Harga Vaksin Influenza Trivalen Terjangkau Meningkatkan Cakupan Vaksinasi

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Saat ini, influenza masih menjadi ancaman kesehatan pernapasan global. Dalam setahun diperkirakan 290.000 hingga 650.000 kematian akibat influenza setiap tahun di seluruh dunia. Selama ini cakupan vaksinasi influenza masih sekitar 2 persen. Penggunaan vaksin trivalen dengan harga yang ekonomis diharapkan bisa mendongkrak cakupan vaksinasi influenza.

Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si, mengatakan, selama lebih dari satu dekade, vaksin kuadrivalen dikembangkan untuk melindungi dari dua galur virus flu jenis A yaitu H1N1 dan H3N2 serta dua galur virus flu jenis B yaitu Victoria dan Yamagata.

Namun, sejak tahun 2020, virus B/Yamagata tidak ditemukan lagi di seluruh dunia. “Oleh karena itu, pada 2023, WHO menilai keberadaan komponen virus B/Yamagata dalam vaksin tidak diperlukan lagi,” kata Sudjatmiko yang juga Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak FKUI dalam acara diskusi media, di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Perubahan rekomendasi WHO mencerminkan dinamika epidemiologi influenza global yang perlu direspons secara ilmiah dan adaptif. Sejumlah studi menunjukkan bahwa vaksin influenza trivalen (TIV) memiliki profil imunogenisitas, efektivitas, dan keamanan yang sebanding dengan vaksin kuadrivalen (QIV).

Soedjatmiko mengungkapkan, efektivitas vaksin ditentukan oleh kesesuaian antigen dengan virus yang beredar. Menurut Soedjatmiko, transisi dari QIV ke TIV bukanlah bentuk pengurangan perlindungan, melainkan optimalisasi vaksin sesuai dengan bukti ilmiah terbaru. Fokus utama tetap pada vaksin influenza trivalen untuk melindungi seluruh anggota keluarga, dari bayi hingga lansia, dengan harga ekonomis.

”Dengan harga terjangkau, vaksinasi dapat diberikan setiap tahun. Jadwal imunisasi anak dan dan dewasa juga tetap sama,” tambah Soedjatmiko yang juga anggota Komite Imunisasi Nasional (KIN/ITAGI).

Menurut Soedjatmiko, berdasarkan telah ilmiah, data surveilans, dan diskusi multidisiplin dalam Expert Meeting di Jakarta pada 16 Februari 2026, panel ahli menyatakan bahwa penghapusan galur B/Yamagata memiliki dasar ilmiah yang kuat, yaitu tidak lagi bersirkulasi. Keamanan dan efektivitas trivalen sebanding dengan kuadrivalen sehingga vaksin QIV yang masih tersedia dapat tetap digunakan selama masa transisi.

Baca JugaVaksin Influenza Efektif Cegah Infeksi Berat akibat Superflu


Di negara tropis seperti Indonesia, sirkulasi virus sepanjang tahun menjadikan influenza sebagai tantangan kesehatan masyarakat yang perlu diantisipasi. Vaksin influenza berperan penting dalam melindungi masyarakat dari risiko infeksi dan komplikasi.

Soedjatmiko menegaskan, influenza bukanlah common cold (selesma). Influenza disebabkan virus influenza tipe A dan B. Untuk tipe A dapat memicu pandemi global sedangkan tipe B menyebabkan epidemi musiman (lebih ringan dibanding Influenza A). Sementara common cold seperti sakit pilek dan batuk ringan disebabkan oleh lebih 200 virus, terutama rhinovirus (30–50 persen), coronavirus musiman, parainfluenza, RSV, dan adenovirus.

Gejala klinis khas influenza adalah demam tinggi lebih dari 38 derajat celcius, nyeri otot berat, kelelahan lama, batuk kering, dan anoreksia. Influenza A antara lain pernah menyebabkan pandemi paling mematikan dengan estimasi kematian global 50-100 juta orang pada 1918-1920 yang disebut flu spanyol.

Pandemi global flu babi pada 2009-2010 juga merenggut 200.000-400.000 nyawa. Meski lebih ringan dari influenza A, influenza B tetap menimbulkan ribuan kematian per dekade terutama pada anak, lansia, dan penderita komorbid. Vaksinasi influenza merupakan intervensi paling efektif untuk mencegah penyakit berat dan komplikasi.

Ketahanan kesehatan

Untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional, PT Kalbe Farma Tbk melalui anak usahanya, PT Kalventis Sinergi Farma, turut memproduksi vaksin influenza trivalen. Menurut Vidi Agiorno Metupawan, Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma, ketersediaan vaksin ini penting untuk mencegah perburukan akibat penyakit influenza, risiko rawat inap, dan kematian.

”Upaya ini juga mendukung tema World Immunization Week yaitu For Every Generation, Vaccines Work yang mengingatkan warga mengenai manfaat perlindungan vaksin di segala usia demi memperpanjang harapan hidup,” kata Vidi.

Sebagai perusahaan farmasi yang berlandaskan sains dan data, Kalventis bersama Kalbe menghadirkan solusi kesehatan yang selaras rekomendasi WHO. Kalventis juga membangun ekosistem yang mencakup edukasi bagi tenaga kesehatan, penyediaan informasi layanan vaksinasi yang mudah diakses, serta kampanye kesadaran publik.

Hal itu menjadi bagian dari upaya mencapai herd immunity dan memastikan setiap keluarga Indonesia mendapatkan perlindungan optimal dari risiko influenza.

Vidi mengungkapkan, vaksinasi adalah investasi kesehatan yang sangat efektif. Awal tahun lalu, misalnya, Indonesia sempat menghadapi wabah super flu yang penderitanya bisa meninggal dunia. “Flu tidak lagi sesederhana yang kita pikirkan. Bahkan sekarang bisa satu minggu sampai dua minggu rawat inap di rumah sakit. Itu mengganggu produktivitas dan juga mengganggu kesehatan anak-anak kita, termasuk kita sendiri,” ujar Vidi.

Baca JugaInfluenza, Wabah yang Paling Sering Dilaporkan dalam 23 Tahun

Meskipun kerap dianggap ringan, influenza dapat berdampak serius, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, dan anak-anak. Secara global, tingkat kejadian influenza pada anak mencapai 20–30 persen. Persentase ini lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

Berdasarkan hasil pengolahan data surveilans Influenza Like Illness (ILI) di Puskesmas Jawa Barat tahun 2023, total jumlah kasus ILI terjadi paling banyak pada populasi anak usia 5-15 tahun. ILI dapat terjadi pada kelompok usia lain.

Flu tidak lagi sesederhana yang kita pikirkan. Bahkan sekarang bisa satu minggu sampai dua minggu rawat inap di rumah sakit.

Dokter Spesialis Anak, Kanya Ayu, menambahkan bahwa anak-anak berkontribusi lebih besar terhadap penyebaran influenza di masyarakat. Ini terjadi karena daya tularnya yang tinggi. Selain itu, keberadaan virus influenza di dalam tubuh anak lebih lama dibandingkan orang dewasa. Hal ini membuat virus sudah bisa menular walaupun belum bergejala atau bahkan sudah sembuh dari influenza.

“Komplikasi influenza pada anak juga termasuk serius dan membahayakan, seperti pneumonia, infeksi telinga, infeksi sinus, hingga ensefalitis,” ujar Kanya.

Selain itu, tambah Kanya, angka rawat inap pada anak usia pra-sekolah sebanding dengan angka rawat inap pada kelompok usia 50 hingga 64 tahun. Untuk itulah, vaksinasi influenza tahunan disarankan diberikan kepada anak-anak, mulai usia 6 bulan. Vaksin berperan sebagai tindakan pencegahan utama untuk mengurangi kasus kematian dan rawat inap yang disebabkan virus influenza, serta penularan kepada usia lansia yang mungkin serumah dengan anak.

“Peralihan ke vaksin influenza trivalen disesuaikan dengan memperkuat perlindungan pada strain yang relevan, termasuk pada anak. IDAI merekomendasikan vaksin flu mulai dari usia 6 bulan. Pada umur 6 bulan sampai 8 tahun, imunisasi pertama sebanyak 2 dosis dengan jarak minimal 4 minggu, lalu diulang 1 kali setiap tahun. Sedangkan, untuk anak usia di atas 9 tahun, imunisasi pertama cukup diberikan satu dosis, lalu juga diulang setiap tahunnya,” tambah Kanya.

Kanya menambahkan, virus influenza juga berkontribusi sebagai penyebab nomor tiga dari seluruh kasus pneumonia. Di Indonesia, pneumonia dan diare masih menjadi penyebab angka kesakitan dan kematian terbanyak bawah usia tiga tahun dan lima tahun.

“Ingat, membangun seorang anak itu seperti membangun sebuah rumah. Fondasinya apa? Nutrisi. Dinding-dinding tembok, jendelanya apa? Stimulasi, ajak bermain, kasih sayang. Atapnya apa? Imunisasi. Mau fondasinya sebagus apapun, dindingnya semewah apapun, kalau atapnya nggak ada, bolong. Kalau hujan? Banjir. Jadi proteksinya harus optimal,” tambahnya.

Semi wajib

Dihubungi terpisah, Epidemiolog dan Ahli Keamanan Kesehatan Global (CEPH Griffith Australia/Strategic Pandemic Preparedness Advisor) Dicky Budiman mengatakan, transisi penggunaan vaksin influenza kuadrivalen ke vaksin influenza trivalen bukan sekedar isu teknis. Transisi ini sekaligus menjadi bagian dari strategi efisiensi program imunisasi yang berbasis bukti saintifik.

“Tapi perlu diketahui, dipahami bahwa ini namanya conditional recommendation, artinya ya tetap bergantung pada surveillance virologi global. Kalau misalnya Yamagata re-emerge, ya kebijakannya bisa berubah lagi,” ujarnya.

Menurut Dicky, harga vaksin influenza trivalen berpotensi untuk lebih murah. Namun, cakupan vaksinasi tak hanya ditentukan oleh harga, melainkan juga aksesibilitas, rekomendasi tenaga kesehatan, persepsi risiko dari masyarakat, kebijakan pembiayaannya semisal ada subsidi atau ditanggung oleh JKN, dan ketersediaan vaksin produksi lokal.

“Saya melihat di negara lain penurunan harga saja, sebetulnya dampaknya hanya meningkatkan cakupan paling tinggi 20 persenan ya, kurang lebih. Kecuali ada intervensi sistemik. Misalnya apa? Literasinya ya dengan komunikasi risiko yang kuat, pembiayaan publik juga termasuk bahwa kelompok berisiko itu wajib. Artinya kalau wajib kan ditanggung,” tambah Dicky.


Saat ini, vaksin influenza di Indonesia belum termasuk program imunisasi nasional rutin dan masih bersifat opsional. Menurut Dicky, estimasi terkini cakupan vaksinasi influenza diperkirakan kurang lebih 2 persen atau sekitar 5-15 persen pada kelompok seperti tenaga kesehatan, komorbid, dan lansia. Cakupan vaksinasi ini sangat bergantung pada fasilitas kesehatan swasta, kemampuan bayar individu, dan kesadaran masyarakat .

Sebagai gambaran, di Australia, cakupan vaksin influenza, bisa mencapai 70 persen pada kelompok lansia. Studi terbaru menunjukkan vaksin influenza itu efektif untuk menurunkan biaya kesehatan terutama pada kelompok risiko dan mengurangi potensi rawat inap dan beban sistem kesehatan. Dicky mengatakan, pendekatan vaksinasi influenza semi wajib bisa dipertimbangkan, terutama bagi kelompok berisiko seperti tenaga kesehatan, lansia, jamah haji atau umroh, dan penderita komorbid.

“Walaupun pertimbangan-pertimbangan tadi mengarah pada kecenderungan kuat untuk disarankan untuk dijadikan vaksinasi yang masuk dalam program, tapi kecil kemungkinan sebetulnya dalam waktu dekat vaksin influenza jadi wajib di Indonesia. Karena apa? Karena beban fiskal kita tinggi, prioritas masih pada imunisasi dasar dan penyakit endemis,” kata Dicky.





Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Naik MRT, LRT dan Transjakarta Hari Ini 24 April Cuma Rp1, Ini Syaratnya
• 21 jam lalubisnis.com
thumb
Peringati 3 Dekade AMARAH, Ribuan Mahasiswa UMI Gelar Aksi Besar
• 18 jam laluharianfajar
thumb
Kemenhan sebut Praka Rico gugur setelah jalani perawatan medis
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Kemarin, dapil khusus IKN hingga Menhan bertemu purnawirawan TNI
• 19 menit laluantaranews.com
thumb
Bareskrim Tetapkan Pendakwah SAM Jadi Tersangka Dugaan Pelecehan Santri
• 19 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.