JAKARTA, KOMPAS.com – Keberadaan perpustakaan mini di sejumlah taman kota di Jakarta belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan oleh warga.
Fasilitas literasi yang diharapkan menjadi ruang baca terbuka justru kerap terkunci dan tidak dapat diakses, sehingga fungsinya sebagai sarana edukasi publik menjadi terbatas.
Salah satu pengunjung, Annes (28), mengaku sempat tertarik saat pertama kali melihat perpustakaan mini tersebut.
Namun, rasa penasaran itu berubah menjadi kekecewaan ketika mengetahui fasilitas itu tidak bisa diakses.
Baca juga: Majalah Sobek, Buku Menguning: Potret Koleksi Perpustakaan Mini di Jakarta yang Terabaikan
“Waktu saya lihat di sini, saya sempat tertarik karena bentuknya lucu dan posisinya juga dekat pintu masuk. Tapi pas didekati ternyata dikunci, jadi agak kecewa,” kata Annes saat ditemui di Tebet Eco Park, Kamis (23/4/2026).
Menurut Annes, jika konsepnya memang ditujukan untuk umum, perpustakaan tersebut seharusnya dapat diakses bebas oleh pengunjung.
Ia menyarankan penerapan sistem sederhana, seperti membaca di tempat dan mengembalikan buku ke rak setelah selesai.
“Kalau memang konsepnya untuk umum, harusnya bisa diakses bebas. Minimal orang bisa buka, baca sebentar, lalu dikembalikan lagi ke tempatnya,” tutur Annes.
Ia juga menyoroti kondisi buku yang terlihat kurang terawat.
Dari luar, beberapa koleksi tampak kusut dan tidak tertata dengan baik, yang dinilai dapat mengurangi minat baca pengunjung.
Baca juga: Bale Buku, Pos Kamling yang Disulap Jadi Perpustakaan Mini demi Cegah Anak Keranjingan HP
“Menurut saya, kalau terus dikunci, orang jadi tidak merasa itu fasilitas yang bisa digunakan. Lama-lama malah dilupakan,” ucap Annes.
Ia berharap perpustakaan mini dapat dibuka secara rutin dan koleksinya diperbarui dengan buku-buku ringan yang menarik, terutama saat akhir pekan ketika taman ramai pengunjung.
Pengunjung Kecewa: Fasilitas Ada, tapi Tak Bisa DigunakanKeluhan serupa disampaikan Rianti (21), mahasiswa yang ditemui di Taman Suropati.
Ia mengaku sempat mencoba membuka perpustakaan mini, tetapi gagal karena terkunci.
“Saya sebenarnya cukup tertarik dengan konsep perpustakaan mini seperti ini. Buat mahasiswa atau pelajar, ini bisa jadi tempat baca gratis yang cukup membantu,” ujar dia.
Namun, keterbatasan akses menjadi kendala utama yang membuat fasilitas tersebut tidak bisa dimanfaatkan.
Selain itu, kondisi buku yang terlihat rusak dari luar juga menjadi perhatian.
“Tadi saya sempat coba buka, tapi ternyata tidak bisa. Dari situ saja sudah kelihatan kalau aksesnya terbatas,” kata Rianti.
Baca juga: Ridwan Kamil Ingin Bangun Perpustakaan Mini di Semua Kampung di Jakarta
Ia menambahkan, beberapa buku terlihat sobek dan tidak tertata rapi, yang berpotensi menurunkan minat baca masyarakat.
“Kalau bukunya tidak terawat, orang juga jadi kurang tertarik untuk membaca. Apalagi kalau sudah terlihat rusak,” ucap Rianti.
Menurutnya, pengelolaan di ruang terbuka memang tidak mudah, terutama terkait risiko kerusakan akibat cuaca atau kehilangan buku.





