IHSG Anjlok 3,06 Persen Imbas Sentimen Global dan Risiko Fiskal RI

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mencatatkan koreksi tajam pada perdagangan, Jumat (24/4/2026). Sentimen negatif global dan proyeksi ekonomi dalam negeri mengkhawatirkan investor asing, sementara pemerintah belum melakukan intervensi yang nyata.

Sepanjang jam bursa di akhir pekan ini, indeks ditutup merosot 249 poin atau melemah 3,38 persen ke level 7.129. Pada perdagangan sesi I, hari ini, investor asing melakukan penjualan bersih sebesar Rp 1,9 triliun.

Dilihat berdasarkan sektornya, pelemahan harga saham tercatat di seluruh sektor, dengan penurunan terdalam di sektor energi, infrastruktur, dan konsumer non-primer.

Pelemahan IHSG sejalan dengan mayoritas bursa regional dan dunia yang bergerak di zona merah, meski tidak sedalam indeks komposit RI. Perubahan pergerakan indeks saham Dow Jones -0,36 persen, S&P 500 -0,41 persen, FTSE 100 -0,75 persen, Nasdaq -0,89 persen. Sementara itu, indeks yang bergerak naik seperti Nikkei Jepang 0,91 persen dan Hang Seng 0,24 persen.

Analis Pasar Saham MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, kepada Kompas, menilai, pelemahan indeks saham dibanyak negara disebabkan kekhawatiran pasar terhadap kenaikan harga minyak mentah dunia. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent beberapa hari terakhir bertahan di level tinggi di kisaran 90-110 dolar AS per barel.

"Meskipun ada angin segar dari perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari di beberapa titik konflik, harga minyak mentah cenderung menguat. Hal ini dikhawatirkan memicu inflasi global dan perlambatan ekonomi," ujar Herditya.

Selain faktor harga minyak dunia, kondisi di dalam negeri kian menantang dengan terus melemahnya nilai tikar rupiah terhadap dolar AS. Dalam sepekan, nilai tikar rupiah konsisten di atas Rp 17.000 per dolar, bahkan sempat memecahkan rekor di level Rp 17.300 pada Kamis (23/4).

Muhammad Wafi, Head of Research PT Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (PT KISI), menilai rupiah menjadi mata uang yang mengalami depresiasi terlemah di Asia jika dilihat sejak awal tahun.

Baca JugaHadapi Tekanan Ganda, Rupiah Tembus Rp 17.300

Depresiasi rupiah diikuti arus dana asing keluar, yang antara lain karena tingginya yield atau imbal hasil obligasi AS yang menarik dana dari pasar berkembang. Kondisi ini mengakibatkan arus dana asing keluar dari pasar rupiah triliun rupiah dalam sepekan.

Hal ini diperparah oleh absennya katalis positif domestik serta aksi ambil keuntungan pasca banyak emiten membagikan dividen, yang memicu kepanikan dan rotasi menuju aset safe haven.

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings bahkan menurunkan proyeksi kredit empat bank raksasa Indonesia, yaitu PT Bank Mandiri Persero Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk Persero (BBNI) dari stabil menjadi negatif.

Dikutip dari Bloomberg, Fitch juga menyoroti risiko defisit fiskal Indonesia. Pelanggaran batas defisit 3 persen PDB masih ditoleransi jika sementara akibat dampak perang Timur Tengah. Namun, mereka menyarankan agar pemerintah harus punya jalur konsolidasi fiskal yang jelas dan komunikasi kuat ke pasar, termasuk untuk mendukung target pertumbuhan 8 persen.

Peluang pekan depan

Herditya menilai, IHSG hari ini berhasil untuk tidak menjebol level di bawah 7.000. Berdasarkan analisisnya, jika IHSG berhasil menjebol area 6.917 hari ini, maka peluang penurunan lanjutan makin besar.

Sementara itu, Tim Analis Phintraco Sekuritas dalam laporannya menilai bahwa IHSG tetap berpeluang melanjutkan pelemahan jika pada perdagangan pekan depan. IHSG bisa menguji level 7.000 jika tekanan negatif tidak banyak diredam berita positif.

Baca JugaStrategi Investasi di Tengah Badai Rupiah

Menurut mereka, ketidakpastian geopolitik akibat konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz, masih akan lebih lama mendorong harga minyak mentah di harga tinggi, lebih dari perkiraan sebelumnya.

"Perpanjangan gencatan senjata Israel dan Lebanon selama tiga pekan tidak cukup kuat untuk meredakan kekhawatiran pasar," kata mereka.

Investor dinilai semakin meragukan akan potensi AS dan Iran kembali ke meja perundingan dalam waktu dekat, di tengah konflik di sekitar Selat Hormuz.

Pada pekan depan, investor akan menantikan rapat bank sentral AS, FOMC meeting, pada Rabu (29/4). Bank sentral tersebut diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5 persen-3,75 persen.

Selain itu, investor akan memantau kinerja ekonomi AS lewat beberapa rilis data ekonomi. Pekan depan, dijadwalkan akan dirilis data consumer confidence, data perumahan, GDP triwulan I-2026, personal income, personal spending, indeks PCE prices dan ISM manufacturing index.

Investor juga akan mencermati pertemuan Bank of Japan pada Selasa (28/4) yang diperkirakan juga mempertahankan suku bunga acuan tetap di 0,75 persen, meskipun data inflasi di Jepang meningkat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cargloss Group Rayakan 40 Tahun Perjalanan Industri dan Tandai Transisi Kepemimpinan Generasi Kedua
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
BPS Rilis Tabel Konversi Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia 2020-2025
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Ruam Popok Masih Jadi PR Ibu, Ini Langkah Perawatan yang Tepat
• 23 jam laluherstory.co.id
thumb
Pemulangan 217 PMI dari Malaysia Jadi Gelombang Ketiga 2026, Banyak yang Masuk Kelompok Rentan
• 20 jam lalupantau.com
thumb
15,5 Juta Anak Indonesia Alami Masalah Kesehatan Mental, Kemenkes Perkuat Pendampingan
• 14 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.