Harga Minyak Dunia Tembus Rp1,82 Juta, Pasar Waspada Krisis Energi saat Konflik AS-Iran Memanas

viva.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia menyedot perhatian pelaku pasar karena mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan Jumat, 24 April 2026. Harga energi melampaui level US$100 per barel seiring meningkatnya ketegangan geopolitik terutama terkait Selat Hormuz. 
 
Saat ini, Israel dan Lebanon sepakat memperpanjang gencatan senjata usai pertemuan dengan pejabat tinggi Amerika Serikat (AS) di Gedung Putih. Gencatan senjata awalnya berlaku selama 10 hari kini diperpanjang untuk memberi ruang negosiasi diplomatik dan Washington juga berjanji akan memperkuat pertahanan Lebanon dari ancaman kelompok Hizbullah.

"Pertemuan berlangsung sangat baik!” tulis Presiden AS, Donald Trump, dalam unggahan di Truth Social.

Baca Juga :
Kapal Induk USS George H.W. Bush Tiba di Dekat Iran, Sinyal Tekanan Baru AS?
Efek Krisis Timur Tengah, Transaksi Minyak Mentah Melejit dari Belasan ke Ratusan

Di satu sisi, konflik utama antara AS dan Iran justru memasuki babak baru, yakni perang pengaruh masing-masing negara atas Selat Hormuz. AS melakukan penyitaan kapal sementara Iran  konsisten menutup Selat Hormuz sehingga memicu kekhawatiran krisis energi global. 

Ilustrasi militer AS blokade Selat Hormuz
Photo :
  • AI ChatGPT

Melansir CNBC Internasional, harga minyak mentah acuan internasional, Brent, melonjak lebih dari 1,25 persen menjadi US$105,38 atau sekitar Rp 1,82 juta (estimasi kurs Rp 17.280 per dolar AS) per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat 1,14 persen menjadi US$96,96 atau sekitar Rp 1,67 per barel.

Analis dari Commonwealth Bank of Australia menilai, penutupan selat tersebut akan berdampak besar pada ekonomi global. Dalam riset hariannya, analis menyampaikan semakin lama selat ditutup, semakin besar biaya ekonomi yang harus ditanggung dan meningkatkan kemungkinan salah satu pihak akan terpaksa mundur.

Meski gencatan senjata antara AS dan Iran secara teknis masih berlangsung, tekanan ekonomi dan politik diperkirakan akan menentukan arah konflik selanjutnya. AS berpotensi menjadi pihak pertama yang melunak.

“Kami menilai AS kemungkinan akan menjadi pihak pertama yang mundur karena tekanan politik dan ekonomi yang meningkat. Namun, tetap ada risiko eskalasi militer besar yang dapat mendorong penguatan dolar AS secara signifikan,” imbuh Analis Commonwealth Bank of Australia.

Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, memperingatkan bahwa dunia saat ini menghadapi ancaman terbesar dalam sektor energi. Ia mengungkapkan, gangguan pasokan saat ini telah menghilangkan sekitar 13 juta barel minyak per hari dari pasar global.

Baca Juga :
Memanas! AS Sita Kapal Diduga Selundupkan Minyak Iran di Samudera Hindia
Trump Perintahkan Tembak Kapal Iran Penebar Ranjau di Selat Hormuz
Iran Kantongi Pendapatan Perdana dari Tarif Selat Hormuz, Berapa Nilainya?

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Komnas HAM Soroti Tewasnya 15 Warga Sipil di Papua Tengah
• 9 jam lalutvrinews.com
thumb
Hindari Nomor Kursi Pesawat Ini Menurut Pakar
• 8 jam lalubeautynesia.id
thumb
AHY Sebut Penguatan Infrastruktur dan Konektivitas untuk Pengembangan Wisata Bahari
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BRI Super League: Masih Muda, Arkham Fikri Tak Ciut Nyali Hadapi Persib di Bandung
• 9 jam lalubola.com
thumb
BPBD: Parkir dan Bangunan Liar Hambat Pemadaman Kebakaran di Permukiman Padat Jaksel
• 11 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.