Lowongan Fresh Graduate di Jepang Menyusut, Kok Bisa?

viva.co.id
12 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah pola perekrutan tenaga kerja di Jepang. Semakin banyak perusahaan besar di negara tersebut berencana mengurangi jumlah perekrutan fresh graduate untuk tahun fiskal 2027, meskipun Jepang masih menghadapi masalah kekurangan tenaga kerja.

Survei Kyodo News terhadap 111 perusahaan besar menunjukkan adanya perubahan tren setelah pandemi Covid-19. Jika sebelumnya perusahaan agresif merekrut lulusan baru, kini banyak yang mulai beralih ke solusi digital seperti AI untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional.

Baca Juga :
Perang Iran vs Israel-AS Ganggu Ekonomi, Jepang Waspadai Ledakan Harga Bensin
AI Bikin Lowongan Kerja Lulusan Baru Menyusut, Fresh Graduate Ketar-ketir

Dalam survei yang dilakukan pada pertengahan Maret hingga awal April 2026, sebanyak 23 persen atau 25 perusahaan menyatakan akan mengurangi jumlah perekrutan fresh graduate mulai April 2027. Angka ini naik 11 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebaliknya, hanya 16 persen atau 18 perusahaan yang menyatakan akan menambah perekrutan lulusan baru. Ini menjadi pertama kalinya dalam lima tahun terakhir jumlah perusahaan yang berencana mengurangi rekrutmen lebih besar dibanding yang ingin menambah.

Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran strategi ketenagakerjaan di Jepang, terutama karena digitalisasi mulai menggantikan banyak pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga manusia.

Salah satu alasan utama perusahaan memangkas perekrutan fresh graduate adalah efisiensi kerja melalui digitalisasi. Perusahaan seperti Murata Manufacturing Co. menyebut peningkatan efisiensi operasional, termasuk penggunaan AI generatif, menjadi alasan utama pengurangan tenaga kerja baru.

Selain itu, ketidakpastian ekonomi akibat krisis Timur Tengah juga turut memengaruhi keputusan bisnis perusahaan-perusahaan besar Jepang. Di sisi lain, perusahaan mulai membuka lebih banyak peluang untuk pekerja asing dan tenaga kerja berpengalaman atau mid-career hire.

Sebanyak 39 persen perusahaan, termasuk Fujifilm Holdings dan operator restoran Skylark Holdings, menyatakan akan meningkatkan perekrutan pekerja asing untuk posisi di Jepang. Langkah ini dilakukan karena perusahaan berharap tenaga kerja asing dapat mendorong inovasi sekaligus membantu ekspansi bisnis ke pasar luar negeri.

Sementara itu, perekrutan pekerja berpengalaman juga semakin diminati karena perusahaan membutuhkan talenta yang siap kerja, khususnya di bidang digital. "Hitachi Ltd. dan MUFG Bank bahkan menyebut jumlah perekrutan fresh graduate pada tahun fiskal 2027 akan lebih sedikit dibanding jumlah perekrutan tenaga kerja berpengalaman pada tahun fiskal 2026,"  laporan Mainichi, sebagaimana dikutip pada Sabtu, 25 April 2026.

Baca Juga :
China Waspada Penuh Usai Jepang Longgarkan Ekspor Senjata: Tokyo Hidupkan 'Mesin Perang'
China soal Latihan Militer Besar-besaran AS-Filipina dan Jepang: Asia Pasifik Butuh Perdamaian
Jepang Keluarkan Peringatan Gempa Susulan M 8,0 Aman atau Tidak untuk Traveling Saat Ini?

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PSM U-16 Kalah Tipis 1-2 dari Madura United U-16
• 4 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Soroti Sisi Sensitivitas Perempuan, Aveeno Rilis Kampanye buat Saling Menguatkan
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Belanja Hemat di Transmart, Pakai Allo Paylater Diskon 20%
• 5 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Persija Benarkan 4 Pemainnya Dipanggil ke Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026
• 1 jam lalubola.com
thumb
Bertahan di tanah leluhur, berdamai dengan lumpur
• 11 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.