Cara ”Gamer” Cegah Predator Siber Memangsa Anak Mereka

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Lima siswa sekolah menengah pertama duduk mengitari meja di sebuah minimarket di Jakarta Timur, Kamis (2/4/2026). Sebanyak empat di antaranya memegang ponsel dengan posisi horizontal, jemari bergerak, dan mata hanya fokus ke layar ponsel. Keempatnya sedang bertarung dalam sebuah gim daring tembak-tembakan, dua pemain versus dua pemain.  

Usai mengunci kemenangan, salah satu anak bernama Isnain (15) menunjukkan fitur komunikasi dalam gim itu. Ia membuka halaman perpesanan antarpemain yang sekilas mirip kolom komentar di media sosial. “Kayak gini, Om, bisa nyari temen juga di sini,” kata pelajar kelas IX ini sambil menggulirkan pesan-pesan ke arah bawah. 

Lalu, muncul pesan berbunyi ”-1cwo kls 6”. Isnain dan kawan-kawan kompak meyakini bahwa akun itu mencari anak laki-laki kelas VI sekolah dasar (SD). “Mungkin cewek kelas 6 nyari cowok kelas 6 juga,” ujar Isnain. 

Namun, siapa bisa memastikan pengirim pesan merupakan anak perempuan kelas VI SD? Dengan topeng anonimitas, siapa saja, umur berapa saja, bisa mengirim pesan semacam itu. Predator seksual tak terkecuali.  

Sebagai gambaran, Kepolisian Resor Kota Bandara Soekarno-Hatta pada akhir 2023 menangkap lima orang karena terkait jaringan internasional perdagangan konten seksual anak.  

Sebanyak delapan anak laki-laki asal Indonesia teridentifikasi sebagai korban, dengan rentang usia 12-16 tahun. Modusnya, pelaku berkenalan, main gim daring bersama, dan memberi hadiah agar korban mau dilibatkan membuat konten seksual (Kompas.id, 26/2/2024).    

Baca JugaLewat Gim Daring, 8 Anak Jadi Korban Video Pornografi
Orang tak dikenal 

Sementara itu, berkenalan dan berinteraksi dengan orang asing sudah amat lumrah bagi Isnain dan kawan-kawan. Mereka tidak kaget lagi jika tiba-tiba kata kasar meluncur dari teman mabar (main bareng) yang belum pernah mereka jumpai. “Paling saya kata-katain balik,” ucap Isnain terkekeh. 

Namun, interaksi semacam itu adalah tanda bahaya. Investigasi Kompas mengungkap, fitur pesan dalam gim daring memungkinkan orang asing berkenalan dengan anak, sehingga fitur itu menjadi sarang predator anak mencari korban kekerasan seksual.  

Polanya, pelaku berinteraksi dengan anak dalam gim daring yang menyediakan fitur berkirim pesan. Setelah bermain bersama dan berkomunikasi intens dalam gim, pelaku mengajak korban berkomunikasi di luar gim, yakni lewat aplikasi perpesanan. Rayuan dan bujukan pelaku berlanjut dengan kekerasan seksual kepada anak. 

Kompas bertanya pada dua penggemar gim, M Andung Muntaha serta Indra Wahyu Hutomo, terkait temuan itu. Karena bermain gim setiap hari, mereka sepakat bahwa ada risiko yang mengintai di balik permainan siber yang menyediakan sarana komunikasi. Bahkan, mereka sudah melarang anak-anak mereka memainkan gim yang punya fitur obrolan antarpemain sebelum liputan investigasi Kompas terbit. 

Bahkan, banyak anak yang bahasanya juga udah enggak bisa dikontrol. Aku enggak mau anakku kayak gitu.

Baca JugaPredator Cari Mangsa di Fitur Obrolan Gim Daring

“Saya setuju dengan pembatasan akses ke platform digital buat anak yang belum 16 tahun,” ucap Andung di rumahnya, di Pamulang, Tangerang Selatan, Rabu (22/4/2026). Ia merujuk pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).   

Berdasarkan aturan itu, anak berusia di bawah 16 tahun tidak boleh mengakses platform berisiko tinggi. Salah satu penentu adanya risiko tinggi ialah jika platform memiliki fitur komunikasi antarpengguna. Sejumlah gim punya fitur tersebut. 

Selengkapnya tentang PP Tunas, pembaca bisa menyimak wawancara khusus Kompas dengan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid berikut ini.

Larangan ke anak

Andung dan Indra adalah sahabat sejak masa sekolah menengah atas (SMA) di Magelang, Jawa Tengah. Mereka berbagi banyak kesamaan: tahun ini mereka berusia 35 tahun, mereka punya putri berusia 9 tahun, mereka mencintai gim daring, tetapi juga sangat memelototi gim-gim yang diakses putri mereka. “Aku sebagai orangtua gak boleh kecolongan,” ucap Indra.  

Indra mengatakan, anaknya Aruna (9) rata-rata bermain gim tiga jam per hari pada Senin-Jumat, serta bisa lima jam per hari pada Sabtu dan Minggu. Namun, Aruna hanya boleh memainkan gim yang sudah disetujui orangtuanya.  

Pekerja lepas bidang keuangan itu bercerita, ia melarang Aruna bermain Roblox sejak setahun lalu. Padahal, putrinya baru enam bulan menikmati gim yang memungkinkan penggunanya mengkreasikan permainan sendiri di dalam platform itu.  

Indra setuju bahwa Roblox bermanfaat melatih kreativitas anak. Namun, ia tidak mau ambil risiko, terutama akibat makin banyaknya orang dewasa yang ikut main. Ia kerap menemukan perkataan yang belum pantas dilihat atau didengar Aruna.

“Bahkan, banyak anak yang bahasanya juga udah enggak bisa dikontrol. Aku enggak mau anakku kayak gitu,” kata lulusan strata satu (S-1) manajemen Universitas Terbuka ini.  

Baca JugaPredator Anak Bersampul Teman Main ”Game”
Baca JugaGim hingga AI, Ladang Eksploitasi Predator Anak

Untuk memastikan Aruna aman, Indra lebih sering mabar dengan anaknya. Mereka gonta-ganti gim, sesuai dengan yang sedang tren. Keduanya saat ini memainkan gim bergenre turn-based role-playing games (RPG). Pemain dan lawan bergiliran dalam menjalankan strategi menyerang atau bertahan.  

Seperti Indra, Andung sejak akhir 2025 melarang Andini (9), anaknya, untuk memainkan Roblox. Bahkan, ia dan istrinya sebenarnya sudah berniat menyetop akses anak ke Roblox jauh sebelumnya, karena beredar kabar di media sosial tentang dampak negatif pada sejumlah anak. Fokus Andini di sekolah juga mulai terganggu. 

“Cuma respon dia kayak reluctant banget. Waktu itu dia lagi senang-senangnya main (Roblox) sama teman-temannya yang di depan ini (teman satu kompleks perumahan). Kan, seumuran,” kata konsultan teknologi informasi ini. Akhirnya, Andini sempat bermain Roblox dalam rentang setahun, tetapi dengan syarat fitur percakapan dinonaktifkan. 

Andung mengomunikasikan risiko-risiko dalam gim sehingga Andini pelan-pelan paham. Ketika pemerintah melontarkan rencana memblokir Roblox, Agustus 2025, Andung seperti mendapat tambahan kekuatan untuk menutup akses putrinya ke gim itu. Untungnya, Andini mengerti dan mau beralih ke gim lain yang lebih aman.  

Pihak Roblox merespons kekhawatiran orangtua seperti Andung dan Indra. Vice President of Civility and Partnerships Roblox Tami Bhaumik saat berkunjung ke Jakarta, Selasa (14/4/2026), mengatakan, Roblox menyiapkan dua jenis akun berbasis usia: Roblox Kids untuk usia 5-12 tahun, dan Roblox Select untuk usia 13-15 tahun.

Keduanya diluncurkan Juni mendatang. Ini merupakan kelanjutan dari pekerjaan Roblox pada tahun ini yang mewajibkan pengecekan usia berbasis verifikasi wajah untuk mengakses fitur percakapan.   

Kini, Andini memainkan sebuah gim yang berisi permainan peran dan simulasi kehidupan. Andung mengeluarkan biaya untuk gim itu. Menurut pemilik gelar magister dari KTH Royal Institute of Technology, Swedia ini, gim gratisan bakal membuat putrinya terpapar iklan-iklan. Ia khawatir iklan yang tidak cocok untuk anak juga tayang. 

Andung selalu berusaha menjelaskan ke Andini tentang pembatasan-pembatasan yang dibuatnya. Ini agar kelak Andini menjadi individu otonom yang sepenuhnya bisa memutuskan mana benar dan mana salah. 

Baca JugaPaedofil Penghancur Masa Depan Anak

Tips untuk orangtua 

Sebagai seorang gamer, Andung berbagi tips bagi para orangtua agar anak tetap bisa bermain gim tetapi terlindungi dari segala risiko, termasuk predator seksual. Tipsnya bisa disimak dalam video ini. 

Adapun Indra menekankan pada anaknya bahwa gawai yang dipakai untuk berselancar di internet bukan punya anak, melainkan orangtua. Dengan demikian, anak paham jika ada pembatasan-pembatasan karena mereka hanya berstatus sebagai peminjam gawai. 

Indra juga menggunakan akun yang sama untuk mengakses gawai yang sehari-hari digunakannya serta gawai yang dipakai anak. Jika ada aplikasi yang diunduh anak tanpa persetujuannya, notifikasi muncul di surel Indra. 

Selain itu, Indra terus memantau kondisi anaknya dari hari ke hari. Jika Aruna mulai marah-marah karena terus kalah dalam gim, ia meminta anaknya stop bermain dulu. “Enggak ngelarang untuk seterusnya main, tapi istirahat dulu. Itu berarti waktunya istirahat agar pikiran tenang dulu,” ucapnya. 

Apa yang dilakukan Andung dan Indra sesuai dengan rekomendasi Manajer Perlindungan dan Partisipasi Anak Wahana Visi Indonesia (WVI) Satrio Rahargo. Ia meminta orangtua rajin membangun ikatan dengan anak lewat komunikasi sehari-hari.

Satrio mengingatkan, anak menghadapi dampak yang sangat berat jika sampai menjadi korban kekerasan seksual, seperti dijelaskannya dalam video berikut ini.

Orangtua mesti tahu anak-anak berinteraksi dengan siapa, baik di dunia nyata maupun maya. “Enggak masalah juga kalau orangtua mabar dengan anak. Ini bagian dari upaya kita menyelami, seperti apa sih dunia yang dihadapi oleh anak-anak,” kata Satrio. 

Saya setuju dengan pembatasan akses ke platform digital buat anak yang belum 16 tahun.

Indonesia pasar ”game”

Indonesia jadi negara dengan konsumen gim daring terbesar keempat dunia. Ini berdasarkan data olahan Tim Jurnalisme Data Kompas berikut.

Di antara ratusan juta pemain itu, pasti ada anak-anak. Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia 2025, sebanyak 12,68 persen dari responden kelahiran 1997-2012 (generasi Z) mengaku sebagai gamers. Responden yang lahir pada 2009-2012 saat ini tergolong masih berusia anak-anak. 

Merujuk data tersebut, tidak heran jika kemudian predator seksual juga mengeksploitasi kerentanan dalam gim daring untuk memangsa anak. Masuk akal jika Andung dan Indra, meski mencintai gim daring, melarang anak memainkan gim yang dilengkapi fitur chat antarpemain.

Serial Artikel

Gim hingga AI, Ladang Eksploitasi Predator Anak

Investigasi ”Kompas” menemukan, predator melakukan kekerasan seksual anak melalui gim hingga AI di ruang siber. Korban terteror, larut dalam trauma berkepanjangan.

Baca Artikel


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tabrak Beruntun di Tanggul Jember, Dua Pelajar Tewas di Tempat
• 22 jam lalurealita.co
thumb
Tiga jenama emas di Pegadaian Jumat pagi ini serempak turun harga lagi
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Big Match Persib vs Arema FC, Hodak: Kami Tak Punya Tekanan
• 12 jam lalumedcom.id
thumb
Majikan Kejam, Dua Pekerja Rumah Tangga Loncat dari Lantai Empat Rumah Indekos di Benhil
• 9 jam lalukompas.id
thumb
Deretan Fasilitas Gratis di Bandara Madinah Ini Manjakan Jamaah Haji Lansia
• 3 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.