Pola makan anak kini semakin bergeser ke arah yang lebih praktis. Ya Moms, makanan instan, kemasan, hingga camilan siap saji makin sering menjadi pilihan sehari-hari, bahkan untuk anak usia dini.
Tanpa disadari, banyak anak sudah mengonsumsi ultra processed food (UPF) dalam jumlah signifikan, yang berpotensi berdampak pada kesehatan mereka dalam jangka panjang.
Anak Indonesia Jadi yang Tertinggi Konsumsi UPFBerdasarkan data UNICEF, Indonesia tercatat sebagai negara dengan konsumsi UPF tertinggi di dunia pada anak usia 0–5 tahun. Bahkan, makanan jenis ini menyumbang sekitar 38% dari total kalori harian anak.
Temuan ini diperkuat oleh paparan Dr. Neha Khandpur, MSc (Wageningen University, The Netherlands) dalam webinar internasional “Eat Real Food and Minimally Processed Diets for Child and Youth Health”.
Data ini membandingkan pola konsumsi anak di 16 negara. Dalam pemaparannya, Indonesia terlihat menonjol dengan kontribusi UPF yang tinggi di berbagai kelompok usia, mulai dari bayi hingga remaja.
“Sebagian besar kalori dalam pola makan anak di beberapa negara, termasuk Indonesia, sudah berasal dari makanan ultraproses. Ini bukan lagi bagian kecil, tapi sudah menjadi signifikan,” jelas Dr. Neha Khandpur di acara webinar internasional, Kamis (23/4).
Ia juga menegaskan, dampaknya tidak bisa dianggap sepele.
“Secara umum, anak dengan konsumsi makanan ultraproses tinggi memiliki risiko 21% lebih tinggi untuk mengalami kelebihan berat badan atau obesitas dibandingkan dengan yang konsumsinya rendah,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pola makan anak saat ini tidak hanya soal kenyang, tetapi juga kualitas gizi yang dikonsumsi setiap hari.
Ketika UPF mendominasi, asupan nutrisi penting bisa tergantikan oleh gula, garam, dan lemak berlebih. Ini yang membuat anak-anak rawan terkena obesitas, Moms.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa kebiasaan makan anak perlu diperhatikan sejak dini. Apa yang dikonsumsi hari ini akan sangat menentukan kesehatan mereka di masa depan.





