaan adalah hal yang paling penting dalam sebuah hubungan. Tanpa itu, segala hal lain menjadi tidak berarti.
“Karena menurut aku pondasi nomor satu Adalah kepercayaan, itu yang enggak bisa dibeli sih,” tuturnya.
Sebelum akhirnya berpisah, wanita berusia 33 tahun ini sempat mencoba mempertahankan hubungan tersebut. Ia berusaha mencari cara untuk memperbaiki keadaan yang ada.
Awalnya tasya mencoba untuk bisa merubah perilaku mantan suaminya. Namun, ia menyadari bahwa mengubah seseorang bukanlah hal yang mudah.
“Ya, awalnya try to fix itu, tapi aku enggak suka ngerubah orang. Kayak misalnya aku mau sama gelas yang warnanya Hijau tosca, dia dingin, dan aku harus menerima dia seperti ini (apa adanya), itu aku, aku enggak suka ngerubah orang,” ungkapannya.
Menurut Tasya, perubahan sejati harus datang dari diri sendiri. Ia percaya bahwa seseorang tidak bisa berubah hanya karena tekanan dari orang lain.
“Orang susah dirubah, kecuali buat dirinya sendiri. Tapi aku berharap one day dia berubah, tapi tidak menemukan caranya, tidak menemukan waktunya ternyata,” jelasnya.
Meski menghadapi masalah besar, Tasya mengungkapkan bahwa hubungan mereka sebenarnya tidak sepenuhnya buruk. Ia menyebut bahwa permasalahan utama hanya terletak pada kepercayaan.
“Ya sebenarnya kita di permasalahan utama cuma di kepercayaan itu kan, sisa lainnya all good,” tutupnya. (*)
Artikel Asli


