Jakarta, tvOnenews.com — Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menegaskan, gejolak di Timur Tengah membawa dampak luas terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Ketidakpastian kawasan tersebut dinilai memicu kenaikan harga energi hingga berpotensi menekan daya beli masyarakat.
“Ya, jadi kalau misalnya apa, dampak daripada Timur Tengah, saya rasa hampir bisa dibilang universal di seluruh dunia, ya. Nah, tapi yang berbeda ialah respons dari setiap negara terhadap tentunya apa, keadaan tersebut,” ujar Anindya di Menara Kadin Indonesia, Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2026).
Menurutnya, dampak paling langsung terlihat dari sektor energi. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak hanya membebani biaya produksi, tetapi juga mengganggu stabilitas pasokan.
“Kalau misalnya apa yang terjadi, jelas: satu, ya harga BBM naik; ketersediaan tentunya turun; lalu juga ongkos produksi semakin naik; dan inflasi bisa terjadi di hal-hal lain seperti makanan yang membutuhkan tentunya hal-hal tadi, BBM dan lain-lain. Lalu dari sisi tentunya permintaan, ya permintaan juga pastinya akan sedikit bisa dibilang melemah, ya,” jelasnya.
Kondisi tersebut menciptakan tekanan berlapis bagi dunia usaha. Di satu sisi, biaya meningkat, sementara di sisi lain permintaan melemah. Situasi ini memaksa pelaku usaha dan pemerintah untuk menentukan strategi bertahan yang paling efektif.
“Jadi dalam keadaan seperti ini, tentu fokus pemerintah dan juga dunia usaha harus memilih apakah murni efisiensi, apakah efisiensi untuk bisa kembali kepada growth, ya. Nah, ini adalah dua jalur yang mesti ditempuh, mesti dipilih maksudnya,” katanya.
Anindya menegaskan, dunia usaha cenderung memilih langkah efisiensi sebagai strategi jangka pendek untuk menjaga keberlangsungan bisnis sekaligus mempersiapkan pemulihan pertumbuhan.
“Kalau saya lihat dari sisi dunia usaha, memilih untuk bisa efisiensi untuk cepat kembali kepada growth, ya,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa dampak konflik di Timur Tengah tidak bersifat sementara. Perubahan yang terjadi berpotensi menggeser struktur rantai pasok global dalam jangka panjang.
“Nah, tentu kita tidak mengatakan atau menafikan bahwa apa yang terjadi di Timur Tengah ini dampaknya bukan hanya satu dua bulan atau satu dua kuartal, bisa lebih. Karena ini merubah tatanan daripada supply chain atau rantai pasok, ya,” pungkasnya. (agr)




