EtIndonesia. Menjelang berakhirnya kesepakatan gencatan senjata AS–Iran, Amerika Serikat mengumumkan putaran baru sanksi terhadap Iran, sementara Uni Eropa juga memperluas langkah serupa. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa blokade menyebabkan Iran kehilangan hingga 500 juta dolar per hari, sumur minyak terpaksa dihentikan, dan aparat militer serta polisi di tingkat bawah tidak lagi menerima gaji, memicu keluhan luas sekaligus pertikaian sengit di kalangan elite.
Seiring mendekatnya tenggat gencatan senjata dan ketidakjelasan prospek negosiasi, AS terus meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan mengumumkan sanksi baru.
Departemen Keuangan Amerika Serikat dalam pernyataannya menyebutkan bahwa sanksi ini menargetkan rantai pasokan drone dan rudal Iran. Sanksi mencakup 14 individu dan entitas dari Iran, Turki, dan Uni Emirat Arab, termasuk yang terkait dengan drone “Shahed-136” serta teknologi bahan bakar padat. Selain itu, jaringan logistik lintas negara milik Mahan Air yang lama membantu pengiriman senjata juga menjadi sasaran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa blokade pelabuhan oleh militer AS akan membuat fasilitas penyimpanan minyak Iran penuh, sehingga sumur minyak terpaksa dihentikan—langsung memutus sumber pendapatan utama negara tersebut. AS juga akan membekukan aset luar negeri para pemimpin Iran serta menghentikan bantuan eksternal, dan memperingatkan bahwa siapa pun—individu atau kapal—yang membantu Iran akan menghadapi sanksi.
Trump menambahkan bahwa blokade di Selat Hormuz telah menyebabkan kerugian harian sebesar 500 juta dolar, dan saat ini aparat militer serta polisi Iran sudah tidak menerima gaji, sehingga memicu ketidakpuasan luas.
Di bawah tekanan ganda berupa krisis keuangan dan blokade eksternal, konflik kekuasaan di dalam pemerintahan Iran juga semakin memanas.
Sementara itu, Uni Eropa mengambil sikap tegas dengan memperluas sanksi terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas gangguan terhadap kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
“Kebebasan navigasi adalah prinsip yang tidak bisa dinegosiasikan… Jalur pelayaran melalui selat tersebut harus tetap terbuka… Kami juga telah mencapai kesepakatan politik untuk memperluas mekanisme sanksi, termasuk terhadap pihak yang melanggar kebebasan navigasi,” kata Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas.
Uni Eropa juga terus memperkuat operasi angkatan laut “Shield” guna menjaga keamanan jalur pelayaran.
Reporter NTD Television Zheng Shengxun melaporkan dari Amerika Serikat.





