Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia menyedot perhatian pelaku pasar karena mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan Jumat, 24 April 2026. Harga energi melampaui level US$100 per barel seiring meningkatnya ketegangan geopolitik terutama terkait Selat Hormuz.
Saat ini, Israel dan Lebanon sepakat memperpanjang gencatan senjata usai pertemuan dengan pejabat tinggi Amerika Serikat (AS) di Gedung Putih. Gencatan senjata awalnya berlaku selama 10 hari kini diperpanjang untuk memberi ruang negosiasi diplomatik dan Washington juga berjanji akan memperkuat pertahanan Lebanon dari ancaman kelompok Hizbullah.
"Pertemuan berlangsung sangat baik!” tulis Presiden AS, Donald Trump, dalam unggahan di Truth Social.
Di satu sisi, konflik utama antara AS dan Iran justru memasuki babak baru, yakni perang pengaruh masing-masing negara atas Selat Hormuz. AS melakukan penyitaan kapal sementara Iran konsisten menutup Selat Hormuz sehingga memicu kekhawatiran krisis energi global.
- AI ChatGPT
Melansir CNBC Internasional, harga minyak mentah acuan internasional, Brent, melonjak lebih dari 1,25 persen menjadi US$105,38 atau sekitar Rp 1,82 juta (estimasi kurs Rp 17.280 per dolar AS) per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat 1,14 persen menjadi US$96,96 atau sekitar Rp 1,67 per barel.
Analis dari Commonwealth Bank of Australia menilai, penutupan selat tersebut akan berdampak besar pada ekonomi global. Dalam riset hariannya, analis menyampaikan semakin lama selat ditutup, semakin besar biaya ekonomi yang harus ditanggung dan meningkatkan kemungkinan salah satu pihak akan terpaksa mundur.
Meski gencatan senjata antara AS dan Iran secara teknis masih berlangsung, tekanan ekonomi dan politik diperkirakan akan menentukan arah konflik selanjutnya. AS berpotensi menjadi pihak pertama yang melunak.
“Kami menilai AS kemungkinan akan menjadi pihak pertama yang mundur karena tekanan politik dan ekonomi yang meningkat. Namun, tetap ada risiko eskalasi militer besar yang dapat mendorong penguatan dolar AS secara signifikan,” imbuh Analis Commonwealth Bank of Australia.
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, memperingatkan bahwa dunia saat ini menghadapi ancaman terbesar dalam sektor energi. Ia mengungkapkan, gangguan pasokan saat ini telah menghilangkan sekitar 13 juta barel minyak per hari dari pasar global.





