Rupiah Terjaga dan Aman, BI Ambil Sikap Hati-hati

wartaekonomi.co.id
12 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global, termasuk penguatan dolar AS dan dampak krisis energi.

Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari menilai bahwa kebijakan itu tepat jika dilihat dari pendekatan counterfactual, yakni membandingkan kondisi jika BI mengambil kebijakan berbeda.

“Seandainya BI memangkas suku bunga kemarin, mata uang akan lebih lemah hari ini, bukan? Jadi, dari perspektif itu, penting bagi BI untuk setidaknya menjaga suku bunga BI tidak berubah kemarin. Jadi, dari perspektif itu, saya yakin BI telah melakukan hal yang benar,” ujarnya dalam HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook Q2 2026, Kamis (23/4/2026).

Meski begitu, ia menekankan bahwa stabilitas rupiah tidak hanya ditentukan oleh suku bunga, tetapi juga dipengaruhi faktor eksternal seperti neraca transaksi berjalan dan arus modal masuk. Kini, defisit transaksi berjalan Indonesia tercatat relatif rendah, yakni 0,1% terhadap produk domestik bruto (PDB), turun signifikan dari sebelumnya yang mencapai 2,5%.

Meski begitu, tekanan dari sektor energi global berpotensi mendorong defisit tersebut naik hingga mendekati 1% dari PDB.

“Bahkan 1% dari PDB tidaklah sangat lebar. Yang penting bagi Indonesia adalah mampu menarik aliran modal masuk yang cukup banyak untuk mendanai defisit transaksi berjalan,” kata Pranjul.

Aliran modal yang menjadi perhatian terdiri dari investasi jangka pendek di pasar keuangan serta investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) yang bersifat jangka panjang. Di tengah kondisi ini, arus FDI dinilai cenderung melemah sehingga persaingan antar negara berkembang untuk menarik investasi semakin ketat.

Baca Juga: Bank Indonesia Siapkan New BI-Fast untuk Mudahkan Transfer Uang ke Luar Negeri

“Ini akan menjadi tahun yang sulit karena umumnya di tahun-tahun ketika ada begitu banyak ketidakpastian ekonomi, FDI tidak sangat kuat di mana pun di dunia,” ujarnya.

Nantinya, jika krisis ini mulai berakhir dan dollar mulai melemah di masa depan, Pranjul menilai hal itu dapat menjadi katalis positif bagi rupiah.

“Jika pada suatu titik krisis energi mulai berakhir, mendekati resolusi, dan jika dolar mulai melemah sedikit, itu juga akan memberikan dukungan bagi rupiah,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sempat Dibantah, Syekh Ahmad Al Misry Resmi jadi Tersangka Kasus Pelecehan Seksual Sesama Jenis
• 23 jam lalucumicumi.com
thumb
Daftar Ban yang Bisa Bikin Kendaraan Jadi Hemat Bahan Bakar
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
GoPay Tembus 26 Juta Pengguna, Gaspol Permudah Akses Keuangan Murah
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kebiasaan Dilakukan Orang yang Disukai Banyak Orang Menurut Ahli
• 23 jam lalubeautynesia.id
thumb
Satgas PRR rehabilitasi ribuan hektare sawah terdampak bencana
• 12 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.