jpnn.com, BANDUNG - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menggelar acara Gaskeun Camp: Kolab Jadi Jawara, pada Kamis (23/4).
Dengan tema “#GaskeunJagaInfo: Kolaborasi Ala Muda, Bela Negara Ala Bandung”, acara itu mengajak generasi Z meninggalkan sikap scroll pasif dan menjadi digital patriot sejati.
BACA JUGA: Banjir Tinggalkan Trauma, Kemkomdigi Beri Dukungan Psikososial Bagi Anak-anak Terdampak Bencana
Direktur Informasi Publik, Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Kemkomdigi, Nursodik Gunarjo menuturkan medan perang bela negara kini telah bergeser ke layar gawai.
Dia menyebut ada tiga ancaman digital utama yang harus dilawan bersama: hoaks dan disinformasi, malinformasi, serta apatisme digital – sikap cuek dan hanya menjadi konsumen informasi tanpa verifikasi.
BACA JUGA: Kesetaraan Gender di SIG Bukan Sekadar Slogan, Terimplementasi di Seluruh Lini Perusahaan
“Ancaman tidak selalu datang dalam bentuk bom atau peluru, tapi bisa berupa tautan, meme, atau komentar yang dirancang untuk memecah belah kita. Ingat, jempol kalian adalah senjata, dan unggahan kalian adalah benteng terakhir bangsa di era digital,” tegas Nursodik di hadapan ratusan peserta.
Nursodik menjelaskan Bandung dipilih bukan tanpa alasan. Dengan lebih dari 300.000 mahasiswa dan ribuan creator digital, kota ini adalah laboratorium hidup perilaku Gen Z nasional.
BACA JUGA: Sambut Era CoreTax, Akuntara Hadir untuk Berdayakan Lulusan SMK
Selain itu, semangat sejarah Bandung Lautan Api menjadi pengingat bahwa perlawanan terhadap ancaman –dulu penjajah, kini hoaks– harus dilakukan dengan cara yang sama: kolektif, total, dan tanpa kenal lelah.
"Apa yang viral di Bandung, sebulan kemudian viral di seluruh Indonesia. Jika kita berhasil menggerakkan anak-anak muda Bandung hari ini menjadi patriot digital, efeknya akan berganda melalui konten-konten yang mereka buat dan kolaborasikan," tambah Nursodik.
Acara yang berlangsung di salah satu kampus di Kota Bandung ini menghadirkan narasumber lintas sektor: dari aparat keamanan siber, pegiat lingkungan, hingga influencer pemberdayaan muda.
Sekitar enam perguruan tinggi mengirimkan mahasiswanya: Universitas Pasundan (Unpas), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Islam Bandung (Unisba), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), UIN Sunan Gunung Jati, dan Universitas Komputer Indonesia (Unikom).
Mereka bergabung dengan komunitas seperti Bandung Creative City Forum (BCCF), MAFINDO, serta puluhan content creator lokal.
Setelah sesi sharing dan coaching clinic, para peserta langsung ditantang membuat rencana konten dan kampanye #GaskeunJagaInfo di media sosial masing-masing.
Beberapa ide yang muncul antara lain: series TikTok “Cek Fakta Sebelum FYP”, kolaborasi duet klarifikasi hoaks antar komunitas, hingga gerakan #FilterPatriot yang mengajak publik memverifikasi informasi sebelum share.(chi/jpnn)
Redaktur & Reporter : Yessy Artada




