Jakarta (ANTARA) - Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan dr. Indri Yogyaswari mengatakan pihaknya menggandeng sejumlah komunitas keagamaan sebagai upaya menangkal disinformasi dan misinformasi seputar imunisasi dan meningkatkan cakupan imunisasi nasional.
"Kita kemarin itu memanfaatkan momen campak. Kita rangkul teman-teman dari NU, dari Muhammadiyah, terus yang dari perempuannya itu dari Aisiyah sama Fatayat NU," kata Indri di Jakarta, Jumat.
Dia menjelaskan, para petinggi di organisasi-organisasi tersebut tidak menolak, bahkan mendukung upaya imunisasi pemerintah. Namun demikian, pihaknya membutuhkan para pemuka agama itu untuk menyampaikan pesan kepada anggota-anggotanya.
Indri menjelaskan bahwa di antara sejumlah hambatan dalam perluasan cakupan imunisasi, seperti orang merasa imunisasi tidak penting atau belum ada gunanya, status halal dan haram vaksin, ada juga yang menyangkut persepsi seseorang terhadap takdir.
Baca juga: Vaksinasi melindungi semua usia dari infeksi virus secara optimal
"Misalnya juga, kan saya kebetulan Muslim ya. Jadi 'sakit itu udah takdir'. Jadi udah qadarullah orang sakit. Jadi kita mau upaya apapun untuk ini, itu nanti tidak akan terlalu banyak bermakna untuk menghindari sakit itu," ujar dia mencontohkan.
Menurut dia, yang harus ditekankan adalah imunisasi tidak 100 persen mencegah penyakit. Namun dengan vaksinasi, apabila terkena penyakit tersebut, keparahan hingga kematian dapat dicegah, dan penyakit tersebut tidak ditularkan ke orang lain.
Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono memberi tiga pesan bagi media agar dapat berkontribusi meningkatkan cakupan imunisasi di Indonesia, mengingat imunisasi adalah investasi kesehatan yang sangat efektif untuk mencegah keparahan hingga kematian.
"Kita lihat bahwa cerita-cerita tentang cacar, polio, kemudian penyakit-penyakit lain, itu kematiannya sangat besar. Dan kalau sudah bisa tereradikasi, menjadi hilang dari permukaan bumi," kata Dante di Jakarta, Kamis, saat Pekan Imunisasi Dunia 2026.
Baca juga: Wamenkes beri tiga pesan untuk media guna tingkatkan cakupan imunisasi
Yang pertama, menjadi edukator yang baik. Kedua, menjadi penyegar di tengah kekeruhan informasi. Ketiga, katanya, memberikan informasi yang aktual.
Deputy Resident Representative United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia Sujala Pant mengatakan, imunisasi adalah intervensi kesehatan paling efektif dan efisien, dan hal itu sudah dibuktikan di seluruh dunia.
"Tiap dolar yang kita investasikan untuk imunisasi, ada return sebesar 52 dolar di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah," kata Sujala.
Dia menambahkan, tiap tahun vaksinasi anak-anak diperkirakan telah mencegah sekitar 4 juta kematian per tahunnya. Menurut dia, Pekan Imunisasi Dunia 2026 menjadi waktu untuk menguatkan komitmen dalam membangun sistem kesehatan guna mencapai Indonesia Emas 2045.
Baca juga: IDAI: Beri informasi positif untuk edukasi kelompok antivax
"Kita kemarin itu memanfaatkan momen campak. Kita rangkul teman-teman dari NU, dari Muhammadiyah, terus yang dari perempuannya itu dari Aisiyah sama Fatayat NU," kata Indri di Jakarta, Jumat.
Dia menjelaskan, para petinggi di organisasi-organisasi tersebut tidak menolak, bahkan mendukung upaya imunisasi pemerintah. Namun demikian, pihaknya membutuhkan para pemuka agama itu untuk menyampaikan pesan kepada anggota-anggotanya.
Indri menjelaskan bahwa di antara sejumlah hambatan dalam perluasan cakupan imunisasi, seperti orang merasa imunisasi tidak penting atau belum ada gunanya, status halal dan haram vaksin, ada juga yang menyangkut persepsi seseorang terhadap takdir.
Baca juga: Vaksinasi melindungi semua usia dari infeksi virus secara optimal
"Misalnya juga, kan saya kebetulan Muslim ya. Jadi 'sakit itu udah takdir'. Jadi udah qadarullah orang sakit. Jadi kita mau upaya apapun untuk ini, itu nanti tidak akan terlalu banyak bermakna untuk menghindari sakit itu," ujar dia mencontohkan.
Menurut dia, yang harus ditekankan adalah imunisasi tidak 100 persen mencegah penyakit. Namun dengan vaksinasi, apabila terkena penyakit tersebut, keparahan hingga kematian dapat dicegah, dan penyakit tersebut tidak ditularkan ke orang lain.
Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono memberi tiga pesan bagi media agar dapat berkontribusi meningkatkan cakupan imunisasi di Indonesia, mengingat imunisasi adalah investasi kesehatan yang sangat efektif untuk mencegah keparahan hingga kematian.
"Kita lihat bahwa cerita-cerita tentang cacar, polio, kemudian penyakit-penyakit lain, itu kematiannya sangat besar. Dan kalau sudah bisa tereradikasi, menjadi hilang dari permukaan bumi," kata Dante di Jakarta, Kamis, saat Pekan Imunisasi Dunia 2026.
Baca juga: Wamenkes beri tiga pesan untuk media guna tingkatkan cakupan imunisasi
Yang pertama, menjadi edukator yang baik. Kedua, menjadi penyegar di tengah kekeruhan informasi. Ketiga, katanya, memberikan informasi yang aktual.
Deputy Resident Representative United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia Sujala Pant mengatakan, imunisasi adalah intervensi kesehatan paling efektif dan efisien, dan hal itu sudah dibuktikan di seluruh dunia.
"Tiap dolar yang kita investasikan untuk imunisasi, ada return sebesar 52 dolar di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah," kata Sujala.
Dia menambahkan, tiap tahun vaksinasi anak-anak diperkirakan telah mencegah sekitar 4 juta kematian per tahunnya. Menurut dia, Pekan Imunisasi Dunia 2026 menjadi waktu untuk menguatkan komitmen dalam membangun sistem kesehatan guna mencapai Indonesia Emas 2045.
Baca juga: IDAI: Beri informasi positif untuk edukasi kelompok antivax





