JAKARTA, DISWAY.ID -- Krisis kesehatan mental anak di Indonesia semakin mengkhawatirkan.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan bahwa sekitar 15,5 juta anak menghadapi masalah psikologis tanpa pendampingan yang memadai.
“Ini adalah krisis senyap. Jutaan anak Indonesia berjuang sendiri dengan persoalan psikologisnya,” ujarnya di Jakarta, Kamis, 23 April 2026.
BACA JUGA:Bukan Sekadar Minum Obat, Ini Cara Kalbe dan Kemenkes Tangani Diabetes
Berdasarkan temuan yang diperkuat hasil evaluasi program cek kesehatan gratis Kementerian Kesehatan.
Data menunjukkan gangguan psikologis pada anak terjadi lima kali lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa.
Bahkan, tiga dari lima anak dilaporkan mengalami masalah kesehatan mental dengan tingkat yang beragam.
Dante kembali menjelaskan, persoalan ini kerap tidak terdeteksi karena anak cenderung memendam masalah.
Mereka memilih diam, menarik diri, hingga tidak mengetahui ke mana harus mencari bantuan saat mengalami tekanan.
BACA JUGA:Cegah Penyakit, Kemenkes Wajibkan Pencantuman Label Gizi untuk Makanan dan Minuman Siap Saji
Sebagai respons, Kemenkes mendorong penguatan sistem pendampingan berbasis sekolah dan lingkungan terdekat.
Program ini melibatkan siswa, guru Bimbingan Konseling (BK), kepala sekolah, hingga teman sebaya sebagai garda awal deteksi dini.
“Dan teman curhat harus dibekali pengetahuan yang benar. Jangan sampai justru memberi masukan yang keliru dan merusak,” kata Dante.
Salah satu upaya konkret adalah menghadirkan buku Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis sebagai panduan praktis bagi pelajar dan tenaga pendidik.
Buku ini membantu mengenali serta menangani masalah seperti stres akademik, tekanan sosial, hingga kasus perundungan.
- 1
- 2
- »





