Berstatus Siaga, Peralatan Pemantau Gunung Semeru Kembali Dicuri

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

MALANG, KOMPAS - Peralatan pemantau Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, hilang dicuri orang. Perangkat yang dicuri itu berfungsi sebagai power supply untuk sensor pemantauan dan sistem transmisi data pemantauan Gunung Semeru yang saat ini berstatus Siaga atau Level 3.  

Berdasarkan unggahan di akun Instagram Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, peralatan yang dicuri itu berada di Stasiun Pemantauan Kopirejo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Alat yang dicuri terdiri atas solar panel 12 unit, regulator solar panel 2 unit, accumulator (aki) 12 unit, penangkap petir, 1 set kabel grounding, stik grounding, power supply DC ke DC, dan 1 set kabel.

Kepala Pos Pantau Gunung Api Semeru Lumajang Liswanto, Jumat (24/4/2026), mengungkapkan, pencurian diperkirakan terjadi pada 16 April. “Peralatan diketahui mati, data tidak masuk. Saat ini laporan ke polisi sedang dilakukan,” ujarnya.

Menurut Liswanto, saat ini, pemantauan aktivitas Gunung Semeru masih berjalan dengan mengandalkan peralatan di pos yang lain. Berdasarkan catatan Kompas, Gunung Semeru memiliki 14 pos pemantauan yang tersebar di beberapa daerah, baik di Lumajang maupun Malang.

Baca JugaSemeru Masih Fluktuatif, Status Tetap Siaga

Pencurian peralatan ini merupakan kali kedua terjadi di Gunung Semeru. Sebelumnya, pada Agustus 2024, peralatan pemantau di Stasiun Klepu, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Malang, juga hilang dicuri orang. Peralatan yang kala itu hilang adalah baterei, solar panel, dan regulator.

Saat ditanya terkait dua lokasi pencurian tersebut, Liswanto mengatakan, dua tempat itu sudah tidak direkomendasikan untuk dipasang peralatan serupa.

Sementara itu, berdasarkan laman magma.esdm.go.id, sepanjang Jumat pagi hingga pukul 10.00 WIB, belum terjadi erupsi di Gunung Semeru. Sehari sebelumnya, Kamis (23/4/2026), Semeru mengalami sembilan kali erupsi, yakni pukul 05.02 WIB, 07.15, 16.44, 18.26, 20.06, 21.31, 22.08, 22.55, dan 23.32 WIB dengan tinggi kolom abu maksimal 1.000 meter di atas puncak.

Baca JugaPencurian Alat Pantau Gunung Kelud Berpotensi Ganggu Mitigasi Bencana

Sebelumnya, Ketua Tim Kerja Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Heruningtyas Desi Purnamasari, menjelaskan, aktivitas erupsi Semeru masih terus terjadi. Aktivitas paling dominan adalah embusan yang merupakan salah satu bentuk pelepasan energi.

“Jadi memang yang dominan saat ini di embusan dan aktivitas erupsinya. Kegempaan yang terjadi saat ini memang masih fluktuatif. Awal April menurun, pertengahan April meningkat, dan sekarang mulai menurun lagi,” ujarnya.

Menurut Heruningtyas, hal yang harus diantisipasi saat ini adalah terjadinya awan panas yang ditimbulkan dari guguran tumpukan material di area kawah Semeru. Saat gugur, material itu bisa menjadi aliran awan panas atau aliran piroklastik.

Di Semeru, awan panas bisa terjadi karena aktivitas guguran. Yang tidak kalah penting untuk diwaspadai adalah banjir lahar karena di wilayah Semeru masih sering terjadi hujan lebat.

“Ketika air hujan bercampur dengan material erupsi maka dapat menyebabkan lahar. Masyarakat diiumbau untuk selalu waspada dengan adanya lahar dan aliran awan panas,” katanya.

Baca JugaBaterai di Stasiun Pemantauan Gunung Semeru Dicuri

Peralatan diketahui mati, data tidak masuk. Saat ini laporan ke polisi sedang dilakukan

PVMBG pun memberikan beberapa rekomendasi terkait aktivitas Gunung Semeru. Salah satunya, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara, di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer (km) dari pusat erupsi.

Di luar jarak itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak. Masyarakat juga diimbau tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah karena rawan bahaya lontaran batu pijar.

Selain itu, warga juga musti mewaspadai potensi awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Panas! AS Kaji Serangan terhadap Panglima Garda Revolusi Iran
• 4 jam laludetik.com
thumb
Harga Kabel Meledak-Dolar AS Perkasa, Ini Efeknya ke Harga Elektronik
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Awal Mula Kericuhan Eksekusi Lahan di Cibubur, Tegang Warga vs Aparat hingga Wartawan
• 23 jam laludisway.id
thumb
Surat Pemanggilan Pemain Timnas Indonesia Jelang Piala AFF 2026 Bocor: Rizky Ridho Dicoret, Eksel Runtukahu Akhirnya Dapat Kesempatan
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Jadwal dan Lokasi Pemadaman Lampu di Jakarta Hari Bumi 2026, Akhir Pekan Hemat Energi
• 8 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.