Bos PepsiCo Bicara Target Bebas Deforestasi hingga Tumpang Sari Sawit di Kutai

katadata.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Perusahaan makanan dan minuman multinasional PepsiCo menyatakan tetap pada komitmennya agar rantai pasoknya -- khususnya untuk komoditas-komoditas berisiko tinggi -- bebas dari deforestasi dan konversi lahan natural pada 2030. Dikenal sebagai produsen minuman bersoda Pepsi, Pepsico juga adalah produsen beragam produk camilan populer seperti Lays, Doritos, atau Cheetos. 

“Kami memiliki target yang jelas untuk 2030, dan kami bekerja sama dengan berbagai organisasi, khususnya pemasok tingkat pertama (tier one suppliers), agar mereka juga bekerja dengan para pemasok mereka untuk memastikan tidak terjadi deforestasi dalam rantai pasok kami," kata Chief Sustainability Officer PepsiCo Global Jim Andrew dalam wawancara di Jakarta, Jumat (24/4). 

Menurut Jim, perusahaan juga terus berupaya untuk memastikan bahan bakunya bersumber dari lahan yang menerapkan pertanian regeneratif -- praktek pertanian yang mendukung pemulihan dan peningkatan kesehatan ekosistem.

Dalam kunjungannya ke Indonesia kali ini, Jim bercerita bahwa dirinya sempat berkunjung ke perkebunan sawit dalam rantai pasok PepsiCo di Kutai, Kalimantan Timur. Perkebunan itu disebutnya sebagai contoh pertanian regeneratif yang berdampak positif pada ekonomi petani. 

“(Perkebunan ini) menunjukkan bagaimana organisasi yang bekerja sama dengan kami membantu petani menerapkan tumpang sari kakao dengan kelapa sawit, sehingga mereka memiliki sumber pendapatan tambahan dari kakao,” ujarnya.

Jim mengatakan ada sekitar 300 ribu petani yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam rantai pasok PepsiCo. Perusahaan memiliki keterbatasan untuk memantau seluruhnya. Karena itu, perusahaan bekerja sama dengan mitra-mitra lokal untuk pendampingan petani.

Selain soal pertanian regeneratif, Jim bercerita soal program restorasi lahan, salah satunya di Kecamatan Telunggun, Aceh. Meski berada di kawasan yang terdampak banjir dan longsor di Sumatra pada akhir tahun lalu, wilayah ini disebut tidak mengalami dampak signifikan.

Menurut Jim, kawasan yang telah direstorasi memiliki kondisi tanah yang lebih sehat dan pengelolaan air yang lebih baik, sehingga lebih tangguh menghadapi risiko bencana. “Kami bersyukur mengetahui area tersebut, apa pun alasannya, terdampak lebih sedikit dibanding area lainnya,” kata dia.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Di Balik Aturan 37,5 Jam: Beban Kerja Guru yang Sering Disalahpahami
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Ikan Kian Kerdil, Masa Depan Meja Makan Kita Terancam: Inilah Temuan Mengerikan dari James Cook Univ
• 6 jam lalurepublika.co.id
thumb
Persiapan Pemilu 2029, KPU Se-Indonesia Tinjau Progres Pembangunan IKN
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
Video: Rupiah Masih Lesu dan IHSG Ambles Lebih Dari 3% ke Level 7.100
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Gempa M5,1 Guncang Maluku Utara, BMKG Pastikan Tak Potensi Tsunami
• 6 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.